Maaf, Anda mengaktifkan Adblock pada browser anda!
Atau anda tidak mengaktifkan Javascript![ ? ]

Asal usul Betawi

Kata Betawi berasal dari kata “Batavia” (nama lama kota Jakarta pada masa Hindia Belanda),  karena lidah Melayu maka terucap sebagai “Betawi”. Pemakaian nama “Batavia” oleh penjajah dikarenakan mereka ingin memperluas wilayah, dan ingin mendekatkan perasaan mereka pada tanah air mereka yang jauh.

“Batavia is the Latin name for the land of the Batavians during Roman times. This was roughly the area around the city of Nijmegen, Netherlands, within the Roman Empire. The remainder of this land is nowadays known as Betuwe. During the Renaissance, Dutch historians tried to promote these Batavians to the status of “forefathers” of the Dutch people. They started to call themselves Batavians, later resulting in the Batavian Republic, and took the name “Batavia” to their colonies such as the Dutch East Indies, where they renamed the city of Jayakarta to become Batavia from 1619 until about 1942,

Batavia merupakan nama Latin untuk tanah Batavia pada zaman Romawi. Perkiraan kasarnya berada sekitar kota Nijmegen, Belanda, dalam Kekaisaran Romawi. Sisa lahan ini kini dikenal sebagai Betuwe. Selama Renaisans, sejarawan Belanda mencoba untuk mempromosikan Batavia menjadi sebuah status “nenek moyang” dari orang-orang Belanda. Kemudian mereka mulai menyebut diri Orang-orang atau penduduk Batavia, kemudian hal tersebut mengakibatkan munculnya Republik Batavia, dan mengambil nama “Batavia” untuk koloni mereka seperti Hindia Belanda, di mana mereka mengganti nama menjadi dari Kota Jayakarta menjadi Batavia dari 1619 sampai sekitar 1942.

Mengacu pada teori Lance Castles, Dr. Yasmine Zaki Shahab, M.A. pakar anthropologis dari Universitas Indonesia memperkirakan etnis Betawi baru terbentuk  antara tahun1815-1893. Perkiraan ini didasarkan atas studi sejarah demografi penduduk Jakarta yang dirintis sejarawan Australia, Lance Castle. Di zaman kolonial Belanda, pemerintah selalu melakukan sensus, yang dibuat berdasarkan bangsa atau golongan etnisnya. Dalam data sensus penduduk Jakarta tahun 1615 dan 1815, terdapat penduduk dari berbagai golongan etnis, tetapi tidak ada catatan mengenai golongan etnis Betawi. Hasil sensus tahun 1893 menunjukkan hilangnya sejumlah golongan etnis yang sebelumnya ada. Misalnya saja orang Arab dan Moor, orang Melayu, orang Bali, Jawa, Sunda, orang Sulawesi Selatan, orang Sumbawa, orang Ambon dan Banda. Kemungkinan kesemua suku bangsa Nusantara dan Arab Moor ini dikategorikan ke dalam kesatuan penduduk pribumi (bahasa Belanda: inlander) di Batavia yang kemudian terserap ke dalam kelompok etnis Betawi.

Kemudian penggunaan kata Betawi sebagai sebuah suku yang pada masa hindia belanda, diawali dengan pendirian sebuah organisasi yang bernama Pemoeda Kaoem Betawi yang lahir pada tahun 1923. Komunitas Betawi antara lain Forum Betawi Rempug, Betawi Tugu. Tokoh-tokoh legendaris antara lain Pitung dari Marunda. Tokoh Betawi yang terkenal adalah: Muhammad Husni Thamrin – pahlawan nasional ,namanya diabadikan menjadi nama jalan.
Ismail Marzuki – pahlawan nasional, musisi
—–
Sedangkan tokoh tokoh Betawi sesudah kemerdekaan:
Benyamin Sueb, seniman Betawi multi talent
Ridwan Saidi – budayawan, politisi
Bokir – seniman lenong
Nasir – seniman lenong
Benyamin Sueb – artis
Nazar Ali – artis
Mandra – artis
Omaswati – artis
Mastur – artis
Mat Solar – artis
K.H. Noerali – pahlawan nasional, ulama
SM Ardan – sastrawan
Mahbub Djunaidi – sastrawan
Firman Muntaco – sastrawan
K.H. Abdullah Syafe’i – ulama
K.H. Abdul Rasyid Abdullah Syafe’i – ulama
Tutty Alawiyah A.S. – mubalighat, tokoh pendidik, mantan menteri
K.H. Zainuddin M.Z. – ulama
Deddy Mizwar – aktor, sutradara, tokoh perfilman
Nawi Ismail – sutradara, tokoh perfilman
Hassan Wirajuda – mantan menteri luar negeri
Ichsanuddin Noorsy – pengamat sosial-ekonomi, mantan anggota DPR/MPR
Helmy Adam – sutradara
Zen Hae – sastrawan, Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta
Zaidin Wahab – pengarang, wartawan
Surya Saputra – aktor, penyanyi
Abdullah Ali – mantan Dirut BCA
Alya Rohali – artis, mantan Putri Indonesia
Abdul Chaer – pakar linguistik, dosen UNJ
J.J. Rizal – sejarawan, penulis, pelaku penerbitan
Wahidin Halim – Walikota Tangerang
Ussy Sulistyowati – artis
Urip Arfan – aktor, penyanyi yang mirip Benyamin Suaeb
Akrie Patrio – komedian
Yahya Andy Saputra – pengarang
Balyanur Marga Dewa – pengarang
Bundari A.M. – arsitek, penulis
Suryadharma Ali – Menteri Agama

Rano Karno, aktor, Gubernur Banten 2015
Chairil Gibran Ramadhan – sastrawan
Warta Kusuma – mantan pesepak bola nasional
Mohammad Robby – pesepak bola nasional
Suryani Motik – tokoh IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia)
Edy Marzuki Nalapraya – mantan Wagub DKI, tokoh IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia)
Hasbullah Thabrany – guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *