Maaf, Anda mengaktifkan Adblock pada browser anda!
Atau anda tidak mengaktifkan Javascript![ ? ]

Temaram malam di Batavia


 

Seri Histo-Heritage Batavia

 

taken from: Kompas.com,15 Juni 2009

Kompas/Lasti Kurnia
Pemandangan di bekas Gedung Chatered Bank untuk kawasan Asia, Australia, dan East India yang berdiri akhir abad ke-19 diwaktu malam beberapa waktu lalu. Komunitas pencinta bangunan tua beberapa kali mengadakan wisata malam ke kawasan Kota Tua, antara lain ke bekas kantor bank ini.


 

TEMARAM MALAM DI BATAVIA

 

 

KOMPAS.com

Tempat-tempat hiburan malam yang terhitung berkelas baru mulai dikenal warga Jakarta pada awal era Orde Baru, akhir 1960-an. Salah satunya adalah La Cassa Cosindo, yang berlokasi di salah satu pojok Lapangan Merdeka alias Lapangan Monumen Nasional.

Salah satu penyanyi yang pernah tampil rutin menghibur pengunjung di sana adalah Ivo Nilakresna. Pada era LCC itu pula warga Jakarta mulai akrab dengan istilah hostess, perempuan yang bekerja sebagai teman bersantai kaum lelaki pengunjung kelab malam. “Kehidupan begini sudah berlangsung sejak dua tahun lalu,” demikian sepotong berita di sebuah harian Ibu Kota, akhir tahun 1970.

Khusus bagi kaum remaja era antara 1970 dan 1980-an, berbagai diskotek arena ajojing pun mulai bermunculan. Salah satunya yang paling kondang adalah Musro, di Hotel Borobudur di Lapangan Banteng. Kelab malam beken lain yang lahir di awal zaman Orba adalah Miraca Sky Club di Sarinah Jalan Thamrin, Restoran Ramayana, dan Nirwana Supperclub, kelab malam paling oke yang berlokasi di lantai puncak Hotel Indonesia.

Menonton dan berdansa
Kenyataan ini jauh berbeda dibanding masa sebelumnya. Pada tahun 1960-an, zaman Orde Lama, budaya kafe, diskotek, apa lagi panti pijat, sama sekali belum dikenal. Waktu itu yang jumlahnya lumayan cuma bioskop.

Miskinnya sarana hiburan juga dirasakan para mahasiswa. Menurut Firman Lubis, dokter senior yang belakangan rajin menulis sejarah, waktu ia masih jadi mahasiswa Universitas Indonesia tahun 1960-an, kegiatan hiburan utama yang ia lakukan tiap malam Minggu bersama teman-teman kuliah adalah menonton film di bioskop.

“Bahkan, menjelang 1965, peredaran film Amerika distop sama sekali. Sebagai gantinya, bioskop-bioskop Jakarta lebih banyak memutar film Rusia dan negara-negara sosialis lain di Eropa Timur, serta film China, Jepang, dan film nasional,” demikian Lubis dalam bukunya, Jakarta 1960-an (2008).

Bioskop-bioskop yang ada pun umumnya masih peninggalan zaman Belanda, seperti Garden Hall, Capitol, Grand, Globe, Rex, Cathay, Rivoli, sampai Mayestik di Kebayoran Baru.

Jenis hiburan lainnya adalah berdansa, yang dilakukan di ruang-ruang dansa yang ada di berbagai sudut kota. Menurut Lubis, menjelang 1965, kegiatan dansa-dansi ala Barat ini pun dilarang. Siapa yang tetap melakukannya bisa dituduh melakukan tindakan subversif, kontrev (kontra-revolusioner).

Menjemukan
Dalam buku Batavia Als Handels-, Industrie-, en Woonstad (Batavia Sebagai Kota Dagang, Industri, dan Permukiman), yang diterbitkan Pemerintah Kotapraja Batavia pada 1930-an, disebutkan, pada masa itu sering ada keluhan, hidup di Batavia, nama Jakarta waktu itu sangat menjemukan karena tak memiliki banyak tempat hiburan.

Salah satu dari sedikit tempat bersantai adalah Harmonie, kelab berusia lebih dari seabad, yang sampai masa itu memainkan peran penting dalam kehidupan sosial warga keturunan Eropa di Batavia.

Kemegahan Gedung Harmonie dan kemeriahan pesta yang sering diselenggarakan di sana digambarkan dengan baik oleh perwira Hindia Belanda, WA Rees, dalam tulisannya tentang pesta perayaan hari ulang tahun Ratu Belanda yang juga digelar di sana pada tahun 1940-an.

Pesta dansa dilangsungkan di Kelab Harmonie. Atas nama Gubernur Jenderal, Residen sudah mengirim 2.000 undangan kepada semua orang yang punya hubungan dengan pemerintah. Bagian depan gedung kelab dihiasi lentera-lentera China. Tiga dari empat aula yang saling berhubungan hanya dipisahkan oleh tiang-tiang dan lengkungan, dan membentuk sebuah ruang pesta raksasa,” cerita Rees dalam buku kenangannya, Herineringen van Een Indisch Officier.

Pada malam pesta, para tamu membawa para wanita pendamping ke ruang dansa yang kedua. Ratusan perempuan cantik sengaja didudukkan di tiga baris kursi yang diletakkan memanjang di depan dinding-dinding berhias. Sungguh pemandangan yang memesona! Semua tampak bersinar, termasuk para hadirin yang mengikuti pesta.

Kecuali menyediakan lantai dansa dan restoran, kelab atau societeit Harmonie juga memiliki fasilitas ruang baca, serta ruang biliar yang dapat dimanfaatkan oleh para anggotanya. Kaum pribumi Betawi mengenal gedung itu sebagai rumah bola.

Sebuah kelab lain yang usianya lebih muda adalah Militaire Societeit Concordia, yang didirikan pada sekitar tahun 1836 dan beranggotakan para perwira militer dan warga sipil. Fasilitasnya dibangun di Lapangan Banteng, yang pada masa itu masih disebut Lapangan Waterloo, Waterlooplein, di sebelah utara Istana Gubernur Jenderal yang sekarang jadi gedung Departemen Keuangan.

Gagasan membangun sebuah kelab bagi warga Batavia yang terhormat sudah muncul pada belahan kedua ke-18. Pada 1776 Gubernur Jenderal Reinier de Klerk mendukung pendirian Societeit de Harmonie yang berlokasi di Buiten Niewpoortstraat, sekarang Jalan Pintu Besar Selatan di kawasan Kota Tua.

Karena lingkungan Kota Batavia Lama makin tak sehat, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811) memindahkan pusat kota selatan, ke Weltevreden, daerah di sekitar Lapangan Banteng sekarang. Pada masa itu pula mulai dibangun Gedung Harmonie yang baru di sudut Rijswijkstraat dan Rijswijk, Jalan Majapahit dan Jalan Veteran sekarang.

Daendels amat mendukung proyek tersebut. Meski kondisi keuangan Pemerintah Hindia Belanda morat-marit, ia tetap meminta Balai Harta Peninggalan, Weeskamer, mengucurkan dana sebesar 75.000 atau 80.000 ringgit untuk memulai pembangunan. Untuk menambah anggaran, Gubernur Jenderal memerintahkan semua pegawai Hindia Belanda, baik sipil maupun militer, menjadi anggota kelab Harmonie.

Namun, pembangunan sempat tersendat setelah Daendels meninggalkan Batavia karena krisis keuangan dan invasi Inggris, 1811. Pembangunan Harmonie dilanjutkan pemerintah jajahan Inggris sampai selesai pada 1814. Peresmiannya dilakukan sendiri oleh Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles. Waktunya dipilih tanggal 18 Januari 1815, bertepatan dengan hari ulang tahun Ratu Charlotte, istri Raja Inggris George III.

Konon, peresmian dilakukan Raffles dengan membuang kunci pintu gedung itu ke Sungai Ciliwung yang mengalir di depannya. Maksudnya, sebagai perlambang agar pintu gedung Harmonie tak akan pernah ditutup lagi.

Hormonie ternyata berumur panjang dan tercatat sebagai kelab masyarakat Eropa di Asia yang tertua. Karena itu, banyak yang menyesali pembongkaran gedung Harmonie pada 1985, saat bangunan cagar budaya persis berumur 170 tahun.

Meski sarana hiburan masih sangat terbatas, namun gaya hidup warga Batavia relatif membaik dan lebih sehat setelah pusat kota dipindahkan ke Weltevreden, awal abad ke-19. Sebelumnya, di zaman VOC, sejak awal abad ke-17, Batavia merupakan permukiman kaum petualang barbar, yang hanya ada rumah-rumah bordil dan kedai minum. Para penduduknya yang kebanyakan pegawai dan serdadu kompeni dikenal sebagai para pemabuk yang doyan bertengkar dan bikin onar.

Menurut catatan sejarah, pada 1744 di sepanjang tepi Ciliwung, di dekat benteng VOC di Pasar Ikan, baru ada sekitar selusin kedai minum. Namun, jumlahnya meningkat pesat hingga mencapai lebih dari 100 pada tahun 1777. Kecuali arak Batavia, minuman keras lokal yang sudah diproduksi sejak zaman Jayakarta, kedai-kedai itu juga menyediakan minuman impor, sejak bir Belanda dan Inggris, sampai anggur Spanyol dan Afrika Selatan. (MULYAWAN KARIM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *