Maaf, Anda mengaktifkan Adblock pada browser anda!
Atau anda tidak mengaktifkan Javascript![ ? ]

Category Archives: Inspirasi

Perusahaan air Aqua pernah nyaris mati, ini ceritanya..

Akhirnya Tirto Utomo menjatuhkan ultimatum pada Aqua. Saat itu, menjelang Oktober 1977, seperti biasa Tirto mengumpulkan pimpinan PT Aqua Golden Mississippi, perusahaan Aqua, di Restoran Oasis miliknya di Jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat.

Agenda hari itu sangat genting, yakni memutuskan nasib Aqua. Sudah sekian lama kondisi Aqua memang tak kunjung sehat. Sejak pertama menjual air minum dalam botol pada 1 Oktober 1974, Aqua tak kunjung mendatangkan untung. Malah setiap bulan Tirto, pendiri dan pemilik Aqua, harus menombok dari kantongnya untuk membayar gaji karyawan.

Saat itu, kata Willy Sidharta, karyawan pertama dan mantan Direktur Utama Aqua Tirto menombok lumayan besar. “Sekitar Rp 5-6 juta setiap bulan,” kata Willy kepada detikXdua pekan lalu. Padahal segala cara sudah dilakukan Willy dan karyawan Aqua supaya bisa menjual air minum kemasan itu lebih banyak lagi. Pabrik Aqua di Bekasi sudah jadi rumah bagi Willy. Dia memboyong keluarganya tinggal dalam kompleks pabrik. Dan dia bekerja dari pagi hingga larut malam setiap hari.

Lantaran mesin pengolahan air di pabrik Aqua lebih banyak menganggur, Willy, yang kala itu menjabat kepala produksi, juga tak punya banyak pekerjaan. Ketimbang bengong menganggur, Willy dengan sukarela ikut membantu jualan Aqua. Dia menyetir sendiri pikap Mitsubishi milik Aqua dan berkeliling dari kampung ke kampung di Jakarta.

Tirto Utomo dan Willy Sidharta
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikX

Semula Willy tak percaya dengan informasi dari bagian penjualan bahwa tak ada orang Jakarta yang mau beli Aqua. Dia membuktikan sendiri dengan menawarkan contoh gratis Aqua. “Kami berikan contoh gratis untuk mencoba pun orang-orang tetap tak mau,” kata Willy.

Asia Salim, karyawan Aqua yang sudah bekerja di perusahaan itu selama 41 tahun, merasakan sendiri beratnya berjualan air minum botolan kala itu. Sama seperti Willy, Salim bekerja di bagian produksi. Tapi dia juga merangkap jadi tenaga penjualan. Kecuali orang-orang asing, kata Salim, kini supervisor water treatment di pabrik Aqua di Bekasi, tak ada warga Jakarta yang biasa beli dan minum “air putih” dalam botol.

“Waktu itu kan air dari sumur masih bagus,” Salim menuturkan. Seharian berjualan, dari 65 krat Aqua yang dia bawa, biasanya hanya laku 5 krat. Pembelinya masih terbatas di lingkungan orang-orang kaya dan ekspatriat. “Orang-orang belum percaya pada Aqua,” Willy menuturkan. Seretnya penjualan membuat keuangan Aqua babak-belur.

Di depan beberapa anak buahnya, Tirto menyampaikan kabar bahwa dia tak sanggup lagi terus-menerus menopang hidup Aqua. Jika tak memberikan untung juga, kata Tirto, dia akan menutup perusahaan itu per Januari 1978. Artinya, Aqua hanya punya umur tiga bulan lagi.

Kendati Tirto sudah memberikan batas waktu, menurut Willy, mereka belum mau lempar handuk, tanda menyerah. “Pak Tirto terus mengajak kami berdiskusi mencari jalan bagaimana menyelamatkan Aqua,” kata Willy. Di satu ruangan di Restoran Oasis, di tengah kepulan asap cerutu yang diisap Tirto, mereka berdiskusi dan berdebat menentukan masa depan Aqua. “Asap cerutu Pak Tirto menyebar ke mana-mana. Saya sampai kliyengan dan harus sering-sering keluar dari ruangan.”


Tirto Utomo, pendiri Aqua
Foto: dok. Aqua


Asia Salim, karyawan lama Aqua
Foto: Melisa Mailoa/detikcom

Barang kalau dijual terlalu murah kan kita malah curiga.”

Willy Sidharta, mantan Direktur Utama Aqua

Tirto menimbang-nimbang untuk menaikkan harga jual. “Bagian penjualan ditanya, jika harga naik segini, kira-kira penjualannya akan turun berapa?” Willy bercerita. Saat itu, satu botol Aqua dengan volume 950 mililiter dijual hanya Rp 75. Padahal saat itu produk sejenis di beberapa negara dijual sekitar US$ 1 atau Rp 350. Orang di bagian penjualan memperkirakan penjualan Aqua akan turun 30 persen.

Setelah dihitung-hitung, Tirto memutuskan harga Aqua 950 mililiter akan dijual Rp 175 atau US$ 0,5, naik hampir tiga kali lipat. Tak ada yang menyangka, keputusan nekat itu malah jadi penyelamat perahu Aqua yang hampir karam. Hingga Desember 1977, penjualan Aqua malah melompat tiga kali lipat. Willy menduga, dengan mendekati harga pasar, kepercayaan konsumen tumbuh. “Barang kalau dijual terlalu murah kan kita malah curiga,” Willy menjelaskan.

Sejak hari itu, grafik penjualan Aqua terus naik. Pasarnya juga terus melebar. Sementara semula hanya beredar terbatas di lingkungan orang asing di Jakarta, terutama di kalangan ekspatriat Jepang, sejak akhir 1970-an, Aqua sudah banyak dikenal warga lokal. Bahkan pada 1980-an, pasar lokal Aqua sudah melampaui penjualan di kalangan ekspatriat.

Apalagi dengan makin memburuknya kualitas air tanah di kota-kota besar di Indonesia, air minum dalam galon yang dirintis Aqua sejak 1975 sudah jadi minuman standar di rumah tangga perkotaan. Saat pertama dijual, Aqua belum punya tabung galon plastik seperti hari ini. Menurut Willy, mereka menjual Aqua dalam tangki yang dikemas menyerupai tabung es putar keliling. “Pelanggan pertama kami adalah Citibank,” kata Willy.

Entah mengapa, suatu kali, tabung air dingin yang dipasang Aqua di kantor Citibank dirubung semut. Pelanggan tentu mengajukan protes kepada Willy. Lantaran belum ada tabung plastik, manajemen Aqua memutuskan beralih ke tabung gelas. Mereka memanfaatkan tabung-tabung gelas bekas cuka. “Kami beli dari loakan…. Setiap hari saya berkeliling pasar loak mencari tabung cuka bekas. Untuk tutupnya, saya beli di Pasar Glodok lama,” kata Willy.

Pabrik Aqua
Foto: dok. Aqua

Asia Salim mengenang, mereka harus mencuci tabung-tabung gelas besar itu dengan air panas secara manual satu per satu. Air panas dimasukkan dalam tabung dan dikocok-kocok. “Kadang saya sampai pusing,” kata Asia. Belum lagi urusan distribusinya. Ketika itu, urusan distribusi air dalam galon kaca ini masih diurus sepenuhnya oleh Aqua.

Mengurus air dalam galon plastik saja sudah sulit, apalagi air dalam galon kaca yang rentan pecah. Salim pernah mengantarkan pesanan 200 galon Aqua ke Cilegon, kini di wilayah Provinsi Banten. Ternyata 200 galon air itu untuk mengisi kolam renang. Baru pada 1980, Aqua beralih ke galon plastik impor. Untuk menekan ongkos, Aqua mendirikan pabrik pembuatan galon plastik di Bekasi pada 1984. Itulah pabrik galon plastik pertama di Indonesia. Sekarang, air minum dalam galon jadi salah satu tumpuan pendapatan Aqua.

Pesaing lokal pertama Aqua adalah Oasis milik PT Santa Rosa Indonesia, yang meluncur ke pasar pada 1984. Sekarang ada banyak sekali merek lokal air minum dalam botol seperti Prim-a, Le Minerale, dan Aguaria. Namun Aqua tetap nomor satu. Di kelas botol kecil, persaingan di antara merek air minum kemasan ini benar-benar keras. Tapi, untuk pasar air dalam galon, posisi Aqua masih sangat kokoh. Pada 2014 saja, Aqua memproduksi 11 miliar liter air, terbesar di antara semua merek milik Danone, perusahaan Prancis yang menjadi pemegang saham terbesar Aqua sejak 2001.


Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

 

Dikutip dari https://x.detik.com/detail/intermeso/20170413/Aqua-Pernah-Nyaris-Mati/index.php

Kamis, 13 April 2017

Menikmati keindahan hidup sejati

Suatu kala, ada seorang yang cukup terkenal akan kepintarannya dalam membantu orang mengatasi masalah. Meskipun usianya sudah cukup tua, namun kebijaksanaannya luar biasa luas. Karena itulah, orang berbondong-bondong ingin bertemu dengannya dengan harapan agar masalah mereka bisa diselesaikan.

Setiap hari, ada saja orang yang datang bertemu dengannya. Mereka sangat mengharapkan jawaban yang kiranya dapat menjadi solusi bagi permasalahan yang sedang mereka hadapi. Dan hebatnya, rata-rata dari mereka puas akan jawaban yang diberikan. Tidak heran, kepiawaiannya dalam mengatasi masalah membuat namanya begitu tersohor.

Suatu hari, seorang pemuda mendengar pembicaraan orang-orang di sekitar yang bercerita tentang orang tua tersebut. Ia pun menjadi penasaran dan berusaha mencari tahu keberadaannya. Ia juga ingin bertemu dengannya. Ada sesuatu yang sedang mengganjal di hatinya dan ia masih belum mendapatkan jawaban. Ia berharap mendapatkan jawaban dari orang tua tersebut.

Setelah berhasil mendapatkan lokasi tempat tinggal orang tua itu, ia bergegas menuju ke sana. Tempat tinggal orang tua tersebut dari luar terlihat sangat luas bagai istana.

Setelah masuk ke dalam rumah, ia akhirnya bertemu dengan orang tua bijaksana tersebut. Ia bertanya, “Apakah Anda orang yang terkenal yang sering dibicarakan orang-orang mampu mengatasi berbagai masalah?”

Orang tua itu menjawab dengan rendah hati, “Ah, orang-orang terlalu melebih-lebihkan. Saya hanya berusaha sebaik mungkin membantu mereka. Ada yang bisa saya bantu, anak muda? Kalau memang memungkinkan, saya akan membantu kamu dengan senang hati.”

“Mudah saja. Saya hanya ingin tahu apa rahasia hidup bahagia? Sampai saat ini saya masih belum menemukan jawabannya. Jika Anda mampu memberi jawaban yang memuaskan, saya akan memberi hormat dan dua jempol kepada Anda serta menceritakan kehebatan Anda pada orang-orang,” balas pemuda itu.

Orang tua itu berkata, “Saya tidak bisa menjawab sekarang.”

Pemuda itu merengut, berkata, “Kenapa? Apakah Anda juga tidak tahu jawabannya?”

“Bukan tidak bisa. Saya ada sedikit urusan mendadak,” balas orang tua itu. Setelah berpikir sebentar, ia melanjutkan, “Begini saja, kamu tunggu sebentar.”

Orang tua itu pergi ke ruangan lain mengambil sesuatu. Sesaat kemudian, ia kembali dengan membawa sebuah sendok dan sebotol tinta. Sambil menuangkan tinta ke sendok, ia berkata, “Saya ada urusan yang harus diselesaikan. Tidak lama, hanya setengah jam. Selagi menunggu, saya ingin kamu berjalan dan melihat-lihat keindahan rumah dan halaman di luar sambil membawa sendok ini.”

“Untuk apa?” tanya pemuda itu dengan penasaran.

“Sudah, jangan banyak tanya. Lakukan saja. Saya akan kembali setengah jam lagi,” kata orang tua itu seraya menyodorkan sendok pada pemuda itu dan kemudian pergi.

Setengah jam berlalu, dan orang tua bijak itu pun kembali dan segera menemui pemuda itu.

Ia bertanya pada pemuda itu, “Kamu sudah mengelilingi seisi rumah dan halaman di luar?”

Pemuda itu menganggukkan kepala sambil berkata, “Sudah.”

Orang tua itu lanjut bertanya, “Kalau begitu, apa yang sudah kamu lihat? Tolong beritahu saya.”

Pemuda itu hanya diam tanpa menjawab.

Orang tua itu bertanya lagi, “Kenapa diam? Rumah dan halaman begitu luas, banyak sekali yang bisa dilihat. Apa saja yang telah kamu lihat?”

Pemuda itu mulai bicara, “Saya tidak melihat apa pun. Kalau pun melihat, itu hanya sekilas saja. Saya tidak bisa ingat sepenuhnya.”

“Mengapa bisa begitu?” tanya orang tua itu.

Sang pemuda dengan malu menjawab, “Karena saat berjalan, saya terus memperhatikan sendok ini, takut tinta jatuh dan mengotori rumah Anda.”

Dengan senyum, orang tua bijak itu berseru, “Nah, itulah jawaban yang kamu cari-cari selama ini. Kamu telah mengorbankan keindahan rumah yang seharusnya bisa kamu nikmati hanya untuk memerhatikan sendok berisi tinta ini. Karena terus mengkhawatirkan tinta ini, kamu tidak sempat melihat rumah dan halaman yang begitu indah. Rumah ini ada begitu banyak patung, ukiran, lukisan, hiasan dan ornamen yang cantik. Begitu juga dengan halaman rumah yang berhiaskan bunga-bunga warna-warni yang bermekaran. Kamu tidak bisa melihatnya karena kamu terus melihat sendok ini.”

Ia melanjutkan, “Jika kamu selalu melihat kejelekan di balik tumpukan keindahan, hidup kamu akan dipenuhi penderitaan dan kesengsaraan. Sebaliknya, jika kamu selalu mampu melihat keindahan di balik tumpukan kejelekan, maka hidup kamu akan lebih indah. Itulah rahasia dari kebahagiaan. Apakah sekarang sudah mengerti, anak muda?”

Pemuda itu benar-benar salut atas kebijaksaan dari orang tua itu. Ia sungguh puas dengan jawabannya. Akhirnya ia menemukan jawaban yang selama ini ia cari. Sebelum pergi, ia menepati janjinya dengan memberi hormat dan dua jempol kepada orang tua tersebut.

RENUNGAN : Dalam hidup ini, alangkah baiknya kita tidak menjerumuskan diri kita ke dalam keterpurukan. Selalu ada hal positif yang bisa kita ambil. Jangan mengorbankan keindahan hidup hanya untuk melihat sisi jeleknya. Jadilah orang yang senantiasa melihat setitik terang di dalam gelap.