Maaf, Anda mengaktifkan Adblock pada browser anda!
Atau anda tidak mengaktifkan Javascript![ ? ]

Category Archives: Tokoh

Kiprah Madeleine Albright,wanita tangguh dalam politik Amerika

Kiprah Albright di panggung politik Amerika

 albright
 Sejarah negara Amerika Serikat mencatat bahwa wanita pertama yang menjabat sebagai menteri luar negeri adalah Madeleine Albright.
Madeleine baru berusia 2 tahun ketika keluarganya harus mengungsi ke Inggris. Waktu itu Jerman menggabungkan Bohemia dan Moravia pada tahun 1939.Madeleine lulus dari sekolah menenfgah atas Kent Denver pada tahun 1955

 Eksistensi Madeliene Albright di dunia politik dimulai ketika ia diundang untuk mengorganisir acara makan malam untuk mengumpulkan dana bagi Senator Ed Muskie dari Maine di kampanye presiden pada 1972.
Albright lalu ditunjuk untuk menjadi asisten ketua legislatif Muskie enam tahun sesudahnya. Wanita yang meraih gelar sarjana ilmu politik dari Wellesley College ini bekerja di Gedung Putih sebagai penghubung kongres Konsul Keamanan Nasional atas tawaran oleh Brzezinski setelah mantan profesor Madeleine tersebut ditunjuk menjadi Penasehat Keamanan Nasional.

Sebagai pendukung partai Demokrat, pengetahuan Madeleine membuatnya memperoleh posisi sebagai penasehat politik luar negeri di partai tersebut. Ketika Presiden Bill Clinton terpilih pada 1992, Madeleine ditugaskan untuk menangani transisi ke pemerintahan baru di Konsul Keamanan Nasional. Presiden Clinton menugaskannya menjadi Duta Besar Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Pada 1996, mengomentari peristiwa seorang pilot militer Kuba menembak jatuh dua pesawat kecil sipil yang terbang diatas perairan internasional, Madeleine berkata, “Itu bukanlah tindakan seorang pemberani. Itu adalah tindakan pengecut.” Kalimat ini membuatnya semakin dekat dengan Presiden Clinton yang mengatakan bahwa itu “mungkin kalimat paling efektif dalam mencerminkan kebijaksanaan luar negeri pemerintahan ini”.

Ketika menjabat menjadi Sekretaris Negara ke-64, Madeleine memperkuat hubungan AS dengan para sekutunya, mendorong pelaksanaan demokrasi dan hak asasi manusia, dan mempromosikan bisnis dan perdagangan, tenaga kerja dan standar lingkungan Amerika di luar negeri. Walaupun menjabat sebagai Sekretaris Negara, namun karena tidak terlahir di kawasan Amerika, wanita yang menjadi warga negara Amerika pada tahun 1957 ini tidak dapat berada dalam daftar mereka yang dapat menjadi presiden seandainya terjadi sesuatu pada presiden yang sedang menjabat.Albright telah dikritik secara luas untuk komentarnya dalam sebuah wawancara pada 12 Mei 1996 dalam program televisi 60 Minutes. Dalam topik mengenai sanksi AS terhadap Irak, jurnalis  Leslie Stahl bertanya, “Kita telah mendengar bahwa setengah juta anak-anak telah meninggal. Itu lebih dari jumlah anak-anak yang tewas di Hiroshima. Apakah ini suatu harga yang pantas dibayar?”,Jawaban Albright sungguh mengejutkan, wanita ini menjawab, “Saya rasa ini adalah suatu pilihan yang sulit, namun hal tersebut kami rasa ia merupakan harga yang pantas dibayar.”

Selepas masa jabatannya sebagai Sekretaris Negara, Madeleine mendirikan Albright Group, firma konsultan strategi internasional dengan daftar klien seperti Coca Cola, Merck, dan Dubai Ports World. Madeleine menjabat sebagai salah satu Ketua Kehormatan organisasi nirlaba World Justice Project dan Ketua dewan penasehat untuk The Hague Institute for Global Justice.

Dalam wawancara yang diterbitkan majalah Newsweek International pada tanggal 24 Juli 2006, Madeleine mengatakan, “Saya harap saya salah, tapi saya takut Irak akan menjadi bencana terbesar kebijakan luar negeri Amerika – lebih parah daripada Vietnam.” Dia dianugrahi penghargaan Presidential Medal of Freedom oleh Presiden Barrack Hussein Obama pada bulan Mei 2012, penyesalan terbesar wanita yang fasih dalam enam bahasa ini ketika menjabat menjadi Duta Besar untuk PBB adalah tidak segera menghentikan pembersihan etnis di Rwanda.

Rumah tangga dan kehidupan pribadinya.

Ada kisah menarik tentang kehidupan nsehari-hari Madeleine. Saudara lelakinya bernama John mengaku kepada majalah Time bahwa Madeleine tidak tahu harus beli apa jika masuk ke toko peralatan dapur, karena tokoh ini memang tidak pernah memasak.

(Dari berbagai sumber)

 

 

Homer, penulis dan filsuf Yunani

 

HOMER

 

 

Berabad-abad lamanya berlangsung pertentangan pendapat mengenai hak cipta sajak-sajak Homer. Kapan, di mana, dan bagaimana Iliad dan Odyssey dicipta?.

Sampai seberapa jauh sajak itu bersandar pada komposisi sebelumnya? Apakah Iliad dan Odyssey disusun oleh orang yang sama? Betulkah salah satunya digubah oleh hanya satu penulis? Mungkin tak ada orang seperti Homer dan kedua sajak itu yang berkembang lewat proses penggabungan begitu lambat, ataukah memang disusun oleh sekelompok pengolah yang mencomotnya dari sebuah gabungan sajak-sajak yang ditulis oleh banyak ragam penyair. Para sarjana yang membuang waktu bertahun-tahun menyelidiki masalah ini tidak mencapai kata sepakat satu sama lain; lantas bagaimana bisa seseorang yang bukan sarjana ilmu klasik bisa tahu jawab yang semestinya? Tentu, saya sendiri tidak tahu jawabannya; meski begitu, untuk menentukan di mana Homer layak ditempatkan di daftar urutan buku ini, saya membuat perkiraan sebagai berikut..

Perkiraan pertama adalah, memang benar ada seorang penulis utama Iliad. (Alasannya, terlampau bagus jika karya itu disusun oleh sekelompok orang!). Pada abad-abad sebelum Homer, banyak sajak-sajak yang lebih pendek mengenai masalah yang sama digubah oleh penyair-penyair Yunani lain, dan Homer banyak mengambilnya dari karya mereka. Tetapi, Homer berbuat lebih jauh dari sekedar merakit Iliad dari sajak-sajak pendek yang sudah ada sebelumnya. Dia memilih, dia mengatur, dia menyempurnakan kata-kata dan menambahnya serta pada akhirnya melengkapinya menjadi hasil final dengan bakat sastranya yang genius. Homer, orang yang menghasilkan karya besar itu, mungkin hidup di abad ke-8 SM meski banyak catatan menganggap lebih awal dari itu. Saya juga memperkirakan bahwa orang yang sama merupakan penulis utama Odyssey. Meski argumen (berdasar sebagiannya dari perbedaan gaya) bahwa kedua sajak digubah oleh penulis-penulis yang berbeda punya kekuatan yang setara, secara keseluruhan persamaan diantara kedua sajak jauh lebih penting daripada perbedaan-perbedaannya..

Dari apa yang sudah dipaparkan, jelaslah sudah betapa sedikitnya bisa diketahui tentang ihwal Homer sendiri; dan memang tidak ada data biografis mengenai dirinya. Ada tradisi kuno yang teramat kokoh, berasal dari masa awal-awal Yunani, bahwa Homer itu buta. Tetapi, kehebatan yang tampak secara visual dari kedua sajak itu menunjukkan andaikata toh Homer itu buta, tidaklah butanya itu dibawa dari lahir. Bahasa yang digunakan dalam sajak itu menunjukkan bahwa Homer berasal dari Ionia, daerah sebelah timur laut Aegea..

Kendati tampaknya sudah percaya bahwa begitu panjang dan begitu cermat susunan suatu sajak dapat dicipta tanpa tulisan, banyak kaum cerdik pandai agaknya sepakat bahwa sajak-sajak itu paling sedikit bagian permulaannya dan mungkin malah seluruhnya, merupakan komposisi oral (lisan). Tidaklah pasti kapan sajak-sajak itu pertama kali tertuang ke dalam tulisan. Mempertimbangkan segi panjangnya (secara gabungan hampir berjumlah 28.000 bait), tampaknya agak sukar terbayangkan sajak-sajak itu bisa dipindahkan dengan begitu teliti kecuali jika ditulis dalam jangka waktu tidak begitu lama sesudah penciptaan aslinya. Dalam suatu peristiwa, menjelang abad ke-6 SM, kedua sajak itu sudah dianggap karya klasik besar, dan informasi biografis menyangkut Homer sudah hilang. Setelah itu, orang Yunani senantiasa menganggap Odyssey dan Iliad merupakan hasil karya bangsa yang terjunjung tinggi. Menariknya, sepanjang masa antara abad ke abad dan semua perubahan dalam gaya yang sudah terjadi, reputasi Homer tak pernah punah..

Ditilik dari ketenaran dan reputasi Homer yang tinggi, dengan pikiran yang dag-dig-dug saya tempatkan Homer dalam nomor urutan yang begitu rendah. Hal dan alasan serupa saya lakukan pula terhadap umumnya tokoh-tokoh seni dan sastra. Tempat urutan mereka dalam daftar ini, rendah. Dalam kasus Homer, selisih beda antara reputasi dan pengaruh tampaknya besar. Biarpun hasil karyanya sering dipelajari di sekolah, di dunia dewasa ini sedikit sekali orang membaca Homer begitu mereka meninggalkan bangku sekolah lanjutan atas atau perguruan tinggi. Ini berlainan besar dengan Shakespeare yang drama maupun sajak-sajaknya dibaca dan drama-dramanya sering dipentaskan dengan mendapat pengunjung yang cukup banyak. Walhasil, betul-betul beda..

Dan Homer pun tidaklah dikutip secara luas. Meskipun kutipan Homer terdapat dalam karya Barlett, amat sedikit digunakan dalam percakapan sehari-hari. Bukan saja berbeda jauh dengan Shakespeare, juga berbeda jauh dengan penulis-penulis seperti Benyamin Franklin atau Omar Khayyam. Kalimat seperti “sen yang ditabung adalah sen yang didapat”, yang sering disebut orang, mungkin sebenarnya merupakan pengaruh sikap pribadi seseorang, bahkan suatu sikap dan keputusan yang berbau politik. Tak ada sangkut pautnya dengan Homer apa yang banyak dikutip orang sekarang..

Kalau begitu halnya, apa sebab Homer dimasukkan dalam daftar urutan buku ini? Ada dua alasan. Alasan pertama, jumlah orang yang makin bertambah dari abad ke abad baik yang mendengar atau membaca karya Homer memang betul-betul banyak. Di dunia masa silam, sajak Homer jauh lebih populer ketimbang sekarang. Di Yunani, karyanya begitu akrab dengan penduduk umum, dan dalam masa yang panjang sekali mempengaruhi sikap agama dan etika. Odyssey dan Iliad terkenal bukan semata di kalangan sastrawan intelektual, tetapi juga di kalangan militer dan pemuka-pemuka politik juga. Banyak pemimpin Romawi lama mengutip Homer, malahan Alexander Yang Agung mengempit salinan Iliad diketiaknya selama bertempur. Bahkan kini, Homer merupakan penulis pujaan di sementara sekolah, dan umumnya kita sudah baca karyanya (paling tidak sebagian) selama di sekolah..

Bahkan lebih penting lagi, mungkin, pengaruh Homer terhadap kesusasteraan. Semua penyair-penyair Yunani klasik dan penulis-penulis drama amatlah sangat terpengaruh Homer. Tokoh-tokoh seperti Sophocles, Euripides, dan Aristoteles –menyebut beberapa contoh saja– terbenam dalam tradisi Homer, dan semuanya mengambil ide literatur yang cemerlang darinya..

Pengaruh Homer terhadap para pengarang Romawi kuno jelas besarnya. Semua menerima sajaknya sebagai ukuran kesempurnaan. Tatkala Virgil –sering dianggap penulis Romawi terbesar– menulis karya besarnya Aeneid dia dengan sadar dan atas keyakinan sendiri menyontoh kehebatan Iliad dan Odyssey.

Bahkan di jaman modern pun, nyatanya tiap pengarang penting dipengaruhi oleh Homer langsung atau oleh penulis-penulis seperti Sophocles dan Virgil yang keduanya amat terpengaruh oleh Homer. Tak ada penulis dalam sejarah punya pengaruh begitu menyebar dan begitu berjangka lama.

Masalah yang paling akhir adalah mungkin yang justru ruwet. Selama seratus tahun terakhir ini, sangat mungkin sekali Tolstoy lebih berpengaruh dan karyanya lebih banyak dibaca orang ketimbang Homer. Tetapi Tolstoy tak punya pengaruh apapun selama 26 abad, sedangkan pengaruh Homer telah berlanjut selama 2700 tahun atau lebih. Ini betul-betul masa yang teramat lama. Walhasil, Homer tak mudah ditandingi oleh tokoh-tokoh literer lainnya, bahkan oleh tokoh yang berkarya di bidang apa pun..

Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah
Michael H. Hart, 1978
Terjemahan H. Mahbub Djunaidi, 1982
PT. Dunia Pustaka Jaya
Jln. Kramat II, No. 31A
Jakarta Pusat

Kisah Oei Hui Lan, Putri Oei Tiong Ham Orang Terkaya di Indonesia

KISAH INI ADALAH KISAH NYATA PUTRI SANG RAJA GULA YANG IA TULIS DALAM BUKUNYA” TAK ADA PESTA YANG TAK BERAKHIR” . .

OEI TIONG HAM ORANG TERKAYA DI ASIA TENGGARA
Oei Tiong Ham, yang dijuluki Raja Gula dari Semarang pernah jadi orang terkaya di Asia Tenggara. Ia juga berdagang candu. Sekitar tiga dasawarsa yang lalu, putrinya Oei Hui Lan, bersama Isabella Taves, menulis memory yang diterbitkan di Amerika Serikat. Dari buku berjudul No Feast Last Forever itu kita bisa tahu perihal kehidupan mereka, yang bisa membeli apa saja dengan uang mereka yang berlimpah. Namun apakah mereka berbahagia ?Saya lahir di Semarang, Desember 1889 sebagai Oei Hui Lan, putri Oei Tiong Ham yang pernah dikenal sebagai Raja Gula dan oran terkaya di Asia Tenggara. Ibu saya istri pertamanya. Ibu hanya mempunyai dua orang anak, kedua duanya perempuan. Kakak saya Tjong lan, sepuluh tahun lebih tua dari saya. Ayah masih mempunyai 42 anak dari 18 gundik. Bagi orang Cina, anak gundik pun dianggap sebagai anak sah.

Saya duga, anak ayah lebih banyak daripada itu, tetapi cuma anak laki laki yang kelingkingnya bengkok yang diakuinya sebagai putranya. Kelingking bengkok diwarisi ayah dari ayahnya. Tjong Lan berkelingking bengkong. Kelingking saya lurus. Namun ayah tidak meragukan saya sebagai anaknya, sebab mana mungkin ibu saya serong dengan pria lain.

Wajah Kakek dianggap membawa Rezeki Kakek saya Oei Tjie sien berasal dari Amoy, di daratan Cina. Pada masa mudanya ia senang bertualang. Ia terpelajar dan konon tampan seperti Raja Umberto dari Italia, tetapi seingat saya ia pendek dan gemuk.

Karena ikut pemberontakan Taiping, ia menjadi buronan pemerintah Mancu. Terpaksa ia kabur ke sebuah jung yang akan berangkat. Setelah berlayar berbulan-bulan, tibalah ia di Semarang, Jawa. Ia turun tanpa membawa uang sepeserpun dan pakaiannya hanya yang melekat di badan. Di tempat asing yang bahasanya sama sekali tidak dikenalnya itu, ia hanya bisa menawarkan tenaga mudanya.

Mula-mula ia bekerja di pelabuhan, menghela jung-jung yang kandas di lumpur. Ia menyewa penginapan murah tempat para pendatang Cina tidur menggeletak di lantai papan. Pada suatu malam, pemilik gubuk bambu itu melihat pemuda yang sedang tidur kelelahan itu. Wajah pemuda itu dianggapnya membawa rezeki. Pemilik gubuk kebetulan mempunyai banyak anak perempuan. Pemuda itu dibangunkannya untuk dilamar menjadi menantunya. Oei Tjie sien mau saja. Calon istrinya baru berumur 15 tahun, tubuhnya kuat dan sifatnya penurut.

Mereka menikah tanpa pesta apa pun. Perempuan muda itu bekerja keras membantu suaminya. Ia melahirkan tiga anak putra (yang seorang meninggal saat masih bayi) dan empat putri. Sementara itu Oei Tjie Sien keluar masuk kampung memikul barang kelontong. Kadangkadang dari kampung ia membawa beras untuk dijual di kota.
Lama kelamaan , ia menjadi makmur berkat beras. Dikirimkannya uang ke Cina untuk membeli pengampunan, sehingga ia bisa berkunjung ke cina, sekalian memperkenalkan putra sulungnya, Oei Tiong Ham, kepada orang tuanya. Petama kali diajak ke Cina itu, umur ayah baru tujuh tahun. Ia lahir 19 November 1866.

Potong Kuncir Lalu ke Eropa Kakek berakar di Jawa. Anak-anaknya, bisnisnya dan bahkan makamnya pun ada di pulau itu. Namun ia selalu menganggap dirinya orang Cina dan disebut singkeh, tamu baru. Ia hidup seperti di Amoy, makan makanan Hokkian saja, berbahasa Hokkian saja (ia paham bahasa Melayu tetapi cuma bisa mengucapkan beberapa kata) dan selalu memakai pakaian cina. Karyawannya semua orang Cina, yang berhitung dengan sempoa.

Nenek saya tidak pernah keluar rumah, kecuali kalau ada upacara pembersihan makam keluarga. Kegiatannya cuma main mahyong dan kadang kadang mengisap pipa air. Ia tidak pernah mengunyah sirih, berlainan dengan nenek saya dari pihak ibu.

Namun kakek saya Oei Tjie Sein dan tanda tangannya pun Oei Tjie Sein. Namun ia ingin disebut Kiangwan. Perusahaannya disebut Kian gwan kongsi. Anehnya nenek saya menganggap dirinya Kong si. Jadi kalau menyuruh pelayan umpamanya, ia berkata ,”Kongsi ingin anu.” Kalu berbicara dengan ayah umpamanya, ia berkata Kongsi tidak suka anu.” Ayah juga kemudian memilih anam Tai gawan.

Menjelang lanjut usia, kakek lebih banyak berada di rumah peristirahatannya di luar kota, ketimbang di rumah lamanya di pecinan, walaupun kantornya tetap disana. Soalnya, ia mempunyai dua gundik yang ditempatkan di rumah peristirahatannya itu. Gundik yang seorang adalah seorang perempuan cina yang cantik, yang kulitnya putih mulus seperti porselin dan rambutnya hitam lebat. Kalau sanggulnya dilepas, rambutnya terurai mencapai mata kaki. Kakek lekas bosan kepadanya. Perempuan itu ditempatkannya di sebuah rumah kecil di lahan kakek yang luas itu. Makanan dan pakaiannya dicukupi. Keluarganya boleh menjenguk sekali sekali. Namun apalah artinya kalau kakek tidak pernah mengunjunginya. Saya heran perempuan muda itu bisa bertahan agar tidak menjadi gila.

Di rumah utama, kakek tinggal dengan seorang gundik yang paling dikasihinya. Perempuan itu berkulit hitam dan wajahnya buruk. Ia bertelanjang kaki, mengenakan sarung dan tidak bisa berbahasa Cina. Mereka memiliki dua orang anak yang kulitnya berwarna terang. Saya tidak pernah melihatnya, sebab ketika kakek meninggal ayah memberikan uang dan menyuruhnya pergi bersama anak anaknya, yang tidak diakui ayah sebagai saudaranya. Gundik kakek yang cantik dinikahkan dengan seorang karyawan ayah.

Nenek tidak penah diundang kakek ke rumah peristirahatannya. Walaupun nenek ingin sekali datang. Dekat rumah itu, kakek sudah menyediakan mausoleum untuk makamnya, yang dibangun selama 25 tahun. Nenek meninggal lebih dulu daripada kakek. Ketika kakek meninggal, ia mewariskan 10 juta gulden atau kira kira AS$ 7 juta. Buat ukuran jawa waktu itu, jumlah itu besar sekali.

Saat itu ayah sendiri sudah kaya. Jadi ia meminta kakek menyerahkan rumah besar di Pecinan kepada adik ayah, yang lebih suka menjadi seniman daripada pedagang. Adik-adik ayah yang perempuan mendapat warisan juga. Sejumlah uang disisihkan pula untuk menolong orang orang bermarga Oei yang memerlukan bantuan.

Sesudah kakek meninggal, ayah menjadi kepala keluarga besar kami dan kami pun bebas melakukan hal-hal yang tadinya dilarang kakek. Yang pertama dilakukan ayah adalah meminta izin khusus kepada penguasa Belanda untuk memotong jalinan rambutnya. Kami pun berkunjung ke Eropa untuk perama kalinya. Masa itu perjalanan dengan kapal makan waktu 35 hari. Bagi kakek, dunia ini cuma Cina, tetapi dunia ayah lebih luas.

Janda Yang Baik Hati
Sebelum ayah mulai berusaha mencari nafkah sendiri, ia membantu kakek. Salah satu tugasnya adalah mengumpulkan uang sewa rumah. Suatu hari, setelah berhasil menggantungi 10,000 gulden, ia lewat ke tempat perjudian dan tidak bisa mengekang nafsunya untuk berjudi. Uang bawaannya amblas.

Keluar dari rumah perjudian, baru ia insaf apa akibat kekalahannya di meja jugi itu. Ia tidak punya muka untuk berhadapan dengan ayahnya karena telah berani mempergunakan uang yang bukan miliknya. Kakek bukan hanya tidak suka pada perjudian, tetapi juga keras terhadap anak. Ayah merasa dirinya hina dan bermaksud menceburkan diri dari jembatan. Namun ia ingin mengucapkan selamat berpisah dulu dari kekasihnya, seorang Janda. Janda itu mendesak ayah untuk menerima uangnya sebanyak 10,000 gulden. Akhirnya, ayah mau juga menerimanya. Kebaikan janda itu tidak pernah dilupakan ayah. Ia bukan cuma mengembalikan uang itu, tetapi juga menjamin hidup janda yang menyelamatkan nyawanya itu.

Kakek selalu hidup hemat, ayah sebaliknya. Kakek sering memarahi ayah karena kesenangannya bermewah mewah itu. Suatu hari, karena kesel dimarahi, ayah berkata kepada nenek,“Suatu hari kelak, saya akan lima puluh kali lebih kaya daripada ayah.“Hal itu memang terlaksana.

Mulanya begini: Salah sebuah rumah milik kakek ditinggali seorang Jerman yang sudah lanjut usia. Mantan konsul itu ingin sekali membeli rumah dengan tanah luas yang mengelilinginya itu, tetapi kakek tidak mau menjualnya. Menurut orang Cina, menjual salah satu miliknya berarti kehilangan gengsi. Jadi mantan konsul itu mendekati ayah yang diketahuinya akan mewarisi rumah dan tanah itu.

Saya akan memberi Anda sejumlah uang yang bisa Anda tanamkan sekehendak hati,“usul orang Jerman itu.“Kalau uang itu amblas, saya tidak akan mengeluh. Kalau berkembang sampai sepuluh kali lipat atau lebih, berikanlah rumah dan tanah itu untuk saya pergunakan seumur hidup.

Pada dasarnya ayah seorang penjudi. Ia selalu yakin nasib baik berada ditangannya. Karena itu ia juga lebih suka mempunyai karyawan yang kepandaiannya sedang sedang saja tetapi rezekinya besar daripada memperkerjakan orang yang pandai yang tidak mempunyai hoki. Namun selain mengandalkan hoki, tentu saja ia juga pandai melihat situasi dan memanfaatkannya.

Tawaran dari mantan konsul itu sama saja dengan tantangan untuk berjudi. Jadi ia bertanya berapa jumlah uang yang akan diberikan oleh bekas konsul. Jawabannya mencengangkan dia: AS$ 300,000. Ayah segera setuju, tetapi tidak berburu nafsu menanamkan uangnya. Ia berpikir ayahnya menjadi kaya berkat beras. Jawa memang cocok ditanami padi, sementara itu tenaga kerja dan lahan murah. Tebu juga terbukti cocok ditanam di tanah Jawa. Jadi, ayah membeli lahan luas untuk ditanami tebu. Masa itu Revolusi Industri belum sampai ke Jawa, tetapi ayah sudah mendengarnya,. Ia mendatangkan ahli ahli dari Jerman untuk memberi nasihat perihal mesin mesin yang diperlukan untuk bercocok tanam dan mengolah tebu menjadi gula. Ia mendatangkan mesin mesin dan lewat mantan konsul ia juga mengirimkan pemuda pemuda ke Eropa untuk belajar menjalankan mesin mesin itu dan membetulkannya.

Suksesnya berkesinambungan sebab ia tidak pernah puas. Ia peka terhadap setiap pembaharuan dan gagasan, sehingga tidak henti hentinya menyekolahkan karyawan ke luar negeri supaya bisa mempelajari hal hal yang baru. Mesin mesinnya terus diperbaharui dan pabriknya mendapat aliran lsitrik lebih dulu daripada kediamannya.

Ayah berkata kepada saya,”Jangan mau jadi orang biasa biasa saja. Kita mesti menjadi orang nomor satu.” Kemudian ayah melebarkan sayapnya ke luar negeri dan ke bidang bidang lainnya seperti kopra. Sekali ia menunjukkan kepada saya perkebunan kopranya di luar kota Singapura. Saya berseru kagum ketika melihat tanaman indah itu. Ayah berkata,”Orang lain melihat pohon, aku melihat uang. Pohon kelapa tidak meminta banyak perawatan, tetapi mendatangkan banyak uang.”

Menurut saya, ayah bukan cuma berhasil berkat hoki, tetapi terutama oleh kepercayaan dirinya yang timbul karena ia menguasai bidang yang ia geluti. Akibatnya ia bisa cepat memutuskan segala sesuatu . Ia juga memiliki kepekaan untuk memilih waktu yang tepat.

Membuka Perwakilan di Wallstreet
Pada kunjungan kami yang pertama di Eropa, ayah membuka kantor perjualan di London dan Amsterdam. Untuk mewakilinya di Amsterdam, ayah memperkerjakan seorang Belanda bernama Peters, yang selalu saya panggil Pietro. Ayah mempunyai kapal-kapal sendiri untuk mengangkut gula, kopra, dan tepung kanji. Ayah yang tidak bisa berbahasa belanda, inggris, maupun Perancis itu kemudian membuka perwakilan di Wallstreet, New York.

Asal Muasal ia mengusahakan tapioka itu begini: suatu ketika seorang pemilik pabrik tapioka di Semarang ingin menjual pabriknya yang merugi terus. Ayah menukarkannya dengan sebuah rumah kecil. Pabrik itu diperbaikinya dan dilengkapinya dengan mesin mesin. Tidak lama kemudian ia sudah menjual 1,5 juta ton tapioka ke Asia Timur laut.

Ketika kakek meninggal, ayah menerima warisan rumah mantan konsul jerman itu. Sebetulnya ayah bisa membayar kembali uang pinjamannya beberapa kali lipat, namun ia menepati janjinya.

Bandul intan 80 karat
Ketika ayah saya menjadi kayaraya dan mendapat gelar kehormatan Majoor der Chinezen (1901) , saya sering ikut dengannya melakukan perjalanan perjalanan bisnis. Ayah berpesan kepada para sekretarisnya.,”Belikan dia semua yang diinginkannya”. Saya pun terbiasa untuk diistimewakan, untuk menyimpang dari peraturan yang berlaku dan untuk mengharapkan semua orang tahu bahwa saya anak ayah yang berkuasa.

Tidak ada seorang anak Belanda pun yang memiliki rumah boneka seindah kepunyaan saya. Tingginya sedagu saya, dibeli Pietro di Eropa. Saya bisa merangkak masuk ke dalamnya. Perlengkapannya komplet dan penuh detail. Di kamar mandinya ada handuk yang serasi. Ranjangnya memakai per dan kasur. Dalam lemari pakaiannya bergantungan pakaian boneka boneka saya. Di dapurnya ada panci, alat penggoreng, garpu dan pisau.

Di belakang rumah kami ada kebun binatang, berisi kera, rusa, beruang, kasuari, dll. Kalau ayah kembali dari bepergian, ia selalu membawa hadiah untuk saya spasang kuda poni, sepasang anjing chihuahua, boneka atau apa saja.

Umur saya belum tiga tahun ketika ibu mengalungkan bandulan intan 80 karat ke leher saya. Besar intan itu sekepalan tangan saya dan tentu saja menganggu gerak gerik dan bahkan menyakitkan saya. Namun ibu tidak perduli. Suatu hari ketika pengasuh memandikan saya, ibu melihat dada saya luka akibat intan itu. Barulah ibu melepaskannya. Sampai buku ini ditulis. Intan itu masih saya miliki, tersimpan di sebuah bank di London.

Jago Menyogok, tapi pantang disogok.
8711_smallKetika masih kecil, saya pernah ikut ayah ke Penang. Kakak saya Tjong Lan tidak dekat dengan ayah. Ia bahkan takut. Di Penang,s aya tinggal di kapal saat ayah turun ke darat. Kemudian datanglah seorang lanjut usia ke kapal, menyerahkan sekotak uang emas kepada saya, sambil membungkukkan badannya dalam dalam. Saya tidak tahu benda itu uang emas inggris, yg nilainya 200,000 poundsterling. Saya kira cuma mainan. Waktu ayah datang saya sedang bermain main dengan uang itu. Ayah bertanya darimana saya mendapatkannya. Ia segera menyuruh orang mengembalikan uang itu.

Rupanya pria lanjut usia yang naik ke kapal itu bermaksud menyogok ayah dengan memberi hadiah berharga kepada anak kesayangan ayah. Ayah pantang disogok, padahal ia sering menyogok pejabat pejabat Belanda supaya usahanya lancar.

Ayah juga tidak percaya kegunaaan pengawal pribadi. Ia lebih yakin pada caranya sendiri. Setiap tahun ia memberi sejumlah uang kepada kelompok bandit yang paling berpengaruh, untuk menangkal gangguan maling dan pembunuh. Usahanya berhasil.

Keluarga kami merupakan satu satunya keluarga Cina yang tinggal di luar pecinan. Masa itu kadang kadang orang Cina diolok olok anakanak belanda yang bubar dari sekolah. Ayah mempunyai cara untuk menanggulanginya. Ia turun dari kereta, lalu mendekati anak yang paling besar. Kelihatannya kami pemimpin mereka,”katanya seraya mengangsurkan sekeping uang emas.”Tolong urus mereka.”

Uangnya dikoporkan
Ayah selalu berpakaian rapi, di luar maupun di dalam rumah. Kalau keluar, ia selalu mengenakan setelan jas putih. Sepatunya pun putih. Di dalam rumah ia memakai celana dari bahan batik dan jas tutup cina.

Kejantanan dihargai tinggi di kalangan orang Cina. Seorang pria Cina boleh memiliki gundik sebanyak yang ia mampu. Kadang kadang istri pertama mencarikan gundik bagi suaminya, tetapi ibu saya tidak sudi melakukan hal semua itu. Ibu saya bernama Bing Nio, yang kalau diterjemahkan ke bahasa Inggris sama dengan Victoria. Ia berasal dari keluarga Goei. Dalam keluarga itu, kaum prianya bertubuh besar, tetapi kaum perempuannya bertubuh kecil. Nenek moyangnya berasal dari Shantung, tetapi sudah bergenerasi generasi mereka tinggal di Jawa. Nenek saya melahirkan 5 putri dan empat putra. Kelima putrinya cantik-cantik. Yang paling cantik ibu saya. Kakek saya bekerja di bank dengan penghasilan tidak seberapa.

Nenek saya dari pihak ayah mencarikan gadis paling cantik di pecinan untuk dijadikan isteri ayah. Dari para comblang ia mendengar perihal kecantikan ibu saya. Jadi ketika ibu berumur 15 tahun, Nenek Oei mengirimkan tandu keemasan untuk menjemputnya. Tandu itu berarti orang tua phak laki laki menginginkan ia menjadi menantunya. Pengantin perempuan tiba di rumah mertuanya dengan ditandu oleh empat orang. Ia melakukan kowtow, yaitu berlutut dan menundukkan kepala sampai dahi menyentuh lantai di hadapan mertuanya. Sampai saat itu pengantin wanita belum pernah melihat calon suaminya, tetapi sejak itu hanya maut yang bisa melepaskannya dari ikatan pernikahan. Pada masa itu perceraian tidak pernah tejadi, kecuali kalau pihak perempuan melakukan salah satu dari tujuh dosa tidak berampun.

Ayah menerima saja tradisi ini. Tidak terpikir olehnya untuk menceraikan ibu yang tidak memberikan anak laki laki. Cuma saja ia terus menerus menambah gundik dan banyak di antara gundiknya itu yang memberinya anak laki laki. Ia juga tidak pernah tinggal dengan salah seorang gundiknya itu, sampai muncul seorang gundik bernama Lucy Ho, dalam hidupnya.

Karena tidak mempunyai anak laki laki, ibu terus menerus merasa dirinya memiliki kekurangan dan frustasi. Ayah tidak pernah menolak permintaaannya akan kebendaan, bahkan juga setelah ibu meninggalkan ayah untuk tinggal bersama saya di London. Ibu sering mengirim kawat untuk meminta uang.”Kirim empat,”artinya ia meminta 4,000 poundsterling yang masa itu setara dengan AS$ 25,000. Tanpa banyak cingcong, ayah akan mengirimkan uang sebanyak yang diminta.

Pernah ketika masih tinggal di Semarang, ketika saya berumur kira kira 12 tahun, saya terbangun oleh bunyi petir. Saya berlari masuk ke kamar ibu. Ia sedang duduk di ranjang, menghitung setumpuk tinggi uang di bawah kelap kelip lampu minyak. Saya begitu terpesona sampai melupakan ketakutan saya. Ibu tersenyum dan berbisik,”Ayahmu pulang membawa sekoper uang. Aku mengambilnya sebagian. Ia tidak pernah menyadarinya.

Saya heran mengapa ibu tidak meminta saja: Saya yakin ayah akan memberikannya. Mungkin ibu tidak mau ayah tahu untuk apa uang itu. Pada masa itu kami tidak pernah membawa bawa uang. Kalau kami menginginkan sesuatu, kami tinggal mengambilnya saja di toko dan pemilik toko akan menagihnya kepada ayah. Saya rasa ibu memberikan uang itu kepada keluarganya sendiri. Perempuan cina yang tidak mempunyai anak laki laki memang memerlukan segala cara untuk membangun egonya, kalau perlu dengan membeli. Kalau cuma untuk mencukupi kebutuhan keluarga secara wajar saja, saya yakin ia tidak perlu melakukan perbuatan itu. Namun kakek saya dari pihak ibu pecandu, sedangkan suami dari beberapa saudara perempuannya sering berurusan dengan pihak berwajib.

Ayah saya lahir pada tahun harimau, sedangkan ibu pada tahun naga. Mereka sama sama tidak mau tunduk. Namun ibu menyukai status sebagai isteri ayah. Ia mencintai perhiasannya. Di luar rumah ia dianggap tokoh penting. Kalau ia pergi menonton sandiwara, para pemain berlutut di hadapannya seusai pertunjukan. Lantas ibu akan memberikan tip yang besar sekali.

Kalau pulang bertamu dari rumah nyonya belanda, sering bajunya cuma disemat dengan peniti biasa, karena penitinya yang bertaburkan permata ia hadiahkan kepada nyonya rumah yang mengagumi perhiasannya itu. Ayah akan membelikannya yang baru. Yang perlu ia lakukan hanya meminta.

Bersaudara 42 orang
Saya tidak begitu kenal saudara ibu. Seorang saudara perempuannya, menikah dengan seorang pria yang cukup berada, tetapi tidak dikaruniai anak. Jadi, bibi saya itu mengangkat dua anak perempuan, yaitu anak saudara suaminya. Bertahun tahun kemudian, ternyata kedua anak angkatnya itu menjadi gundik ayah. Yang seorang Cuma bertahan sebentar, karena ia minggat dengan sopirnya, seorang pribumi. Adiknya tidak begitu cantik, tetapi tubuhnya indah dan ia pandai, namanya Lucy Ho.

Setelah ibu meninggalkan ayah untuk tinggal bersama saya di London, ayah dan Lucy Ho pindah ke Singapura. Ayah keluar dari Jawa untuk menghindari pajak. Lucy gundik yang penuh pengabdian. Ia mengurusi keuangan dengan cermat dan ia memberi anak kepada ayah setiap tahun. Anak laki lakinya banyak. Setelah tinggal dengan dia, ayah berubah. Walaupun uangnya tetap banyak, ia tidak hidup mewah seperti yang disukainya semasa di Jawa.

Ironisnya dari keluarga semacam kami ialah Putri Lucy yang sudah dewasa suatu hari ketika bertemu dengan putri Tjong Swan (Saudara saya berlainan ibu) di New York. Mereka jatuh cinta, tetapi tidak diperkenankan menikah oleh hukum AS, sebab ayah si pemuda adalah kakek si gadis. Mereka akhirnya menikah juga di Belanda. Mungkin hal itu bisa terlaksana berkat pengaruh Tjong Hauw., adik saya berlainan ibu juga.

Di antara 42 saudara saya tidak seibu, hanya Tjong Swan dan Tjong Hauw yang cukup dekat dengan saya. Keduanya diserahi mengurus usaha ayah di Jawa, ketika ayah sudah pindah ke Singapura. Tjong Hauw diperoleh ayah dari seorang perempuan yang ditipunya. Perempuan itu berasal dari udik. Ia tidak mau dijadikan gundik. Ia ingin dijadikan istri. Ayah setuju, perempuan itu dijemput dengan tandu. Namun di rumah tempat ia dibawa dilihatnya tidak ada pesta, tidak ada mertua. Walaupun demikian ia tidak bisa kembali ke orangtuanya sebab akan memberi aib. Hampir saja ia gila. Walaupun ia memberi ayah empat putra, ayah memperlakukannya dengan kejam. Sebelum ia disingkirkan, ayah menyuruhnya menjahitkan kelambu untuk gundik berikutnya.

Bandot
Sebelumnya ayah saya sudah menjadikan seorang janda sebagai gundiknya. Ny Kiam membawa serta adik perempuannya yang berumur kira kira sepuluh tahun dan seorang anak perempuannya yang berumur dua atau tiga tahun. Ny Kiam sangat mencintai ayah, tetapi ia tidak memberi ayah keturunan. Ketika adiknya berumur 15 atau 16 tahun, ayah menjadikannya gundiknya. Perempuan itu melahirkan lima anak laki laki dan empat anak perempuan.

Karyawan ayah menyebutnya isteri nomor dua. Di rumah kami tidak ada yang berani mempergunakan sebutan itu, karena ibu tidak menyukainya. Kenyataannya ia memberi ayah banyak anak laki laki. Ayah tidak menyukai putranya yang pertama karena sangat dimanjakan oleh ibunya. Ayah memilih putranya yang kedua Tjong Swan untuk menjadi andalannya di samping Tjong Hauw.

Lama setelah itu,, ketika saya sudah menikah dengan Wellington Koo dan singgah di Penang dalam perjalanan dari London menuju Beijing, dua orang perempuan wajahnya menyenangkan menemui saya,”Kami adik adikmu,”kata salah seorang diantaranya sambil tersenyum. Ternyata mereka itu putri putri ayah dari cucu Ny. Kiam. Rupanya ketika ayah sudah bosan pada istri nomor dua (adik Ny. Kiam), ayah menyingkirkannya untuk digantikan oleh anak Ny. Kiam, yang ketika ibunya menjadi gundik ayah masih berumur 2 atau 3 tahun. Putri Ny. Kiam itu mempunyai dua anak perempuan dan kedua duanya berkelingking bengkok. Kedua duanya menikah dengan orang berada. Kata mereka, nenek mereka masih tinggal di rumah pemberian ayah di Jawa.

Tahun 1927, Ketika saya kembali ke Jawa untuk menghadiri pemakaman ayah, Ny. Kiam mendekati saya dengan kemalu-maluan. Ia memanggil saya Nona dan menyerahkan gigi palsu ayah yang rupanya ia simpan bertahun tahun untuk dimasukkan ke liang kuburnya. Saya turuti kemauannya, sebab saya pikir ayah akan menganggapnya lucu.

Berlainan dengan Ny. Kiam, gundik yang dulu ditipu ayah itu, yang melahirkan Tjong Hauw, tidak datang ke pemakaman. Saya mengunjunginya di rumahnya. Saya lihat ia masih memakai pending bertatahkan intan pemberian ayah: Rupanya walaupun ia diperlakukan dengan buruk oleh ayah, ayah tidak membiarkannya telantar.

Saya ingat, semasa kecil, saya keras dibawa ayah ke rumah gundik gundiknya. Mereka tentu berusaha mengambil hati saya, supaya ayah senang. Namun, ketika ibu tahu, ayah dimaki makinya. Ibu kemudian minggat dari rumah dengan membawa saya. Saya sakit keras dan dokter yang merawat saya memberitahu ayah. Ketika itu ibu tetap tidak mau kembali. Ia baru pulang 2 bulan kemudian ke rumah kami yang seperti istana.

Menjamu Raja Siam
Rumah kami terletak di atas lahan yang luasnya lebih dari 93 ha. Rumah model cina ini mempunyai taman yang dirancang khusus dengan kolam kolam dan jembatan jembatan. Tukang kebun kami memiliki lima puluh anak buah. Dapur kami ada tiga. Ibu mempunyai juru masak sendiri, yang keahliannya memasak makanan Indonesia, sebab Ibu menyukai masakan indonesia. Ayah menyukai masakan Cina dan Eropa. Dapur untuk memasak makanan Eropa dikuasai oleh mantan koki kepala gubernur jenderal. Di situ tergantung daging impor dari Australia. Tidak seorangpun diperkenankan masuk ke sana oleh mantan koki gubjen itu. Saya pernah iseng memasukkan anjing besar ke sana yang lantas menggondol daging impor. Dapur ketiga diurus oleh dua orang koki Cina.

Jauh di belakang ada perumahan para pelayan. Masih ada lagi rumah untuk guru pribadi kami (nona Jones), koki kami, tukang pijit ibu, dan tukang cuci pakaian ibu. Untuk para tamu tersedia dua pavilyun.

Ayah sering menjamu dan perjamuannya tidak tanggung tanggung. Kami pernah menjamu raja Siam berikut haremnya. Kami pun pernah diundang makan di kediaman gubernur jenderal Hindia Belanda.

Tjong Lan dan saya tidak bersekolah di sekolah umum, padahal sebenarnya saya ingin memiliki teman teman sebaya. Paling paling saya bisa bermain ke rumah keluarga Belanda yang tinggal di lahan kami, Ibu pun tidak pernah mengundang anak saudara saudaranya ke rumah kami.

Banyak yang diundang, tidak ada yang datang
Ketika saya berumur 15 tahun, saya katakan kepada ayah, saya ingin mengadakan pesta dansa bergaya inggris, seperti yang saya baca di The Tatler. Ayah memperbolehkan. Memang saya diistimewakan, karena dianggap membawa rezeki, bintangnya naik terus setelah kelahiran saya.

Ayah menyewa 16 pemain musik yang dulu disewanya untuk perjamuan raja Siam. Kamar makan kami dan pavilyunpanjang disiapkan untuk berdansa. Ayah secara santai juga menyampaikan kepada para rekanan dagangnya agar mendatangkan anak anak mereka ke pesta saya.

Hari besar itu pun tiba. Para pemain musik datang dan menunjukkan kebolehannya, tetapi tidak ada seorang tamu pun yang datang. Saya menangis dan ayah marah sekali kepada para rekanannya. Kalau saya ingat lagi peristiwa itu. Saya pikir, kami juga yang salah. Mestinya kami mengirimkan kartu undangan resmi, sehingga mereka akan memberi tahu kalau tidak datang.

Untuk meredakan kemarahan ayah, pengacaranya Baron van Heeckeren mengusahakan agar putri putrinya mengadakan pesta dansa untuk menghormati saya, dengan mengundang teman teman Belanda. Saya yakin maksud mereka baik, tetapi saya terlalu angkuh untuk hadir.

Dicekoki Bahasa Inggris
Waktu kami pergi ke Belanda saya puasa juga karena ternyata Bahasa Belanda saya lumayan. Kemudian ketika sudah menjadi isteri Wellington Koo dan suama saya dijadikan duta Cina di AS, bahasa Belanda itu masih ada gunanya. Pernah kami mengundang pemain film termasyhur waktu itu Tyrone Power dan isterinya Linda Christian. Linda yang pemalu itu berasal dari Belanda. Ia begitu tercengang mendapatkan isteri duta Cina bisa berbahasa Belanda.

Di Rumah , ayah biasa berbahasa Hokkian, tetapi dengan saya ia berbahasa Indonesia. Bahasa pertama yang saya pelajari lewat pengasuh saya. Kemudian kakak saya mendapat pengasuh yang diimpor dari Prancis dan kami belajar bahasa Perancis. Ayah meminta Pietro mendatangkan guru pribadi buat kami dari Eropa dan datanglah seorang Inggris, Nona Elizabeth Jones yang mencekokkan bahasa Inggris kepada kami. Akhirnya saya lancar berbahasa Inggris dan tetap menjadi anak didiknya sampai saya meninggalkan jawa untuk tinggal di Inggris pada umur 15 atau 16 tahun.

Lewat tengah hari, kalau Tjong Lan dan saya sudah selesai belajar dari Nona Jones, datanglah pelbagai guru pribadi. Ada yang mengajarkan kaligrafi, seni berbicara, tarian cina klasik dan juga musik. Ibu ngin anak anaknya tidak pemalu dan pandai bergaul, supaya bisa memperoleh suami yang hebat. Saya pun disuruh belajar menunggang kuda di Singapura.

Tjong Lan lebih tertutup daripada saya. Ketika masih berumur belasan tahun, ia jatuh cinta dntgan seorang dokter muda. Ibu melakukan penjajakan lewat comblang. Ternyata keluarga pria itu ingin ayah membiayai praktek putranya. Ayah marah, ia tidak mau membli menantu. Kalau saja Ibu mau menolong Tjong Lan, mungkin ayah bisa dibujuk, tetapi ibu sependapat dengan ayah.

Mula mula Norak
Ibu tidak suka ikut dengan ayah meninjau perkebunan, tetapi saya sering dibawa serta. Ibu baru ikut kalau ayah pergi ke luar negeri. Waktu kami sekeluarga pergi ke Eropa untuk pertama kalinya, kami membawa serta beberapa pelayan. Pietro menjadi juru bahasa ayah dalam mengadakan pelbagai transaksi, sedangkan isterinya yang bisa berbahasa Indonesia sedikit, mengantar ibu dan Tjonglan berbelanja.

Ibu menyingkirkan pakaian Cinanya untuk diganti dengan pakaian Eropa. Masa itu kami jauh dari anggun. Kemana mana kami beriring iringan dengan beberapa mobil atau kereta. Selera Pietro pun tidak halus, padahal kami mengandalkan petunjuknya. Kami tinggal di hotel hotel kelas dua seperti Charing Cross di London dan Grand di Paris, meskipun seluruh lantai diborong. Ketika kami ke AS , ayah sudah berpengalaman. Kami tinggal di Waldorf Astoria.

Setahun lamanya kami tinggal di Luar negeri. Ayah dan Pietro bekerja sedangkan ibu dan Tjong Lan keluar masuk toko. Ibu tidak mau membeli barang sembarangan. Ia selalu ingin paling top. Kalau sudah bosan berbelanja, mereka masuk ke salon kecantikan. Malamnya, ibu, ayah, Tjong Lan dan Pietro makan di restoran dan pergi ke kelab malam. Sementara itu saya kesepian di hotel. Kadang kadang saya ditemani oleh Ny. Pietro. Sementara itu para pelayan makan makanan Indonesia yang mereka masak sendiri. Bahan bahannya dibelikan oleh Pietro.

Lama kemudian, ketika saya sudah menjadi isteri Wellington Koo, saya sering geli mengingat betapa naif dan tidak anggunnya kami masa itu. Saya membayangkan betapa tercengangnya orang orang Eropa melihat ibu dan Tjong lan keluyuran memakai perhiasan Intan, mirah dan Zamrud serta seenaknya memesan barang mahal tanpa menanyakan dulu harganya.

Mobil Ditarik Sapi.
Ketika kami masih tinggal di Semarang, Tjong Lan yang waktu itu berumur 18 tahun dijodohkan dengan putra teman ibu. Teman ibu di Jakarta itu mempunyai putra yang baru pulang dari Belanda. Ia lancar berbahasa Belanda, Inggris dan Perancis. Namanya Ting Liang dari keluarga Kan yang kaya dan terkemuka. Mereka menikah di rumah kami. Keluarga ibu tidak diundang, sebab ayah marah kepada mereka.Setelah Tjong Lan menikah, ibu bercerita kepada saya bahwa ia menguatkan hatinya untuk tetap tinggal di rumah kami, supaya Tjong Lan bisa menikah di rumah itu. Tjong Lan dan suaminya pergi ke Eropa selama setahun dan ketika kembali mereka membawa mobil kecil buatan perancis. Masa itu belum ada mobil di tempat kami. Suatu hari saya mencuri curi mengendarainya dan menabrak pohon.Begitu melihat mobil Tjong Lan, ayah segera memesan mobil Lancia yang besar dari Inggris, untuk mengemudikannya, ayah mendatangkan sopir dari Jakarta, yang berpengalaman mengemudi di Singapura. Bila dipakai di jalan rata, Lancia itu tidak merongrong, tetapi begitu mendaki bukit ia tidak kuat menanjak, sehingga sopir harus pergi meminjam 4 ekor sapi untuk menghelanya ke rumah kakek atau ke pesangrahan ibu.

Kemudian ayah mengimpor sopir dari Inggris, namanya Powell. Anehnya, sejak dikemudikan Powell, mobil itu bisa menanjak tanpa bantuan ternak. Jangan jangan sopir lama tidak tahu kalau mobil perlu ganti gigi supaya bisa menanjak.

Tjong Lan tinggal dalam sebuah rumah dalam lingkunganhalaman kami juga. Para pelayannya semua dari rumah kami, makanan untuknya dan untuk suaminya dibawakan dari tempat kami. Sya bisa mengerti kalau suaminya tidak betah dan tidak mau bekerja di perusahaan ayah. Ia ingin menjadi dokter dan ayah mengirimkannya ke Eropa. Waktu itu mereka sudah mempunyai bayi, Bob Kan. Seingat saya ipar saya kemudian tidak pernah membuka praktik. Anak mereka kemudian belajar di Eropa di Eton (sekolah menengah mahal dan berprestise di Inggris) dan kuliah di Cambridge Inggris.

Ketika ayah sakit, doktenya mengusulkan agar ayah beristirahat di Eropa. Sekali lagi ibu dan saya ikut. Pietro sudah pensiun tetapi ayah mempekerjakannya lagi setahun. Ia menyewakan rumah bagi kami di Paris. Sekali ini bahasa Prancis saya sudah bisa diandalkan untuk menjadi penerjemah ibu. Ibu lebih mempercayai selera kakak ipar saya daripada selera Pietro. Ia begitu jatuh hati kepada menantunya, sehingga kakak saya dibelikannya sebuah rumah besar yang dilengkapi beberapa pelayan di Wimbledon Inggris.

Ketika ayah, ibu dan saya pulang ke Jawa, saya merasa kehidupan saya tidak kembali seperti semula. Ibu sudah tidak tahan tinggal di Semarang, sebab gundik gundik ayah mempunyai sejumlah anak laki laki yang meningkat dewasa dan merekalah yang akan mewarisi perusahaan ayah. Apalagi kemudian ayah menyingkirkan semua gundiknya demi Lucy Ho. Namun tentu saja tidak terlindak dalam pikiran ibu untuk bercerai.

” Kini saya berpendapat, berkenalan dengan kaum ningrat dan orang berduit
tidaklah penting. Otak dan kepribadian lebih penting. Kita bisa
menderita akibat haus kekuasaan, tetapi kita bis mendapat kesenangan
dari sikap hormat, kesederhanaan dan sifat lurus. Kita seharusnya
menghargai orang orang lain dan hidup ini. Seperti kata ibu, kita harus
puas dengan yang kita miliki.”

Ayah pindah ke Singapura.
Saya sedih untuk berpisah dengan ayah, tetapi saya ikut dengan ibu ke London. Kemudian ayah juga meninggalkan istana marmer kami untuk pindah ke Singapura bersama Lucy Ho. Soalnya pemerintah Hindia Belanda menekannya untuk menjual perkebunan perkebunan tebunya dengan harga AS$ 70 juta. Ayah mempercayakan perusahaannya di Jawa kepada putra putranya yang terpilih. Tjong Swan dan Tjong Hauw. Mereka bertugas melaksanakan saran saran bisnis ayah dan melapor kepadanya.

Di London, ibu dan saya tinggal di Brooke Street, dekat hotel hotel besar. Kami mempunyai rumah lain di Wimbledon yang luas lahannya hampir 2,8 ha. Ibu mempunyai mobil Roll Royce, lengkap dengan sopir dan footman (pelayan yang tugasnya antara lain membukakan pintu mobil) Ipar saya mempunyai mobil Daimler dan Fiat. Di Wimbledon kami mempunyai seorang butler (kepala Pelayan) Cina, tiga gadis pembantu rumahtangga Inggris dan seorang sopir Inggris. Selain itu, kakak saya memiliki seorang koki inggris dan ibu membawa kokinya yang sudah lama bekerja padanya dari Jawa. Para pelayan itu selalu saja bertengkar. Ibu saya yang biasa berbahasa jawa, mengalami kesulitan bahasa dalam berkomunikasi dengan para pembantu. Jadi, segalanya harus diurus oleh ipar saya, sebab kakak saya pun tidak becus mengurus rumah. Dewasa ini, kalau saya pikir-pikir, ipar saya sepatutnya mendapatkan gaji untuk jasanya sebagai majordomo (pengurus rumah tangga)

Ipar sayalah yang pergi berbelanja dan membayar rekening. Karena koki indonesia bawaan ibu tidak bisa berbahasa Inggris, ipar saya pula yang ketiban tugas berbelanja ke pasar. Ipar saya harus menyerahkan rekening rekening dan catatan pengeluaran rumah tangga kami ke kantor ayah di Mincing Lane. Kalau saya pikirkan kembali, kami bersalah menyia nyiakan bakatnya, dengan hanya menjadikannya Majordomo. Mungkin ia bisa menjadi orang yang jauh lebih penting, kalau diberi kesempatan lain.

Saya diberi ayah 400 poundsterling atau AS$ 2,000 setahun untuk membeli pakaian. (Pada masa itu nilai poundsterling dan dollar jauh lebih tinggi daripada sekarang). Tentu saja tidak cukup. Saya sodorkan rekening rekening tagihan kepada Ting Liang. Ia sering marah, padahal ayah selalu mau melunasi semua pengeluaran saya. Suatu hari setelah bertengkar hebat dengan ipar saya, saya minta pindah. Saya tinggal alam sebuah villa kecil di Curzon street, diurus seorang pembantu rumah tangga prancis dan koki Prancis. Ting Liang tidak mau membayar sewa ruamh saya dan gaji pelayan serta koki saya. Jadi saya langsung mengirim telegram kepada ayah dan tanpa banyak cincong ayah menaikkan jumlah uang belanja saya.

Di masa remaja itu saya sangat menikmati dansa. Malam hari, saya pinjam mobil ibu lengkap dengan sopirnya untuk pergi bersama dua sepupu saya ke pesta pesta dansa. Sepupu sepupu saya itu adalah putra adik ibu yang di Singapura. Keduanya mendapat beasiswa untuk belajar di London dari dermawan Singapura, Lim Boo Keng. Teman teman saya masa itu diantaranya Guy Brook yang kemudian menjadi Lord Brook dan pemuda pemuda yang kelak menjadi Earl of Callodan, Sir Oliver duncan, dan Sir Hugo Cuncliffe Owen.

Saya belajar menyetir mobil dan mendapat mobil Daimler kecil. Saat itu umur saya belum genap 18 tahun dan London tahun 1918 masih sepi. Saya menganjurkan Tjong Lan untuk belajar menyetir juga. Hubungan kami tidak selalu mulus. Ia sering iri kepada saya. Pergaulannya terbatas pada orang orang sekantor ayah ata para relasi bisnis. Ia dibesarkan di Jawa sehingga tidak mengalami kebebasan seperti saya semasa mudanya. Padahal ia cantik dan jauh lebih pandai daripada saya.

Bertemu Wellington Koo
Walaupun bahasa Inggris Ibu saya sangat terbatas, berhasil juga ia mendapat teman teman. Banyak teman temannya itu diperoleh lewat roti. Entah dari mana ia belajar membuat roti. Seminggu sekali ia membuat roti dan rotinya itu empuk serta lembut. Suatu hari, tetangga kami, Marquess of Duferin dan isterinya datang, katanya karena tertarik bau roti yang datang dari rumahkami. Sang Marquess kemudian belajar bahasa Cina dari Ibu. Ia tidak berhasil memasukkan pelajaran itu ke otaknya, tetapi setiap pulang selalu mengepit roti buatan ibu.

Putri Alice dari Monaco (Saya rasa ia nenek Pangeran Rainer) juga bertandang karena roti. Ia menjadi teman baik ibu. Ketika kami bepergian kemana mana, kami selalu mendapat sambutan yang baik dari para bangsawan Eropa berkat saran dari Putri Alice.

Kemudian Tjong Lan tinggal di Paris. Suatu hari ia mengirim telegram kepada ibu, menganjurkan ibu dan saya cepat cepat datang. Ternyata, salah seorang anggota delegasi pemerintah Cina yang sedang mengadakan pembicaraan perihal perdamaian setelah PD I, ingin berkenalan dengan saya setelah melihat foto saya di rumah Tjong Lan. Nama anggota delegasi itu Wellington Koo. Walaupun umurnya baru 32 tahun, ia sudah duda karena isterinya meninggal muda. Almarhumah isterinya adalah putri jenderal Tang yang terkenal.

Wellington Koo adalah wakil Cina di AS dan ia lulusan Columbia University. Tjong lan menganggap, ini kesempatan baik buat saya mendapat jodoh. Padahal saya sama sekali tidak tertarik. Bayangkan duda berusia 32 tahun! Namun ibu begitu bersemangat. Dengan ogah ogahan saya pun ikut ke Paris. Benar saja dugaan saya. Gaya Wellington Koo kalah dibandingkan dengan gaya pemuda pemuda teman saya. Rambutnya dicukur pendek model cepak yang kuno itu. Pakaiannya bukan buatan penjahit Inggris terkemuka, tetapi dibeli di sembarang toko biasa di AS. (Setelah menjadi suami saya, mau juga ia memanjangkan rambutnya dan mengganti pakaiannya dengan yang lebih anggun). Ia tidak bisa berdansa, tidak tahu soal menunggang kuda, dan bahkan tidak bisa menyetir mobil.

Saat itu saya juga buta soal politik. Saya tidak tahu mengapa Jenderal Tang memperlakukan Wellington Koo dengan begitu hormat ketika mereka dijamu Tjong Lan. Saat itu Wellington Koo ditempatkan di sebelah saya. Ternyata ia tidak berusaha bercakap cakap tentang dunianya dengan saya. Ia menyesuaikan pembicaraan dengan dunia saya dan sebelum perjamuan berakhir saya sudah agak tertarik kepadanya.

Kami bercakap cakap dalam bahasa Inggris dan menjelang akhir perjamuan ia berkata akan menjemput saya keesokan ahrinya. Sebagai orang nomor dua dalam delegasi, ia mendapat fasilitas mobil dan sopir dari pemerintah Perancis. Saya terkesan. Kami mempunyai banyak mobil dan sopir, tetapi semuanya kami bayar sendiri. Wellington Koo begitu penting rupanya, sehingga pemerintah negara asing menyediakan mobil berpelat diplomatik baginya.

Saya lebih terkesan lagi ketika di opera dan di teater kami mendapat tempat khusus yang disediakan oleh pemerintah. Ayah tidak mungkin mendapat keistimewaan seperti itu, walaupun ia bersedia membayar berapa saja.

Saya pun berdandan serapi mungkin dan mengenakan pakaian saya yang paling indah. Permen dan bunga bunga yang indah mengalir untuk saya dari Wellington Koo, dari beberapa kali sehari ia menelepon saya. Kalau kebetulan saya sedang tidak ada di rumah, ia pun mencari saya sampai dapat. Suatu hari ketika sedang merawat tangan saya di Salon Elizabeth Arden, ia muncul. Saya merasa tersanjung, sebab pria yang mempunyai kedudukan seperti dia mau berbuat demikian demi saya.

Sekali, dalam percakapan saya katakan bahwa saya tidak mungkin diundang ke istana Buckingham, istana Elysee dan Gedung Putih.
Istri saya ikut diundang, kalau saya menghadiri perjamuan resmi di tempat tempat itu,”katanya.
“Tentu isterimu kan sudah meninggal,”kata saya.
Ya, dan saya mempunyai 2 orang anak yang masih kecil, yang memerlukan ibu,“ ketika itu umur saya baru 19 tahun dan saya biasa berbicara tanpa tedeng aling aling seperti ayah saya.
Jadi, kamu ingin menikah dengan saya,“tanya saya.
Ya, dan saya harap kamu mau. Ia tidak berkata bahwa ia mencintai saya, tidak juga bertanya apakah saya mencintai dia. Saya tercengang dan berkata saya akan berpikir pikir dulu.

Menantu Impian
Saya tahu apa yang akan dikatakan ibu. Wellington Koo merupakan menantu impiannya. Kekagumannya kepada Wellington Koo tidak pernah padam. Ibu tidak ragu ragu untuk memujinya secara terbuka. Ia sangat bangga menjadi mertua Wellington Koo. Mungkin ibu lebih cocok buat Wellington Koo daripada saya. (Wellington lahir di tahun babi sedangkan saya di tahun Harimau!)

Tjong Lan memberi saran,”Hui Lan, kamu harus menikah dengan Wellington Koo, jangan seperti saya yang bersuamikan orang yang tidak berarti. Ingat, kamu akan menjadi Madame Wellington Koo dan orang orang akan menyapamu Your Excellency.”

Ketika saya masih ragu-ragu, ibu tidak sabar. Saya katakan bahwa saya tidak siap menjadi ibu tiri. Menurut ibu, saya tidak perlu mengasuh sendiri anak anak tiri saya. Mereka sudah mempunyai pengasuh. Kalau belum, ibu yang akan mencarikan.

Ingat,“kata ibu kepada saya,“sekarang masih ada aku yang akan melindungimu, tetapi aku ini berpenyakit diabetes. Kalau aku sudah tidak ada, kamu kann tidak bisa hidup serumah dengan Tjong Lan, karena kamu tidak akur dengan Ting Liang. Kamu tidak akan diperbolehkan hidup sendiri oleh ayahmu. Kamu harus pulang ke ayahmu, padahal Lucy Ho membencimu. Kamu bisa diracuni.“

Saya pun setuju menikah dengan Wellington Koo. Dengan kegirangan ibu mengirim telegram kepada ayah. Mata-mata ayah menemukan satu titik hitam dalam sejarah hidup Wellington Koo. Ia pernah menikah dan bercerai di Shanghai, sebelum menikah dengan putri jenderal Tang. Ayah balas menelegram ibu,“kalian tolol. Kalau Hui Lan dinikahkan dengan Wellington Koo, ia tidak bisa menjadi istrinya, karena Wellington Koo mempunyai istri yang masih hidup di Cina. Mengapa kalian tega berbuat demikian kepada Hui Lan?”

Ibu tidak akan mundur. Ibu sudah diberitahu oleh Wellington bahwa semasa kanak kanak ia sudah dijodohkan dengan putri tabib yang menyembuhkannya dari penyakit berat. Waktu pulang liburan dari Amerika Serikat (ia mahasiswa yang cemerlang di Columbus University) tahu 1908, ibu dan kakak laki lakinya mengirimkan tandu merah kepada putri tabib itu. Wellington yang lahir 1887 dengan taat membawa gadis desa yang tidak terpelajar ke New York. Istrinya kemudian meminta dipulangkan karena tidak bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan di sana. Diadakanlah rapat keluarga yang memutuskan mereka bercerai. Masa itu perceraian diakui kalau direstui orang tua.

Kemudian Wellington menikah dengan gadis berpendidikan barat, putri Tang Shao Yi, tangan kanan Presiden Yuan Shih Kai. Setelah mendapat gelar master dari Columbus dan lulus dari sekolah hukum di Yale, Wellington Koo kembali ke Cina untuk menjadi sekretaris dan penerjemah bagi Yuan di Beijing.

Wellington Koo berasal dari keluarga yang tidak kaya tidak pula miskin. Mereka termasuk kuno. Kaki ibunya masih diikat dan ibunya itu hanya bisa berbahasa Cina dialek Shanghai, serta tidak pernah pergi jauh dari rumah. Ketika bersekolah di Amerika Serikat, Wellington hanya bisa tinggal di asrama murah dan hidup sederhana sekali. Istrinya, putri Jenderal yang berpendidikan barat itu penurut, berbeda dengan saya.

Pertunangan kami diumumkan di Hotel Ritz di Paris, sedangkan pernikahan kami dilangsungkan di kedutaan Cina di Brussels, Belgia. Hari itu Tjong Lan sakit, sehingga hanya ibu yang hadir. Ayah dan keluarga Wellington tidak bisa datang karena jarak yang jauh. Pernikahan harus dilangsungkan sebelum Wellington menggantikan Alfred Tse sebagai Minister (Jabatan yang lebih rendah dari duta) Cina di London. Saya mendapat hadiah Rolls-Royce dari ibu. Seragam sopirnya dibuat di Dunhill. Ibu juga menghadiahkan peralatan makan dari perak, yang waktu itu harganya 10,000 poundsterling. Benda itu masih saya miliki sampai sekarang, walaupun sudah lama sekali disimpan di bank dengan ongkos US$200 dollar setahun.

Sarung bantal bagi kami diberi kancing yang berhiaskan intan. Semua itu tentu saja ayah yang membayar, meskipun ibu yang membelinya. Hadiah perhiasan dari Wellington termasuk sederhana bila dibandingkan dengan yang saya dapat dari ibu.

Cintanya hanya untuk Cina.
Ketika kami sudah berada di hotel, saya menanggalkan pakaian pengantin saya yang dibuat dari Callot untuk berganti dengan negligee yang seksi untuk menyenangkan suami saya. Ternyata ia tidak memperhatikan saya ketika saya memasuki ruang duduk suite kami. Ia sedng sibuk bekerja dikelilingi empat sekretarisnya. Jadi saya duduk saja menunggunya.

Malam itu juga kami harus berangkat dengan kereta api ke Jenewa. Karena keesokan harinya Liga Bangsa-Bangsa dibuka dan Wellington Koo merupakan ketua delegasi Cina. Perhatian Wellington Koo hanya untuk Cina. Ia memang orang yang diperlukan oleh Cina, tetapi bukan suami yang tepat untuk saya. Otaknya cemerlang, tetapi ia tidak mampu bersikap mesra dan menunjukkan kelembutan.

Sore itu, sebelum berangkat untuk menghadiri resepsi pernikahan yang diadakan bagi kami oleh wakil cina untuk Spanyol yang khusus datang dengan istrinya. Pesta resmi itu dihadiri pejabat2 Prancis, Belgia, dsb. Ibu ikut dengan kami ke Jenewa. Pagi pagi saya dibangunkan oleh Wellington yang ternyata sudah berdandan rapi dan sudah sarapan. Katanya, di stasiun kami akan disambut seluruh delegasi cina. Cepat2 saya berdandan. Saya mendapat karangan bunga mawar yang besar sekali dari penyambut. Ibu saya juga, sehingga ia senang sekali.

Kami mendapat suite yang mengesankan di hotel Beau Rivage yang menghadap ke danau. Suami saya segera diambil para sekretaris untuk rapat. Wellington mengingatkan saya bahwa ibu saya berada di hotel itu juga dan mungkin menunggu saya. Jadi, saya pergi menemui ibu. Kami makan siang bersama lalu pergi berbelanja. Rasanya seperti belum menikah saja.

Saya sangat tercengang dan juga tersinggung ketika Wellington dan Wang mengatur tempat duduk tamu di perjamuan yang kami adakan tanpa meminta pendapat saya sama sekali. Saya bergidik melihat kartu bertuliskan nam orang yang akan duduk di kiri kanan saya, karena mereka orang orang yang sangat membosankan. Jadi, saya atur kembali letak kartu2 di meja perjamuan. Tahu-tahu, ketika saya sedang berdandan, Wellington masuk,“Hui Lan, ini bukan pesta pribadimu,“katanya. Kamu menjamu mewakili Cina, sehingga para tamu harus didudukkan sesuai dengan tingkatan mereka, agar tidak ada seorangpun yang merasa terhina atau hilang muka.“ Itulah pelajaran pertama yang saya dapat mengenai protokol. Kemudian saya sangat ahli dalam mengatur tempat duduk para tamu, sehingga tugas itu diserahkan kepada saya, bukan kepada pejabat kedutaan besar, yaitu setelah hubungan kami dengan negara negara meningkat menjadi kedutaan besar.

Suami lebih suka memakai mobil bekas.
Sejak semula Wellington gigih memperjuangkan pemulangan Shantung dari Jepang kepada Cina. Sebelum menikah dengannya saya tidak tahu menahu perihal itu, namun saya belajar dan mulai menginsafi posisi dan tanggungjawabnya yang besar.

Kami sering harus menghadiri resepsi resmi, Ia terlalu sibuk untuk memperhatikan pakaian saya, padahal saya mendapat banyak pujian. Suatu malam, sepulang resepsi, saya tanyakan kepadanya apakah sikap saya selama ini cukup memuaskan dan tidak dipergunjingkan orang? Ia mendekati saya. Saya kira ia akan memeluk saya, ternyata ia hanya mau mencopot anting anting intan saya. “Saya sudah memberi kamu perhiasan satu satunya yang bisa saya belikan,”katanya.”Saya ingin kamu memakainya, bukan perhiasan dari orang lain, walaupun banyak dikagumi dan dibicarakan orang.”

Saya tertegun. Perhiasan yang saya kenakan, sebagian besar pilihan ibu dan dibayar oleh ayah. Saya tersinggung karena suami saya menghendaki perhiasan itu disingkirkan. Ia memang menikah dengan saya bukan karena uang saya, terapi ia tahu perhiasan itu merupakan bagian dari saya.

Ia juga menyarankan agar pesanan Rolls Royce dibatalkan saja, sebab ia tidak sanggup membeli Rolls Royce. “Ayah bisa dan dia memberinya kepada kita,”jawab saya. Kata Wellington, ia akan membeli mobil bekas Alfred Sze. Mobil bekas dengan seragam sopir yang juga bekas? Jangan harap saya mau,”jawab saya. Akhirnya Wellington berkata, saya boleh naik Rolls Royce saya, tetapi ia sendiri akan naik mobil bekas Sze.

Roll Royce pesanan ibu menjadi bahan percakapan di London. Tampaknya Wellington tidak perduli. Ia juga tidak perduli saya terus menerima kiriman uang dari ayah. Pikir saya, goblok sekali kalau saya tidak memanfaatkan pemberian itu. Sementara itu saya juga mulai menikmati menjadi istri seseorang yang banyak perhatian dan penting.

Saya mendesak Wellington untuk memugar dan mengganti perabot kami di Portland Place yang suram itu. Ia mengingatkan bahwa Cina tidak kuat membayarnya. Ayah memiliki banyak uang. Keluar beberapa ribu dollar tidak berarti apa apa baginya,”desak saya. Ia mengingatkan bahwa semua yang saya bayar akan menjadi milik Cina. Saya tidak perduli. Ketika itu tidak pernah terpikir oleh saya bahwa uang ayah bisa habis. Tidak pernah terlintas dalam pikiran saya bahwa,”Tiada Pesta yang tidak berakhir.” Pepatah itu, menurut teman lama saya, E.T. Cheng yang kemudian menjadi dutabesar di London, adalah pepatah Cina yang paling menyedihkan.

Tampak serasi padahal tidak sejalan.
Masa itu banyak hal yang tidak saya pahami. Namun saya tahu dari ayah bahwa uang bisa berbuat banyak. Bagi saya, hidup lebih mewah daripada yang dimungkinkan oleh gaji Wellington bukanlah masalah. Hal itu tidak merugikan Cina, malah menguntungkan, sebab biayanya saya dapat dari ayah saya.

Saya masih ingat, ketika dengan pertama kali ke Istana Buckingham yaitu saat Wellinton menyerahkan surat-surat kepercayaan kepada Raja George V dan Permaisuri Mary. Putri Alice sebelumnya sudah mengajari saya curtsy, yaitu cara wanita memberi hormat kepada keluarga raja2. Ia juga berpesan agar saya jangan berbicara kalau tidak ditanya. Keluar dari istana, Wellinton berkomentar,”Kita ini memang pasangan yang hebat,” Ya, makin lama saya bertambah matang. Saya pandai mengatur seperti ayah dan memiliki selera seperti ibu. Saya pasangan yang sepdan bagi Wellington. Begitulah tampangnya dari luar, padahal pernikahan kami tidak berjalan dengan mulus.

Orang orang mengagumi otak suami saya, tetapi kami cuma negara kelas dua, sebab masa itu Cina bukan negara yang kuat. Kekuatan2 besar cuma mengirimkan wakil setingkat minister ke Beijing, bukan duta besar. Kami ditempatkan jauh di bawah para dubes. Suatu kali, ketika pulang dari suatu upacara, dengan bergurau saya katakan kepada Wellington,”Saya tidak ingin seumur hidup menjadi istri Minister, Kapan kamu menjadi dubes?” Bisa dipahami kalau Wellinton jengkel.“Kalau kamu tidak puas dengan keadaanmu sekarang, kapan pun kamu tidak akan puas. Saya tidak bisa mendapat kedudukan lebih tinggi lagi dari ini, minister untuk Istana Saint James!”

Putra sulung saya lahir di Washington, 30 Januari 1922, ketika suami saya menghadiri konferensi pembatasan Persenjataan, yang juga membicarakan nasib Shantung. Wellington memilih nama Kai Yuen yang berarti “zaman baru”. Namun nama resmi putra kami itu Yu Chang yang diberi oleh abang sulung suami saya. Namun sejak semula orang orang lain memanggil putra kami Wellington junior, sehingga seterusnya kami sebut ia junior.

Ayah berubah
Tahun 1916 keadaan cina kacau. Presiden Yuan Shih Kai meninggal tidak lama setelah berusaha menjadikan dirinya kaisar. Penggantinya lemah, Wellington yang sudah tujuh tahun meninggalkan cina dipanggil pulang. Dalam perjalanan ke Cina dengan S.S. Khyber kami singgah di Singapura. Tahu tahu pintu kabin kami diketuk pelayan. “Seorang pria berpakaian putih ingin bertemu dengan Anda, Madame. Katanya, beliau ayah saya.”

Dengan kegembiraan meluap luap saya membuka pintu. Saya perkenalkan ayah kepada Wellington. Mereka bersalaman secara formal seperti orang Eropa. Keesokan harinya saya dijemput ayah dengan perahunya sendiri. Di Pelabuhan sudah menunggu mobil bersopir. Namun, ketika tiba di kediaman ayah merasa ibu. Tidak ada istal, tidak ada bermacam macam dapur. Pelayan pun tidak banyak. Ayah bahkan tidak memiliki pelayan pribadi. Di lahan tmepat tinggalnya berdiri beberapa rumah. Rumah tempat tinggal denganLucy Ho mirip rumah pengusaha kecil Bahkan air leding dan WC dudukpun tidak ada.

Berulang ulang saya bertanya mengapa ia hidup seperti itu. Kemana ciri2 kemegahannya ? Ia tidak menjawab pertanyaan pertanyaan itu. Katanya, bisnisnya berjalan seperti biasa, Hauw maupun Swan bisa diandalkan. Kantor ayah di Singapura pun berjalan dengan baik, tetapi ia jarang ke sana.

Saya begitu sedih menyaksikan perubahan cara hidupnya dan melihat semangatnya merosot dalam mengurusi bisnis. Akhirnya ia berjanji kepada saya akan membeli mobil baru dan akan melengkapi salah sebuah rumah di lahannya dengan segala kemewahan,termasuk air leding dan WC.

Ayah berkata, saya tidak perlu khawatir. Neraca pribadinya bahkan lebih beres, karena ditangani sendiri oleh Lucy Ho. Berlainan dengan gundiknya yang lain . Lucy Ho terpelajar. Saya tetap khawatir. Saya tahu, tidak semua istri setia. Mengapa Lucy Ho membiarkan dirinya terikat pada pria yang menghamilinya setiap tahun ? Saya memperingatkan ayah agar jangan mencampuradukkan seks dengan bisnis. Ayah tertawa,”kamu dan ibumu akan jauh lebih kaya, kalau pemasukan dan pengeluaran uang kalian seperti Lucy Ho.”Saya pun tertawa dan menjawab,”Buat apa saya repot2 mengurusi neraca dan menelusuri kemana uang saya kalau saya mempunyai ayah seperti ini?”

Sama seperti saya, Lucy Ho rupanya lebih suka kalau kami tidak bertemu muka. Ia hanya muncul kalau makan siang. Ia mengenakan saraung dan berkebaya putih. Ia bertelanjang kaki dan rambutnya disanggul. Sanggulnya itu disemat dengan tusuk sanggul Kami bersikap resmi dan ia memasang wajah tidak ramah. Siangnya, waktu saya tanyakan kepada ayah apakah ia tidak rindu istananya di Semarang dan kemegahan hidupnya di masa lalu, ayah menggeleng. Saya merasa sedih. Lucy Ho sudah berhasil menghapuskan kenangan lama ayah dan saya tidak berhasil membujuknya untuk hidup menurut caranya yang lama. Kata ayah, Lucy Ho berlainan dengan saya dan ibu. Ia tidak terbiasa hidup dikelilingi banyak pelayan. Kehadiran banyak pelayan membuatnya risih.

Dibelikan istana
Tampaknya ayah dan Wellington tidak saling menyukai. Mereka memang berbeda. Wellington memberi saya posisi yang penting di mata dunia. Ayah memberi saya uang untuk menaikkan gengsi jabatan Wellinton, membelikan Rolls Royce yang kini berada di dalam kapal, dan menjadikan saya perempuan yang ingin dinikahi oleh Wellington

“Kamu perlu uang saku?” tanya ayah dengan lembut ketika sopir mengantarkan saya ke kapal.”Selalu,”jawab saya. Ayah menjejalkan uang kertas ke tas saya yang jumlahnya ternyata lebih dari US$ 50,000. Saya tidak tahu apakah Lucy Ho tahu ayah memberi saya uang sebanyak itu. Yang jelas, saya tidak memberitahu Wellington.

Di Shanghai kami disambut dengan meriah. Kakak sulung Wellington sudah menyewakan kami rumah yang dianggapnya hebat sekali, tetapi menurut ukuran saya sangat mengecewakan karena tidak memiliki air leding dan WC duduk. Tempat tidurnya keras, karena berupa ranjang kayu tradisional. Jadi, saya membawa anak anak dan para pelayan inggris kami ke hotel. Wellington sebenarnya tidak setuju karena tidak mau menyinggung perasaan abangnya.

Dengan uang ayah , kami berhasil mendapat istana di Beijing. Istana itu memiliki 200 ruangan dan terletak di tanah seluas kira2 4,6 ha. Istana itu dijual murah oleh pemiliknya, US$100,000, karena ia takut disita oleh pemerintah. Saya menghabiskan US$ 150,000 lagi untuk mendandaninya. Uangnya tentu saja saya daat dari ayah. Istana itu dibangun Kaiser pada abad XVII untuk seorang gundik yang paling dicintainya. Di istana ini kemudian Dr. SunYat Sen presiden pertama Cina, meninggal 1925.

Di sini kami mempunyai 40 pelayan. Saya tidak usah pusing mengurusinya, karena Wang yang setia bertindak sebagai majordomo. Putra kedua, saya lahir diistana ini 24 Juli 1923 malam. Wang membangunkan Wellington untuk memberi tahu.
Tuan, Anda mendapat putra Ketiga.”
Bagus,”jawab Wellington yang segera mengatupkan matanya kembali.
Saya terlalu naif untuk mengharapkan suami saya, memberi penghargaan atau menunjukkan kepuasan. Lama kelamaan saya insaf bahwa bayi dan anak anak tidak begitu menarik baginya. (Ketika Wellington sudah menjadi dubes di Paris, pernah ia berpapasan dengan Junior di jalan, yang sedang berjalan jalan dengan pengasuhnya. Namun Wellington tidak menegurnya sepatah kata pun. Setiba di rumah, Junior berkata kepada saya,”Ibu saya rasa ia tidak mengenal saya.”)

Putra saya yang kedua diberi nama Fu Chang oleh abang sulung Wellington, tetapi ia sering dipanggil Freeman. Bekas raja Muda India, Marquess of Wellingdon yang nama aslinya Freeman Freeman Thomas, memberinya nama demikian. Nama Cina sulit diucapkan olehlidah barat. Karena itulah suami saya mendapat nama Barat dari guru atau teman, yang mendekati bunyi nama aslinya. Hui Lan tidak sulit diucapkan , sehingga saya tidak perlu ganti nama.

Ayah Merasa Lelah
Pada masa itu, kalau sya pulang dari bepergian, saya sering menemukan jepit rambut perempuan atau bedak di ruang duduk saya. Wellington pun sering pergi berakhir minggu entah kemana. Di Pihak saya sendiri, tidak pernah terpikir oleh saya untuk menyeleweng, walaupun saya digoda. Menurut orang tua tua, tidak pantas saya pergi berbulan bulan ke tempat ayah, meninggalkan suami. Kalau saja Wellington keberatan, saya tidak akan pergi berlama lama. Namun ia selalu sibuk dan tidak pernah kelihatan gembira kalau saya pulang dari mana nana.

Kalau saya kaji kembali sejarah hidup saya, saya hanya pernah sekali jatuh cinta, yaitu ketika saya masih berumur belasan tahun di Singapura. Orang tua saya sama sekali tidak setuju pada pilihan saya. Mungkin mereka benar. Ketika berpuluh tahun kemudian saya bertemu kembali dengan Siao Kuan, saya juga kecewa.

Ketika saya menemui ayah kembali di Singapura, rumah yang dijanjikannya belum selesai. Ayah menyewakan serangkaian kamar di Raffles Hotel. Hampir setiap malam kami makan bersama. Setiap kali saya hanya berniat untuk tinggal beberapa minggu, tetapi akhirnya menjadi berbulan bulan. Pada kunjungan ke singapura sekali ini, di luar dugaan, saya diundang gubernur jenderal ke perjamuan di rumahnya. Saya pikir, ini kesempatan bagi saya untuk mengajak ayah. Ia senang sekali, sebab kesempatan seperti ini, tidak bisa dibeli dengan uang. Karena tidak mempunyai rencana untuk menghadiri perjamuan di rumah gubernur jenderal, saya tidak membawa perhiasan mahal ke Singapura. Ketika ayah melihat saya memakai perhiasan biasa, ia masuk ke rumahnya dan ketika kembali ia melemparkan ke pangkuan saya perhiasan intan yang besanya berpuluh puluh karat.

Orang Cina yang dundang cuma kami berdua dan Sir Robert Ho tung dari Hong Kong. Selebihnya orang Inggris. Padahal ayah tidak paham bahasa Inggris dan ingin duduk di sebelah saya. Saya jelaskan masalahnya pada ajudan gubernur jenderal, yang lantas menempatkan ayah di sebelah saya. Malam itu semua berjalan lancar, cuma saja nyonya rumah yaitu Lady Guillemard mungkin heran melihat pengaturan tempat duduk berubah.

Pulangnya saya mentraktir ayah makan di pecinan. Di sini ia merasa bebas, sebab tidak ada pengalang bahasa. Ketika kembali ke Cina, saya bawa perhiasan yang malam itu saya pakai ke Perjamuan. Soalnya, ayah tidak memintanya kembali. Saya tidak tahu apakah perhiasan itu milik Lucy Ho atau bukan.

Saya masih bertemu ayah sekali lagi. Suatu ketika ia menulis surat, memberi tahu villa saya sudah hampir selesai dan saya diminta memberi saran penyelesaiannya. Saya datang ke Singapura. Pada kesempatan ini ayah diramal oleh seorang India. Kata orang itu semua orang hanya mencintai ayah karena uangnya. Cuma ada satu orang yang benar benar mencintainya. Ia memperingatkan bahwa ada musuh yang akan meracuni ayah. Saya khawatir dan mengajak ayah meninggalkan Singapura, tetapi ayah tidak mau. Ia tenang saja. Dengan was was saya meninggalkan ayah. Kata katanya yang terakhir ketika mengantarkan saya ke kapal adalah,“Hui Lan, aku lelah.“

Oei Tiong Ham meninggal
Tiga bulan kemudian, saya menerima kawat dari Tjong Swan, yang memberitahu ayah meninggal tiba tiba akibat serangan jantung pada 6 Juni 1924. Inilah awal masa suram bagi saya. Selama ia hidup, saya tahu saya aman. Bukan hanya dalam hal keuangan, tetapi lebih dari itu. Selama ada ayah, tidak seorang pun berani berbuat jahat terhadap saya.

Saya memberitahu ibu di London dan mengajaknya menghadiri pemakaman. Ibu menolak, saya takut pergi sendiri. Jadi, Wellington menyarankan saya membawa Wang, majordomo kami yang setia dan seorang pelayan perempuan ke Singapura. Peti Jenazah sudah ditutup, dikelilingi orang orang yang benar benar asing buat saya, yaitu teman teman Lucy Ho. Saya insaf, sekarang saya orang luar.

Mengingat ramalan orang india beberapa waktu lalu, saya meminta jenazah ayah diautopsi, sebab saya curiga Lucy Ho meracuninya. Namun menurut penasihat hukum di Singapura, sebagai anak perempuan almarhum saya tidak berhak meminta autopsi terhadap jenazah ayah. Kalau ibu hadir, dia lah yang berhak memintanya.

Tjong Wan dan Tjong Hauw mengatur pemakaman yang akan dilakukan di Semarang. Jenazah ayah diangkut dengan kapal. Tjong hauw mengosongkan rumahnya supaya bisa saya tempati. Ia sendiri mengungsi ke rumah lain. Sebagai anak istri sah, saya duduk di kerta pertama yang mengiringi jenazah ke pemakaman. Swan, Hauw , dan para putra ayah dari gundik gundiknya berjalan di belakang kami. Pemakaman dilaksanakan tanpa biksu. Saya merupakan orang pertama yang diminta melemparkan tanah ke liang lahat. Untuk mencegah pertemuan dengan Lucy Ho dan anak anaknya, saya segera meninggalkan tempat itu.

Saya diberitahu bahwa Lucy Ho dan anak anaknya berani pindah ke istana kami, tetapi hal itu sudah tidak berarti apa apa lagi buat saya. Saya bahkan tidak sampai hati melihat rumah itu lagi. Saya tinggal beberapa hari di Semarang untuk menjenguk keluarga ibu. Mereka menjamu saya di sebuah hotel, yang paling baik di Semarang sehingga saya merasa terharu.

Ayah memberi saya warisan yang dijanjikannya. Ibu mendapat beberapa juta dollar dan Tjong Lan mendapat satu juta dollar. Namun perusahaan ayah dibagi antara Tjong Hauw, Tjong Swan dan Lucy Ho. Saya yakin kalau ibu datang, ia bisa membatalkan surat wasiat ayah. Swan setelah upacara berkabung selesai, segera menjual bagiannya kepada Hauw dan Lucy Ho. Kemudian Swan pindah ke Belanda.

Hauw memang sudah dekat dengan Lucy Ho dan lebih dekat lagi sejak Lucy Ho pindah ke Jawa. Mereka sudah meninggal sekarang. Saya dengar Lucy Ho meninggal di Swiss akibat kanker. Swan meninggal akibat infeksi gigi yang ditelantarkan dan pada 1951 Hauw pun meninggal di Jakarta karena serangan Jantung.

Bisnis ayah di Indonesia diam diam diambil oleh Jepan dan sisanya kemudian diambil oleh pemerintah Soekarno. Belum lama ini saya dengar, warisan yang saya terima dari ayah masih berada atas nama saya. Suatu ketika mungkin saya bisa menjualnya.

Tahun 1936;Wellington menjadi dubes cina pertama untuk Prancis. Saya pergi ke Paris, meninggalkan banyak harta benda saya di Cina. Saya juga meninggalkan perhiasan almarhumah isteri Wellington di sebuah bank di Shanghai, dengan maksud akan diberikan kepada putri mereka, Pat, kalau Pat sudah dewasa. Tidak terpikir oleh kami kalau semuanya akan amblas, karena Cina kemudian dikuasai oleh Komunis.

Diundang Ibusuri
Musim dingin 1943 Wellington dijadikan dubes di London. Kami berteman baik dengan Menteri Luar Negeri Anthony Eden dan pernah dijamu oleh PM Churchill, kemudian juga oleh PM Attlee. Suatu hari saya mendapat undangan dari Ibu Suri Mary. Kemudian saya balas mengundangnya untuk makan malam di kedubes kami.

Tinggal di rumah bekas penemu telepon
Kami bisa mengadakan perjamuan megah dsb, berkat uang warisan dari ayah, sebab apara duta besar waktu itu cuma US$ 600 sebulan, ditambah tunjangan perjamuan, rumah , supir dan pelayan kami peroleh dengan gratis.

Pakaian saya selalu saya usahakan dari kain sulaman cina kuno yang saya jdikan pakaian modern,tetapi dengan sentuhan cina. Baru setelah kain kain cina itu usang di masa perang dan saya tidak lagi mendapatkannya lagi, saya berganti berpakaian eropa.

Teman baik saya semasa di London adalah Joseph Kennedy, Jr. Sayang, ia gugur dalam perang. Kalau tidak , pasti ia menjadi menjadi presiden AS.

Saya ikut menjadi sukarelawan Palang Merah Inggris di bawah Edwina Mountbatten di masa perang itu. Saya menjalankan tugas2 saya dengan tertib. Perkara ketertiban saya bsia diandalkan, sebab ibu dan ayah sangat menetapi waktu. Berbeda dengan Wellington yang terlambat melulu.

Tahun 1945, putra saya Freeman ingin menjadi tentara nasionalis cina. Saya meminta Wellington mempergunakan pengaruhnya. Freeman pun menjadi ajudan seorang jenderal. Hal ini bisa tejadi antara lain karena kefasihan Freeman berbahasa Inggris.

Tahun 1946 Wellington menjadi dubes cina untuk AS. Kedubes cina di washington tadinya rumah penemu telepon Alexander Graham Bell. Tetangga di sebelah rumah saya adalah Marjorie Merriweather Post yang kaya raya itu. Kalau mengundang saya ke pestanya ia selalu berpesan,”Jangan ajak Wellington.”Hubungannya dengan suaminya pun tidak baik, ketika itu, ia bersuamikan Davies.

Pada masa Wellington menjadi dubes AS ini, Madame Chiang Kai Shek (isteri presiden Cina Nasionalis) pernah menjadi tamu kami. Ia boleh dikatakan tidak mengenakan perhiasan dan makanan permintaannya sederhana sekali. Karena suaminya tidak bisa berbahasa Inggris, madame Chiang yang mendapat pendidikan di AS itulah yang diutus ke AS untuk berpidato di hadapan kongres. Menurut saya, Chiang pun orang yang sederhana dan makannya sedikit sekali. Lingkungannyalah yang brengsek.

Kami juga berhubungan baik dengan wakil presiden Richard M. Nixon dan isterinya yang bijaksana itu. Kami sempat menghadiri upacara pelantikan presiden Harry S. Truman dan Presiden Dwight D. Eisenhower.

Ibu pernah tinggal bersama saya, tetapi kemudian menderita kanker sehingga harus dirawat di sebuah rumah sakit di New York. Ketika ibu meninggal tidak lama kemudian, Wellington mengusahakan pemakaman yang paling megah, yang dihadiri oleh para pejabat cina dan para dubes. Sembahyangan dilakukan dengan pimpinan biksu, saya merasa sangat kehilangan sampai lama sekali.

Hari Mendung tiba.
Berkat intrik dari orang yang sebenarnya dekat dengan kami, Wellington ditarik pulang. Ketika itu pemerintah Cina Nasionalis sudah pindah ke Taiwan. Saya membawa beberapa pakaian dan mobil saya meninggalkan Wellington dan kedubes. Ketika itu tahun 1956. Sudah sepuluh tahun kami tinggal di Washington. Saya menyewa apartemen di Sutton Palace, New York, tempat saya hidup ditemani dua anjing peking saya. Waktu itu saya belum tahu bagaimana caranya menyalakan oven ataupun merebus telur, jangankan lagi memasak. Wang ikut dengan Wellington, sedangkan kedua pelayan saya memilih bekerja di tempat lain sementara koki kami membuka restoran.

Kemudian saya belajar memasak dari Pat, putri tiri saya yang dulu rajin memperhatikan koki kami memasak. Kini saya bisa memasak ayam dengan paprika, tim ikan dengan tausi dan pelbagai macam makanan dar bahan laut. Saya pun mencari perabotan praktis saja. Saya masih memiliki beberapa perabot yang dulu saya beli dan juga pemberian ibu. Perhiasan saya, saya taruh di bank, tetapi sebagian saya simpan di rumah.

Suatu hari sepulang mengajak anjing saya berjalan jalan, saya disergap perampok. Dua orang bule itu mengikat kaki dan tangan saya dan membuntal saya dengan selimut seperti lumpia saja. Mereka tampaknya tahu betul dimana saya menyimpan perhiasan saya. Perhiasan senilai seperempat juta dollar itu amblas mereka gondol.

Setelah perang usai, sulit sekali mengurus rumah rumah kami di pelbagai tempat di eropa. Dengan susah payah berhasil juga saya menjualnya, walaupun dengan harga murah. Saya mengagumi Ny. Kung, seorang Methodist yang tabah. Ia menghibur saya,“Apa pun milik kita yang hilang, jika Anda mencintai Tuhan, Anda tidak akan terpengaruh.“

Pesta sudah berakhir
Kini saya jarang menjamu dan enggan menghadiri perjamuan. Kalaupun sekali2 saya hadir, saya tidak sakit ditempatkan di bagian meja mana pun, asal jangan di kolongnya.

Saya merasa masih beruntung sebab Pat, anak anak saya, dan cucu cucu saya semua tetap hormat dan mendengarkan kata kata saya. Putra Sulung Wellington masuk AU Nasionalis dan berada di Taiwan. Ketika salah seorang putra saya sakit dan gundiknya menjenguk ke rumah sakit, saya memukul kepala perempuan itu dengan payung. Putra saya mungkin tidak senang, tetapi ia tidak berani berbuat apa apa, sebab saya ibunya. Menantu saya, Edith, sangat berbakti terhadap saya. Kalau ayah mertuanya mengundang ia makan, ia selalu permisi dulu kepada saya sebelum menghadirinya. Wellington tinggal di Mount Vernon bersama seorang perempuan yang diperkenalkannya kepada semua orang sebagai isterinya, tetapi saya tetap menganggapnya sebagai gundiknya, sebab saya tetap Ny. Wellington Koo yang sah.

Saya merasa mempunya pertalian emosional dengan Indonesia tempat saya dilahirkan. Ayah tidak pernah mengajari saya berbisnis. Pada tahun 1968 saya pernah mencoba melaksanakan bisnis di Indonesia bersama dua rekanan perempuan Timur. Kami ingin mengusahakan perkapalan, tembakau dan sepeda tetapi gagal.

Kini saya berpendapat, berkenalan dengan kaum ningrat dan orang berduit tidaklah penting. Otak dan kepribadian lebih penting. Kita bisa menderita akibat haus kekuasaan, tetapi kita bis mendapat kesenangan dari sikap hormat, kesederhanaan dan sifat lurus. Kita seharusnya menghargai orang orang lain dan hidup ini. Seperti kata ibu, kita harus puas dengan yang kita miliki.

Tjong Lan sudah meninggal di New York tahun 1970. Suaminya meninggal setahun sebelumnya. Banyak teman baik saya pun sudah meninggal, tetapi saya banyak mendapat teman baru yang masih muda. Saya sering mengenang anjing anjing saya yang sudah mati, yang memberi saya cinta kasih dan kebahagiaan pada tahun tahun terakhir. Saya harap suatu waktu kelak mereka akan dilahirkan lagi. Kalau demikan halnya, saya yakin kami akan saling mengenali.

Catatan Redaksi: Oei Hui Lan masih bisa memberi kata pendahuluan untuk buku Raja Gula Oei Tiong Ham yang ditulis Liem Tjwan Ling, Maret 1978. Ketika itu Hui Lan masih menjadi Chief Executive Amerabia Corporation.

disalin dari http://kisahmotivasihidup.blogspot.co.id/2012/04/kisah-tragis-oei-hui-lan-putri-orang.html

Sekilas kisah Jakob Oetama

Seri Tokoh Bisnis
taken from: Kompas

SEKILAS PROFIL JACOB OETAMA

Desember 2007 Jakob Oetama: Perusahaan Ini Diberkati Tuhan
(Untuk memberikan contoh kepemimpinan bagi dunia usaha dan bagi bangsa, Majalah SWA, Synovate Research Reinvented, dan Dunamis memberikan penghargaan bagi Chief Executive Officer (CEO) terbaik tahun 2003, Senin (26/1/ 2004). Penghargaan diberikan kepada 10 CEO dari berbagai perusahaan berbeda yang telah mampu menunjukkan kinerja dan kepemimpinan terbaik bagi perusahaan masing-masing. Dari kesepuluh CEO, Presiden Direktur Kelompok Kompas Gramedia (KKG) Jakob Oetama terpilih sebagai CEO terbaik. Rupanya SWA mewawancarainya dan memuat di majalahnya. Karena terus terang saja, saya termasuk ‘pengagum’ JO –begitu bos KKG itu biasa disebut — maka saya kutipkan di sini. Mudah2an memberi banyak manfaat untuk Anda. )

Rabu, 21 Januari 2004

Oleh : Henni T. Soelaeman

Sosoknya dikenal santun, bersahaja, dan pemalu. Ia mengangankan kemakmuran bagi Indonesia mini yang bernama Kelompok Kompas Gramedia. Bagaimana ia memimpin lebih dari 10 ribu karyawannya?

Pada penghujung Januari 2001, matahari baru sepenggalah, seorang karyawan Kelompok Kompas Gramedia (KKG) bergegas memasuki lift. Ketika angka enam menyala dan pintu lift terbuka, perasaan sukacita masih menyergapnya.

“Gile, gue mau ngomong apa, ya,” batinnya seraya terus melangkah menyusuri koridor sebelum akhirnya masuk satu ruangan. Ia masih tak percaya saat sekretaris Jakob Oetama menelefonnya. “Dipanggil Bapak.” Selama lebih dari lima tahun bekerja sebagai karyawan KKG, baru pertama kali ini ia menjejakkan kaki di ruangan itu dan bertemu dengan Jakob Oetama, berdua saja di ruang kerja Presiden Direktur dan Chief Executive Officer KKG.

“Terima kasih atas bantuan yang Bapak berikan.” Kalimat itu langsung meluncur dari mulut si karyawan itu begitu berhadapan dengan Jakob. Pada hari sebelumnya, atasannya memberikan titipan bantuan dari Jakob atas musibah yang menimpa keluarganya. “Saya ini seorang ayah yang memiliki banyak anak. Kamu layaknya seorang anak yang kalau punya masalah atau persoalan datang ke bapaknya.” Kalimat yang disampaikan Jakob itu sampai saat ini masih tersimpan di memorinya.

Sepenggal kenangan juga disimpan August Parengkuan, wartawan senior Kompas dan Presiden Direktur PT Duta Visual Nusantara Tivi (TV7). Ketika berada di Australia untuk tugas jurnalistik, Jakob Oetama menelefon istrinya.

“Ia menanyakan kabar keluarga, termasuk anak-anak, selama saya pergi. Bagaimana saya tidak terharu,” kenang August. Menurut dia, bukan hanya ia saja yang mendapatkan perhatian khusus. Karyawan lain pun memperoleh perlakuan yang sama dari Jakob. Bos KKG itu sering jalan-jalan mendatangi unit lain.

Sapaan, semisal selamat pagi, apa kabar, meluncur dari bibir Jakob saat berpapasan dengan karyawan KKG, entah itu office boy, staf, sampai manajemen puncak. Terkadang Jakob sekadar tersenyum atau menepuk bahu atau punggung karyawan yang ditemuinya. Tengah malam menjelang dini hari, meski tidak serutin dulu, Jakob menyambangi percetakan. “Bayangkan, CEO yang memimpin 10 ribu karyawan bersikap seperti itu,” ujar August.

August juga merekam kenangan lain. Saat Jakob masih menjadi komandan Kompas, sering tiba-tiba saja ia muncul di ruang redaksi. “Sedang mengerjakan apa? Ada kesulitan atau tidak? Sudah makan?” Begitu J.O. — panggilan akrab Jakob — menyapa anak buahnya yang berkutat dengan deadline. Pada hari tertentu, ruang redaksi Kompas ?pecah? oleh jeritan kaget seorang rekan karena mendapatkan kartu ucapan selamat ulang tahun di mejanya dari J.O. “Sekarang jarang, ya, karyawannya sudah ribuan,” aku Jakob.

Jakob dikenal luas sebagai orang bersahaja. “J.O. ditawari fasilitas mobil Mercedes Benz, namun ia menolaknya,” cerita August. August, yang menambahkan, sebenarnya J.O juga pemalu. Ia sering terlihat berdiri sendirian di pojok saat menghadiri pesta. Ia juga memilih datang sendiri, tanpa sang istri. Selain pelahap buku dan jogging setiap pagi, tak banyak karyawan yang tahu kehidupan pribadi Jakob. Memanusiakan manusia, begitulah filosofi J.O.

“Saya sosok yang I do care,” ungkap J.O. Ia tak pernah memandang level karyawan. Siapa pun disapanya. Siapa pun dia dijenguknya kalau mendapatkan musibah, semisal keluarganya sakit atau meninggal. Saat sopir kantor di kampung sakit, J.O., seperti diceritakan August, menengok ke rumahnya. “Ibaratnya kami bekerja di sini diuwongke,” kata August. Tapi, beberapa tahun terakhir ini, karena faktor usia yang sudah merambat tua, J.O. mengaku tak selalu menyambangi langsung ke rumah karyawan yang tertimpa musibah. “Sudah tak sekuat dulu dan karyawannya makin banyak,” tuturnya.

Perhatian dan kepedulian Jakob setali tiga uang dengan perilakunya yang santun, bahkan kerap dinilai oleh karyawannya kelewat santun. Sebagai orang Jawa, Jakob dipandang sangat njawani. Di lingkungan KKG, Jakob dikenal sebagai pribadi yang menjaga perilaku.

“Ia takut menginjak kaki orang lain, takut menyinggung orang lain,” ungkap seorang karyawan. Bahkan, menurut Vaksiandra, Redaktur Pelaksana majalah Hai, “Kultur yang dibangun di KKG juga kultur Jawa, sangat kulonuwun, ewuh pakewuh,” katanya. Di matanya, pribadi Jakob yang terlalu njawani dengan sikap rendah hati membuat sosoknya sebagai pemimpin tidak tampak jelas.

“Kalau ingin melihat sosok sebenarnya J.O., lihat saja bagaimana bahasa Kompas. J.O. itu tidak meledak-ledak dalam menyampaikan kritik, bahasanya halus padahal nyelekit bagi yang memahami makna yang tersirat di balik kalimat itu,” ujar August.

Perilakunya yang santun dan ewuh pakewuh tak jarang justru menjadi bumerang bagi perusahaan. Saat Jakarta-Jakarta, Tiara, dan Raket harus ditutup, Jakob tak mengambil langkah pemutusan hubungan kerja (PHK).

Karyawannya disalurkan ke unit bisnis lain atau ke media lain di bawah payung KKG. Padahal, SDM di unit tersebut sejatinya sudah pas. “Akhirnya, ya dijejal-jejali dan buntutnya menjadi tidak produktif,” tutur karyawan yang tak mau diungkap jati dirinya itu. Dalam perjalanannya, PHK akhirnya diberlakukan bagi karyawan Raket. Itu pun berkat desakan karyawan. Imbalan pesangon yang sangat besar — untuk ukuran media baru dan tengah collaps — lantas diberikan Jakob.

Kepedulian dan perhatian J.O. kepada karyawan yang terpancar dari prinsip I do care tersebut diterapkan sebagai falsafah manajemen di lingkungan perusahaan. Dalam memberdayakan karyawannya, J.O menerapkan falsafah We do care. Manajemen, menurut dia, wajib seoptimal mungkin menerapkan falsafah We do care sebagai wujud kewajiban perusahaan atas hak karyawan.

Sebagai wujud falsafah ini, ia mengaku selalu berupaya peduli atas segala kebutuhan karyawannya. “Kita harus tahu apa yang diinginkan oleh karyawan. Dengan kepedulian, berarti kita menghargai keberadaan mereka. Jangan hanya memperlakukan mereka sebagai mesin penghasil uang,” katanya.

Tak heran, Jakob begitu memperhatikan kesejahteraan karyawan. “Imbalan yang pas sesuai dengan beban kerjanya akan membuat karyawan lebih termotivasi bekerja dengan lebih baik,” jelasnya. Meski begitu, ia menganggap sistem penggajian di KKG belum sempurna. Menciptakan perusahaan yang adil, makmur, dan merata bagi seluruh karyawan –“Itu cita-cita J.O.,” ungkap August.

Menurut dia, J.O. sangat peduli atas masalah hak karyawan, seperti gaji dan tunjangan supaya karyawan KKG hidup lebih layak. Saking pedulinya, khususnya di level bawah atau staf, J.O. lebih dulu membuatkan perumahan bagi karyawan level bawah. Sementara itu, karyawan di level manajemen menengah atas belakangan. “Ha..ha..kita pernah iri atas kebijakan itu. Kok, kita dapat rumahnya belakangan?” cerita August.

Bagi Jakob, menyejahterakan karyawan itu kewajiban perusahaan. “Mereka aset, ya harus mendapatkan hak-haknya dengan baik,” katanya. Menurut dia, dengan tingkat kesejahteraan yang baik, karyawan pun akan termotivasi memberikan yang terbaik bagi perusahaan. Mereka juga menjadi loyal. Secara jujur, ia bangga bahwa turn over karyawan di perusahaannya relatif kecil. “Di bawah 5%,” tambahnya. Kata seorang karyawan yang tak mau diungkap jati dirinya, “Jakob tahu sekali bagaimana membuat karyawan betah bekerja di sini.”

Ibarat pisau bermata dua, sikap We do care perusahaan bukannya tak menerbitkan riak. Ia tidak menampik bahwa upaya selalu memenuhi kebutuhan karyawannya agar sejahtera menciptakan pegawai yang cenderung terlena dengan segala kemapanan yang diperoleh karena bekerja di KKG dan tidak didapatkan di tempat lain. Buntutnya berkembang istilah rajin malas sama saja alias RMS. Pasalnya, sistem penggajian dan pemberian fasilitas KKG sangat jelas. Parameternya ialah lama bekerja, bukan pada performa karyawan.

Prestasi karyawan lebih untuk mendongkrak posisi. Misalnya, tahun ke berapa mendapatkan fasilitas pinjaman rumah, kendaraan, atau yang lain, jelas tertuang. Artinya, rajin atau malas, fasilitas dan tunjangan tetap diberikan. “Namun kami saat ini sudah menerapkan pemberdayaan SDM melalui sistem penilaian karya,” kata Jakob. Dengan sistem ini, diharapkan karyawan lebih termotivasi menunjukkan kinerjanya. “Supaya juga tidak ada istilah RMS itu,” ungkap J.O. Penilaian karya ini dievaluasi setiap enam bulan dan dipantau terus-menerus oleh pihak SDM.

Ruang seluas 30-an meter persegi di lantai 6 Gedung KKG, Jalan Palmerah Selatan, berhawa sedikit panas, sepertinya pendingin ruangan tidak berfungsi dengan baik. CEO KKG, Jakob Oetama, menerima tim SWA. “Saya hanya punya waktu sampai pukul 11.15 ya, karena ada janji bertemu orang,” kata J.O.

Di dinding ruang bercat putih itu, waktu menunjukkan pukul 10 lewat 5 menit. Jakob terlihat santai dengan kemeja biru muda dipadu celana biru tua lengkap dengan dasi bermotif garis bintik-bintik dan tanda pengenal melekat di dada kirinya. Ballpoint Montblanc terselip di saku kemejanya.

Kami dari SWA duduk di sofa berwarna krem. Lemari berisi buku koleksi Jakob berderet rapi sepanjang lebih dari lima meter. “Bagaimana perasaan Bapak terpilih menjadi The Best CEO?” SWA memulai perbincangan. Jakob tak langsung menjawab. Sejurus ia diam lantas menyungging senyum. “Itulah, saya pakewuh,” katanya.

Ia mengaku surprise sekaligus heran karena terpilih sebagai The Best CEO 2003. “Semestinya orang lain saja yang lebih muda usia yang meraih ini. Saya sudah tua lho, 72 tahun,” tambahnya. Wajah sepuh-nya memang tergurat jelas pada garis mukanya. Rambutnya yang dibiarkan agak gondrong menyembulkan gumpalan uban.

“Kalau boleh saya menilai diri saya sendiri, saya itu orangnya ngemong. Mungkin karyawan suka kepada saya karena sikap ngemong ibarat bapak kepada anaknya,” papar J.O. mengomentari bahwa terpilihnya ia sebagai The Best CEO karena penilaian pegawainya juga. “Sebenarnya, saya tidak sehebat seperti yang dibicarakan karyawan saya. Sebetulnya saya biasa-biasa saja,” katanya.

Selama memimpin KKG, ia menegaskan falsafah leadership yang dianutnya ialah falsafah ngemong. Arti ngemong baginya itu menggerakkan, mengajak, memotivasi, menyemangati, menjelaskan, dan bagaimana melakukan komunikasi. Di matanya, kunci keberhasilannya ialah berkomunikasi dengan seluruh karyawan dari semua level. “Komunikasi itu sangat penting,” katanya.

Bentuk komunikasi sederhana yang dianutnya ialah sekadar menyapa karyawan: apa kabar? selamat pagi! Komunikasi tersebut dijabarkan juga lewat forum karyawan di setiap unit usaha. Secara berkala, ia mengadakan pertemuan dengan direktur seluruh unit bisnis. Pertemuan resmi ia dengan seluruh karyawan KKG dilakukan setiap acara syukuran tahunan yang jatuh pada Januari.

Menurut dia, acara tersebut sangat ditunggu-tunggu seluruh karyawan KKG. “Karena pada acara itu Bapak mengumumkan kenaikan gaji. Tahun ini, berapa persen?” timpal SWA. “Kok tahu?? tanyanya, keningnya mengerenyit. Tanpa menunggu jawaban SWA, ia menambahkan, “Ya, itu sebenarnya yang ditunggu-tunggu karyawan,” katanya menyungging senyum.

Untuk mengomunikasikan visi, misi, dan garis besar kebijakan perusahaan kepada seluruh karyawan, J.O. menjelaskan bahwa KKG memiliki pedoman baku perusahaan, yang seluruh karyawan wajib mematuhinya. Ini termasuk melalui sharing knowledge dan experience dengan pegawai yang dilakukan lewat pertemuan rutin, baik langsung di depan karyawan, lewat forum karyawan, atau acara lain.

Guna mempercepat pencapaian visi dan misi, J.O, menekankan kerja sama tim. Tim kerja yang solid dan baik memudahkan dan mempercepat pencapaian visi dan misi yang ingin dicapai perusahaan. Ia melihat dirinya sebagai sosok team builder. Baginya, sosok pemimpin itu harus mampu menjadi team builder. Sebagai pemimpin, J.O. mengakui dirinya bukanlah orang yang menguasai banyak hal. “Saya harus tahu diri bahwa saya tidak menguasai semua hal atau banyak hal,” ucapnya. Ia lebih senang membangun tim yang terdiri atas beberapa orang yang memiliki kelebihan masing-masing dengan pembagian kerja dan tanggung jawab kerja yang jelas. “Seluruh anggota tim bertanggung jawab baik atas kesuksesan maupun kegagalan,” jelasnya.

Adanya tim kerja membuat dirinya bisa lebih memobilisasi karyawannya dengan segala kelebihan di bidangnya. Ia sadar bahwa perusahaan ini memiliki keragaman keahlian. Perusahaan ini memerlukan keahlian di berbagai bidang agar bisa tetap jalan. Bermacam keahlian itu dijadikan satu dalam forum atau tim, baik di tingkat corporate management maupun di setiap unit usaha. Dengan beragam SDM yang memiliki beragam keahlian, latar belakang, dan budaya, J.O. memilih melakukan pendekatan kultural. Melalui pendekatan ini, ia berusaha memahami dan mengerti bagaimana sifat, karakter, dan perilaku karyawannya yang datang dari latar belakang yang berbeda-beda. Meskipun berbeda, J.O. menginginkan ada kultur yang berlaku umum bagi seluruh karyawan di dalam ruang lingkup KKG.

Salah satu kultur di KKG ialah budaya kerja tim yang harus terus-menerus dibina dan dibangun. Lewat tim, berarti ada komitmen bersama yang patut disepakati bersama.” Dengan adanya tim kerja, tujuan akan lebih cepat tercapai sehingga waktu dapat dimanfaatkan secara optimal dan efisien,” tegasnya. Sebagai pucuk kepemimpinan yang menaungi kemajemukan, ia berupaya seadil mungkin memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh karyawan untuk maju dalam konteks demi kemajuan perusahaan. Ia mengibaratkan KKG sebagai Indonesia mini.

“Beragam suku, budaya, agama, etnis, ada di sini. Ini menjadi sumber kekuatan perusahaan,” katanya. Ia ingin menciptakan Indonesia mini yang makmur, kaya, dan adil di dalam lingkup perusahaan. “Sejak mendirikan perusahaan ini, saya sudah mencanangkan akan membawa perusahaan ini sebagai Indonesia mini,” jelasnya.

Sebagai komandan, J.O. berupaya menyelaraskan penerapan sistem manajemen bisnis yang baku dengan suasana kekeluargaan. “Sejak awal, saya ingin perusahaan ini sebagai keluarga kedua bagi karyawan karena mau tidak mau sebagian besar waktu karyawan itu dihabiskan di kantor,” tuturnya.

Menurut dia, kelugasan sikap, ketelitian, kedetilan, dan ketepatan waktu, serta perhitungan eksak sangat diperlukan dalam bisnis. Toh, bisnis yang bernuansa kekeluargaan juga bukanlah hal yang jelek. Dalam pandangannya, suasana kekeluargaan dan keharmonisan penting bagi kemajuan bisnis. “Kita harus bisa menyeimbangkan antara kepentingan manajemen bisnis dengan asas kekeluargaan,” tegasnya. Caranya? “Bersama almarhum P.K. Ojong, sejak awal berusaha betul menerapkan dan menjalankan Good Corporate Governance (GCG),” katanya.

GCG, menurut dia, diperlukan untuk menyeimbangkan antara kepentingan bisnis yang sakelijk dengan bentuk manajemen kekeluargaan. Jurus yang dilakukannya ialah membuat sistem kontrol yang jelas, baku, dan hitam putih. Rambunya jelas dan transparan. Sebagai pemimpin tertinggi, ia selalu menjaga agar tidak ada kebocoran dalam hal keuangan perusahaan.

“Ini saya perhatikan betul mengingat pundi-pundi keuangan itu demi kemakmuran bersama,” ujar Jakob yang memercayakan pengelolaan keuangan kepada pihak yang profesional dan ahli. Dikatakan August, dalam menjalankan bisnis, J.O sangat konservatif. “J.O. sangat berhati-hati mengeluarkan setiap sen uang perusahaan,” paparnya.

Sebagai pelaku bisnis, ia berpikir bahwa dirinya juga memiliki tanggung jawab sosial dan berkontribusi penting pada kemajuan sosial bangsa. Ia setuju bahwa pelaku bisnis wajib diberi tanggung jawab sosial. Ia melihat pada iklim ekonomi pasar yang berlaku saat ini, pelaku bisnis harus diperlakukan secara proporsional karena kehadirannya diperlukan untuk menggerakkan roda ekonomi sektor riil. Dalam membangun SDM, hal mendasar ialah pemilihan karakter, yang diutamakan sejak awal perekrutan karyawan.

Fleksibel, luwes, berpikiran terbuka, dinamis, berani menerima kritik, asertif, jujur, peduli orang lain, bisa saling memberi dan menerima serta teratur –itulah kriteria SDM yang menjadi parameter KKG. “Karakter karyawan yang tidak malas, tepat waktu, jujur, tidak manipulatif itulah karakter yang saya sukai,” ujar Jakob.

Untuk menciptakan SDM yang berintegritas, kompeten, dan accountable, J.O. berusaha menjalankan nilai-nilai yang disepakati bersama sehingga dirinya dapat menjadi sosok yang patut disegani dan dihormati oleh karyawannya. Sebagai pemimpin, ia mengaku berusaha untuk selalu sejujur dan selurus mungkin dalam menjalankan bisnisnya. Baginya, hal ini patut dijalankan agar menjadi contoh yang baik bagi anak buahnya. “Masa kita bicara A tetapi sikap kita B? Wah, nggak boleh begitu jadi pemimpin,” ujarnya. Memberikan contoh yang akhirnya menjadi panutan, begitulah yang dilakukan Jakob. “Saya selalu berusaha memberikan contoh, dalam hal ketepatan waktu, misalnya,” katanya.

Yanti, sekretarisnya, memuji J.O. sebagai sosok yang memiliki disiplin waktu tinggi. Ia pernah menanyakan pada Big Boss-nya mengapa selalu tepat waktu? “Nanti jadwal orang juga bisa berantakan hanya gara-gara menunggu saya,” ujarnya mengutip jawaban Jakob. Bahkan, J.O. mengatakan ketepatan waktunya itu sebagai salah satu wujud penghargaan dirinya terhadap hasil kerja keras sekretarisnya yang sudah mengatur jadwal sedemikian rupa.

Tak ada gading yang tak retak, sebagai pemimpin, Jakob mengaku memiliki kekurangan. Ia menyadari kadang dirinya dilihat sebagai sosok yang sangat penuh pertimbangan dalam mengambil keputusan sehingga terlihat lambat dalam mengambil keputusan di mata anak buah. August menjelaskan, kelemahan J.O. lebih pada cara dan bagaimana J.O. mengambil keputusan. “Bagi orang yang berkarakter agresif, J.O. dianggap lamban. Semua hal dipikirkan masak-masak. J.O. itu paling tidak bisa diburu-buru dan didesak-desak dalam mengambil keputusan. J.O. sangat tidak menyukai pendesakan. J.O. akan melihat dari segala sisi ketika akan mengambil keputusan. J.O akan menanyakan berbagai macam pendapat dari banyak pihak,” papar August.

August mencontohkan ketika J.O. mengambil langkah investasi di bisnis televisi. Sebelum lahir TV7, J.O. melemparkan ide ini kepada top management. Ia sharing argumen dan knowledge tentang rencana merambah bisnis tv. Tidak hanya dengan top management, J.O. jalan-jalan keliling perusahaannya dan menanyakan pendapat karyawan yang ditemuinya tentang idenya tersebut. “Jadi, realisasi ide itu ialah buah pikiran bersama. Nggak heran kalau ia lama mengambil keputusan,” terang August.

J.O. sangat mengakui keterbatasan dirinya. Meski ujungnya ia yang tetap memegang dan mengetuk palu dalam memutuskan sesuatu. “Saya bukanlah orang yang bisa semua hal. Saya butuh orang untuk mendampingi saya menjalankan bisnis ini, termasuk konsultan, sebelum saya mengambil keputusan bisnis,” tegas Jakob.

Sebagai pelaku bisnis, ia memercayakan dan mendelegasikan tugas kepada para profesionalnya. J.O terbuka terhadap saran dan pendapat para profesionalnya. Itu tak hanya di ruang rapat. Misalnya ada rencana bisnis tertentu, kepada karyawan yang ditemuinya ketika ia naik lift atau berpapasan dengannya tanpa memandang levelnya, J.O. selalu berusaha mengumpulkan pendapat. “Inilah mengapa J.O dikenal dengan gaya management by walking arround. Ia tidak bersikap mentang-mentang sebagai presdir,” jelas August.Tak hanya terbuka pada kritik. Jakob dikenal fleksibel dalam mengantisipasi perkembangan zaman, termasuk bisnis. “Strategi bisnisnya jauh ke depan,” kata Vaksiandra. Dia punya pengalaman ketika Kompas membuat sisipan Muda yang menggandeng Hai dan Kawanku. Jakob menilai sisipan itu secara bisnis ke depannya akan menguntungkan karena punya daya jual tinggi. Diakui Jakob, sistem di KKG akan terus-menerus dibangun dan disesuaikan dengan perkembangan zaman yang mengacu pada visi dan misi perusahaan. “Kalau bersikap kaku, waduh, bagaimana perusahaan ini berkembang. Generasi saya dengan generasi sekarang itu sangat jauh berbeda. Anak muda lebih dinamis, agresif, terbuka, dan asertif,” katanya.

Anak muda pula memang yang dipilih Jakob menggantikan posisinya sebagai Pemred Kompas. Suryopratomo, kelahiran 1961, didapuknya menjadi orang nomor satu di jajaran redaksi Kompas. “Para redaktur senior sudah mendekati masa pensiun dan mereka juga telah mendapatkan pekerjaan lain yang tidak kalah beratnya dari tugas pemred,” ungkap Jakob ketika ditanya mengapa bukan August Parengkuan atau Ninok Leksono yang tampil.

Alih generasi mulai dilakukan. Siapa calon penggantinya? Boleh jadi saat ini ia tengah mengelus-elus jagonya. Dan, bisa saja pilihan orang yang menggantikannya akan banyak mengejutkan. Seperti ketika ia memilih Suryapratomo. “Saya sangat berhati-hati dalam memilih pengganti saya. Yang jelas nota bene berasal dari dalam KKG sendiri,” ucapnya.

Itu bukan berarti ia tak membuka diri bagi profesional di luar KKG. Untuk posisi tertentu di level supervisor dan manajer, KKG membuka diri untuk mencari pemimpin yang berasal dari profesional karier dari luar, bukan dari dalam. Langkah ini ditempuh untuk menjawab tuntutan dunia bisnis yang bergerak cepat dan dinamis.

Hal ini dilakukan agar KKG lebih dinamis, agresif, dan inovatif. Secara jujur ia mengakui bahwa para profesional dari luar KKG lebih asertif, dinamis, percaya diri, dan aktif mencari terobosan dalam pengembangan bisnis. Kelebihan itu dipadukan dengan kemampuan SDM KKG dari dalam yang lebih paham dan mengerti bagaimana dan siapa itu KKG. Ia telah memutuskan mem-blending-kan SDM profesional dari luar dan dalam.

Namun, untuk level direksi, ia masih menyiapkan dari orang dalam.Dalam mempersiapkan penggantinya, ia menganut paham lokomotif yang tetap menggandeng gerbongnya. Ia masih bisa menggandeng calon penggantinya sebelum ia benar-benar turun atau pensiun agar bisa mengawasi jalannya perusahaan dan bagaimana calon penggantinya itu memimpin. “Pelan-pelan saya akan melepas gerbong itu,” ujarnya.

Ia menegaskan dan menyarankan, ada cara yang mudah jika ingin menjadi pemimpin yang sukses di KKG. “Caranya gampang. Jangan lihat ke atas tetapi lihatlah ke bawah, samping kiri dan kanan supaya peduli pada apa yang terjadi di sekitar kita,” ungkapnya. Ia mengaku tidak pernah membayangkan bahwa Kompas dan KKG akan menjadi besar seperti sekarang ini.

Bagi Jakob, keberhasilannya sebagai pemimpin sejatinya harus dilihat dari bagaimana kondisi perusahaan (KKG) setelah ia undur diri dari manajemen. Apakah KKG tetap jalan atau tidak? Jika KKG tetap berjalan dan berkembang, ia menganggap dirinya telah berhasil memimpin. Jika tidak, berarti ia telah gagal memimpin. Ia merasa sukses kalau berhasil mengantarkan penggantinya bisa tetap mempertahankan bisnis ini berjalan terus.

“Jika hancur, ia sering kali akan merasa berdosa karena menyangkut hidup karyawannya,” ujar August mengutip perkataan Jakob Oetama yang kerap dikatakan kepadanya. Di mata August, bisa saja seorang CEO diganti atau tergantikan. Tetapi, sosok pemimpin yang sangat kebapakan seperti Jakob Oetama jarang sekali ditemui. Jika terjadi alih generasi dari kepemimpinan J.O. kepada penerusnya, August berpendapat bahwa sesungguhnya KKG kehilangan sosok bapak selayaknya anak yang kehilangan ayahnya.

“Siapa pun penggantinya, sosok ayah yang ada di J.O. tidak dapat tergantikan. Kelebihan dan kelemahan J.O. bisa diterima dengan baik karena J.O. itu seorang ayah,” kata August. Tanpa bermaksud mendahului Sang Khalik, August mengungkapkan saat ini karyawan sangat khawatir akan kondisi kesehatan J.O. mengingat usianya yang semakin tua.

Jakob Oetama lahir di Borobudur, 27 September 1931. Selepas menamatkan SMA Seminari di Yogyakarta, anak pensiunan guru di Sleman ini mengikuti jejak sang ayah, menjadi guru. Ia pernah mengajar di SMP Mardiyuwana, Cipanas, Jawa Barat, dan SMP Van Lith Jakarta.

Di sela mengajar, ia menyisakan waktu menjadi redaktur mingguan Penabur. Selain mengantungi ijazah B1 Ilmu Sejarah, Jakob tercatat sebagai alumni Perguruan Tinggi Publisistik Jakarta (1959) dan Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (1961). “Saya mencintai profesi guru,” kata Jakob saat akan diabadikan kamera di depan meja kerjanya. “Mengapa kemudian memilih menjadi wartawan?” tanya SWA. “Saya tidak akan seperti ini kalau tetap menjadi guru,” ungkap Jakob.

Bukan dalam konteks materi. Kompas tak hanya surat kabar yang saat ini bertiras lebih dari 500 ribu eksemplar. Ia menawarkan sejumlah soal dan menggelindingkan opini publik. Kontribusi pemikiran J.O. di Kompas masih dominan. Ia masih menjadi think thank Kompas. Pengaruh kuat Jakob terlihat dari pameo: Jakob Oetama adalah Kompas dan Kompas adalah Jakob Oetama.

“Pengidentikan itu wajar. Saya salah satu perintis kelahiran Kompas dan masih berkontribusi besar pada kemajuan Kompas dan KKG,” kata Jakob.

Jakob sendiri lebih senang menyebut diri wartawan ketimbang pelaku bisnis. “Jabatan sebagai CEO sebagai co-incident,” katanya. Ketika pertama kali usaha ini dirintis, J.O. lebih disiapkan sebagai pemimpin redaksi sementara P.K Ojong sebagai pemimpin perusahaan. Wafatnya P.K. Ojong pada 1980-an membuat ia harus segera mengambil alih tampuk kepemimpinan perusahaan.

Sebagai pengusaha, Jakob sukses mengerek KKG menjadi kerajaan bisnis pers terbesar di Indonesia. Memang tidak semua media di bawah KKG menghasilkan pundi-pundi uang berlimpah. Tulang punggung KKG di luar penerbitan buku ialah Kompas. Meski ia menolak disebut kapitalis, bisnisnya terus merambah berbagai lini. Penerbitan pers, jaringan toko buku Gramedia, hotel (Grahawita Santika), penyiaran radio (Radio Sonora), kertas tisu (PT Graha Kerindo). Total ada 42 anak perusahaan yang bernaung di bawah payung KKG. Total omset KKG pada 2001 saja diperkirakan mencapai lebih dari Rp 1,05 triliun.

Keberhasilan KKG diakuinya juga berkat andil dan kerja keras seluruh karyawan. “Tuhan juga memberkati perusahaan ini,” tegasnya. Sekarang ini, yang selalu menghantuinya justru bagaimana bisnis ini tetap berjalan setelah ia tidak ada. “Pertanyaan apakah bisnis ini tetap ada atau tidak setelah saya tidak ada, itu yang selalu ada di benak saya,” katanya. Ia mengakui hal ini menjadi concern-nya mengingat usianya yang sudah tidak muda lagi. Ia merasa sudah saatnya turun tahta. “Anak saya tidak ada yang tertarik terhadap bisnis media. Satu anak saya terjun mengurusi hotel,” kata Jakob yang memiliki lima anak.

Jakob menanggalkan kartu pengenal di dadanya sesuai dengan permintaan fotografer. “Saya sering dibilang teman lupa asal,” ujar Jakob sembari membagikan kartu namanya kepada tim SWA. Pukul 11.05, Yanti, sekretaris Jakob, melongok ke ruang kerja Jakob. “Bapak ada janji lain, harus pergi,” katanya.

Kami beriringan menyusuri koridor dan memasuki lift. Jakob tersenyum kepada satpam yang memencetkan tombol lift. Di dalam lift, ia membuka notes kecil dari saku celananya. “Jam 12 siang di Grand Hyatt.” Pintu lift terbuka di angka 3, seorang wanita muda masuk. “Siang Pak,” sapanya. “Mau ke mana?? Jakob mendekati wanita muda yang rupanya wartawan Kompas. “Ke gereja? Ada acara apa?” tanya Jakob. Lift terbuka, wanita itu bergegas keluar, “Duluan, ya Pak.” Jakob melangkah pelan, agak tertatih ke luar lift. “Dia ahli Amerika Latin,” katanya. Kami menyesuaikan langkah kami supaya tetap seiring.

Di lobi, Jakob bersua dengan Julius Pour dan mantan Wakil Pemimpin Umum Kompas, A. Roesilah Kasiyanto. Jakob menjabat erat Roesilah dan saling bertukar berita. Tak lama itu. Di depan lobi, mobil pribadinya, BMW seri 5 warna hitam, telah menunggu yang akan membawanya ke Grand Hyatt bertemu Adam Schwartz, penulis buku Nation in Waiting.

Reportase: Tutut Handayani Riset: Vika Octavia
Sumber: http://www.swa.co.id/swamajalah/sajian/details.php?cid=1&id=254

Sukamdani Sahid: Bisnis adalah Berkah

KOMPAS.com -Sabtu, 1 Juni 2013
Orang mengenal Sahid Group di beberapa bisnis, namun namanya masyhur di perhotelan. Grup ini muncul kembali lebih segar ketika tepat hari ini, 1 Juni, berumur 60 tahun. Pendirinya, Sukamdani Sahid Gitosardjono, menuturkan kisah jatuh bangun bisnisnya hingga kini telah melepaskan kepada anak-anaknya.

Sejak 1995, Sukamdani (85) sudah mulai melepas kegiatan bisnisnya dan menyerahkan kepada anak-anaknya. Dalam wawancara dengan Kompas yang didampingi istrinya, Juliah, ia menuturkan kini hari-harinya diisi dengan senam dan mengurus pesantren.

Bagaimana Anda memulai bisnis?

Menjadi pengusaha adalah cita-cita saya sejak masih zaman perang. Tahun 1945, saat perang tidak ada logistik. Saya berpikir bagaimana memberi makan tentara walaupun saat itu didukung rakyat. Lalu saya berpikir mengumpulkan kain batik rakyat untuk ditukar dengan beras. Beras itu untuk makan tentara. Saat berperang tahun 1948-1950, saya juga jadi pengusaha. Tentara butuh makanan, lalu cari gaplek di Wonogiri dan kemudian gaplek ini ditukar dengan beras.

Bisnis di Jakarta?

Setelah perang, saya kembali bersekolah. Kemudian tahun 1952 pindah ke Jakarta dan mulai jadi pegawai negeri sipil di Kementerian Dalam Negeri. Tapi tidak kerasan. Saya ingin jadi pemimpin, lalu pindah menjadi pegawai swasta, namun saya juga sudah merintis usaha kecil-kecilan. Pada 27 Mei 1953, saya menikah dengan Juliah. Pada 1 Juni tahun yang sama saya menyewa tempat ini (Grand Sahid Jaya Hotel di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta). Istri mendukung untuk berwirausaha dengan membuat percetakan. Saya membeli dua alat percetakan dari tabungan. Juliah ini anak orang berada, tapi tetap mau berusaha.

Bisnis ini kemudian besar?

Saya senang berorganisasi. Dari usaha grafika, saya berinisiatif bikin kongres perusahaan percetakan Indonesia pada Juli 1956. Karena berorganisasi ini saya bertemu dengan Presiden Soekarno. Saya melihat hubungan dengan Presiden harus dibina. Bisnis percetakan bisa berkembang baik karena saat peralihan ibu kota dari Yogyakarta ke Jakarta banyak buku dan dokumen pemerintah yang harus dicetak. Saya mendapat banyak order. Bahkan order saya limpahkan ke Bandung, Semarang, hingga Surabaya. Saya dikenal pintar cari order.

Bila kemudian bisnis perhotelan, asal usulnya darimana?

Ceritanya, saya pernah terdampar di di Medan pada tahun 1960 karena penerbangan yang sedikit dan selalu penuh. Saya menginap di hotel cukup lama. Dari kejadian ini, saya berpikir bisnis hotel pasti dibutuhkan oleh negara yang baru merdeka. Saya memulai bisnis hotel di Solo. Investasi hotel dari usaha dagang kertas dan percetakan. Untuk membangun hotel, saat itu susah cari semen. Akhirnya saya beli semen selundupan.

Bagaimana kisah Anda memasuki dunia pendidikan?

Saya masuk ke dunia pendidikan dengan mendirikan Akademi Grafika tahun 1965, lalu membuat Sekolah Tinggi Grafika. Kemudian mendirikan Universitas Veteran Bangun Nusantara di Sukoharjo melalui Yayasan Kesejahteraan Pendidikan dan Sosial Sahid Jaya. Prinsipnya kesejahteraan untuk karyawan, pendidikan untuk masyarakat luas, dan pengabdian sosial untuk masyarakat. Kemudian Akademi Perhotelan pada 1988, lalu membikin Universitas Sahid.

Bagaimana dengan regenerasi Sahid Group?

Saya sudah memulai regenerasi pada tahun 1990-an, namun pada 1997 terjadi krisis. Anak-anak sempat gamang. Utang dalam negeri dan luar negeri menumpuk. Saya memimpin lagi, namun tidak lama karena pada 2002 saya serahkan kembali ke anak-anak. Tahun 2008 semua utang sudah selesai.

Kunci sukses dalam berbisnis?

Pertama adalah jujur, yaitu jujur kepada Tuhan dan diri sendiri. Kemudian disiplin mengatur waktu dan teguh menuju target yang akan dicapai. Ketiga, bertanggung jawab kepada diri sendiri dan orang lain. Keempat, kerja keras. Kelima, berprestasi yang direstui Allah dan didukung orang lain.

Falsafah Anda dalam berbisnis?

Hidup harus bisa menghidupi orang lain, artinya membuka lapangan kerja. Tidak serakah. Bisnis itu untuk kesejahteraan. Mengembangkan uang yang didapat untuk membuka lapangan kerja agar orang lain juga bisa berkembang. Bisnis adalah kesempatan mengembangkan uang agar orang lain bisa mendapat nafkah, mendapat rumah, dan mendapat pendidikan. Bisnis itu berkah bagi kita dan bagi orang lain.

Apa yang Anda lakukan dalam keseharian sekarang ini?

Dulu saya suka main golf, tetapi saya dan istri sekarang sering senam. Saya mengurus pesantren di Bogor. Indonesia dengan penduduk yang beragama Islam lebih dari 200 juta harus memiliki wirausahawan yang tangguh. Saya minta santri menjadi pengusaha. Di dalam pesantren, saya menumbuhkan etos kerja keras dan etos keilmuan. Santri harus selalu belajar. Dari kegiatan ini saya ingin menyiapkan kader bangsa berbudi agar bisa menghidupi keluarga dan bangsa.

Bagaiamana Anda melihat kondisi bangsa?

Secara ekonomi dan pendidikan sekarang lebih maju, tetapi secara moral bangsa ini mengalami kemunduran karena tidak lagi mengingat Pancasila. Budaya sudah dilupakan sehingga bangsa ini tidak berkarakter. Eforia reformasi harus segera diakhiri. Penegakan hukum harus dilakukan. (M Clara Wresti & Andreas Maryoto)

Prof Dr KP H Sukamdani Sahid Gitosardjo Dari dua mesin cetak kini bertabur bintang

Prof Dr KP H Sukamdani Sahid Gitosardjo Dari dua mesin cetak kini bertabur bintang
14 Maret 2013
Hari ini, Senin (14/3), usianya tepat 83 tahun. Tapi jangan kira usia membuat semangat dan kesehatannya rapuh. Lelaki yang terlahir dengan nama Sugito itu tampak bugar kala ditemui Espos di ruang kerjanya, Lantai II Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta, Jl Jenderal Sudirman 86, Jakarta Pusat, Kamis (10/3).
”Sekarang 83 tahun, saya malah sehat. Dulu malah tidak, kerap flu dan sebagainya,” ujar Sukamdani Sahid Gitosardjono. Maklum saja, kala berjuang meraih kesuksesan, Sukamdani hanya sempat tidur rata-rata tiga jam sehari. Kini tidak lagi. Pendiri Grup Sahid itu telah membagi perusahaan-perusahaan miliknya dalam empat divisi yang dikelola lima orang putra-putrinya, Sarwo Budi Wiyanti, Exacty Budiarsi, Nugroho Budisatrio, Hariyadi Budisantoso dan Sri Bimastuti Handayani.no
Keempat divisi Sahid Group itu adalah Divisi Bisnis dan Kesejahteraan, Divisi Pendidikan, Kebudayaan dan Keagamaan, Divisi Kesehatan dan Sosial Kemasyarakatan, serta Divisi Usaha Sejahtera Terpadu Padepokan Sahid Wisata Gunung Menyan. “Tiap-tiap divisi dipimpin anak-anak saya. Semua pelaksananya profesional,” ungkap Sukamdani.
Pengembangan Divisi Bisnis dan Kesejahteraan, menurut dia, berada di tangan Sarwo Budi Wiyanti dan Hariyadi Budisantoso. Setelah membuka Hotel Sahid Solo di tahun 1965, Sukamdani memang menebar usaha perhotelan, pariwisata dan properti di berbagai wilayah. Setelah Solo, Hotel Sahid juga dibangun di Jakarta, Jogja, Manado, Bali, Bandar Lampung, Toraja, Surabaya, Sorong, Mataram, Pekanbaru, Makassar dan Medan. “Untuk pengembangan properti dipimpin oleh Hariyadi, sedangkan perluasan jaringan perhotelan dan pariwisata sebagai core business dipimpin Yanti.”
Sementara itu pengelolaan dan pengembangan Divisi Pendidikan, Kebudayaan dan Keagamaan yang kini juga telah tersebar mulai dari Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Lampung, Bali hingga Bintan di Kepulauan Riau diserahkan Sukamdani kepada Nugroho Budisatrio. Sedangkan Divisi Kesehatan dan Sosial Kemasyarakatan ditangani Exacty Budiarsi.
Tanggung jawab pengelolaan Divisi Usaha Sejahtera Terpadu Padepokan Sahid Wisata Gunung Menyan yang belakangan ini menjadi perhatian utama Sukamdani dipercayakannya kepada istrinya, Juliah. “Usaha Sejahtera Terpadu dan Ponpes Sahid itu begitu besarnya tanggung jawabnya, dipegang oleh Bu Sukamdani dengan mengader anak kelima yang sekolah di Australia, Anda,” jelas dia.
Penuh dinamika
Kelompok usaha yang kini dikelola lima putra dan putri Sukamdani dan Juliah itu tentu saja tak dibangun dalam semalam. Sahid Group yang kini meraksasa tersebut adalah buah keberanian Sukamdani melangkah ke Jakarta pada tahun 1952. Kala itu, Sukamdani setelah terlibat dalam perang mempertahankan kemerdekaan berkarya sebagai pegawai Pamong Praja Sukoharjo. Tetapi gaji pas-pasan yang dia terima sebagai pegawai pamong praja membuatnya gundah. Pasalnya, gadis pujaan hatinya, Juliah, adalah putri orang berada.
Dia pun berketetapan hati untuk pindah bekerja, dari Kantor Kecamatan Grogol ke Kementerian Dalam Negeri, Jakarta. Dia berharap Jakarta bisa memberinya kesempatan kerja yang lebih baik sembari leluasa bersekolah di ibukota negara. Nyatanya, dinamika kerja dan penghasilan yang diperoleh Sukamdani di Kementerian Dalam Negeri tempatnya bekerja di Jakarta, belum membuatnya puas. “Suasana kantor tidak banyak dinamika. Padahal saya sebagai anak muda pejuang penuh dinamika. Maka saya ambil cuti di luar tanggungan negara untuk mulai bekerja di sektor swasta,” ujar Sukamdani mengungkapkan tekadnya di masa lalu itu.
Maka jadilah Sukamdani muda Kepala Bagian Administrasi pada NV Harapan Masa, perusahaan milik Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang tengah membangun percetakan. Setelah bekerja pada pagi hari, dia leluasa kuliah di Akademi Perniagaan Indonesia (API) pada sore hari. Tiga tahun Sukamdani mengabdikan diri membangun NV Harapan Masa, hasilnya memuaskan.
Keberhasilannya memajukan NV Harapan Masa itulah yang lalu menjadi pemicu kepercayaan diri Sukamdani untuk mulai membangun perusahaan percetakan sendiri. Dua mesin cetak yang digerakkan dengan tangan (handpress) dibelinya di Solo sebagai modal awal usaha percetakan tersebut.

Bertabur bintang
CV Masyarakat Baru, perusahaan percetakan yang dirintis Sukamdani dengan bantuan istri dan dua orang tenaga kerjanya maju pesat. Dari laba berlimpah usaha grafika itulah Sukamdani dan Juliah mulai meretas mimpi membangun hotel di Solo. Maka usaha grafika Sukamdani pun selanjutnya berjalan seiring dengan usaha perhotelan dan pariwisata.
Dari semula hanya ingin melihat kampung halamannya lebih maju, belakangan muncul kesadaran bahwa Hotel Sahid Solo adalah hotel pariwisata pertama milik swasta. “Lalu timbullah semangat saya mendirikan hotel yang lebih tinggi daripada hotel milik negara,” kisah Sukamdani soal awal pembangunan Hotel Grand Sahid Jaya, tempatnya berkantor mengendalikan bisnisnya kini.
Kini hotel yang bernaung di bawah Sahid Group bukan hanya dua dan semuanya berbintang. Bertaburan di berbagai wilayah Tanah Air. Perintisnya, Prof Dr KP H Sukamdani Sahid Gitosardjono, kini juga penuh bintang. Karena atas jasa dan pengabdiannya di berbagai bidang, banyak pihak memberikan penghargaan, mulai dari negara, asosiasi pengusaha ataupun swasta.

Profil

Nama : Prof Dr KP H Sukamdani Sahid Gitosardjono
Orangtua:R H Sahid Djogosentono dan R Ngt Hj Sadinah
Lahir : Solo, 14 Maret 1928
Agama : Islam
Istri : RAy Hj Juliah Sukamdani

Putra-putri :
* Dra KR Ay Hj Sarwo Budi Wiyanti
* Hj Exacty Budiarsi MBA
* KRT H Nugroho Budisatrio MBA BET
* KRT Ir H Hariyadi Budisantoso MM
* Hj Sri Bimastuti Handayani

Riwayat akademis :
* Volkschool di Sukoharjo, 1935-1941
* Ko Gakko (sekolah rakyat), tamat 1945
* Ambachtschool (sekolah teknik negeri) di Sukoharjo, 1945
* SMP Arjuna, Solo, 1945
* HIS Kasatrian, 1945
* Akademi Perniagaan Indonesia (API) Jakarta, 1955
* Gelar Doktor Honoris Causa dalam Ilmu Ekonomi dan Sosial, Pendidikan dan Ekonomi dari European University, Antwerpen, Belgia, 12 November 1986
* Gelar Profesor Guru Besar dalam Ilmu Ekonomi dari Luohe University, Henan, Republik Rakyat China, Tahun 1997
* Gelar Profesor Kehormatan dari Peking University, Beijing, Republik Rakyat China, 14 November 2001.

Riwayat pekerjaan :
* Pegawai negeri pada Pamong Praja Sukoharjo dan Kementerian Dalam Negeri di Jakarta, 1945-1953.
* Anggota Staf Pemerintah Militer Kabupaten Sukoharjo, KDM/BODM Sukoharjo, Divisi III, Diponegoro, 1945-1950.
* Pengusaha/presiden direktur/presiden komisaris/pemilik perusahaan-perusahaan dalam Sahid Group, 1953-sekarang.
* Pendiri/pemilik/pengurus berbagai yayasan yang bergerak di bidang pendidikan, kesejahteraan dan sosial, kebudayaan/spiritual, 1965-sekarang.

Jabatan kenegaraan :
* Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), 1987-1999.
* Wakil Ketua Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri pada Dewan Pertimbangan Agung (DPA), 1993-1998.
Bintang/tanda kehormatan/penghargaan:
* Bintang Mahaputra Utama, 1993
* Bintang Gerilya, 1990
* Satyalancana Pembangunan untuk keberhasilan membina dan mengembangkan koperasi/koperasi unit desa dan pengusaha kecil, 1996
* Satyalancana Kebaktian Sosial, 1996
* Satyalancana Peristiwa Perang Kemerdekaan I, 1959
* Satyalancana Peristiwa Perang Kemerdekaan II, 1959
* Satyalancana Gerakan Operasi Militer I, 1959
* Satyalancana Gerakan Operasi Militer VI, 1959
* Surat Tanda Jasa Pahlawan dalam Perjuangan Gerilya Membela Kemerdekaan Negara Republik Indonesia, 1959
* Satyalancana Penegak, 1971
* Bintang Legiun Veteran Republik Indonesia, 1992
* Piagam Sebutan Pewaris Kehormatan Miniatur Indonesia “Indonesia Indah” Warana Bhakti dan Krida Bhakti, 1975
* Penghargaan Anugerah Wisata Indonesia dari Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi, 1988
* Piagam Bhakti Koperasi dan Pengusaha Kecil dari Menteri Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil, 1995
* Penghargaan Investasi Wreksa Parahita dari Menteri Negara Penggerak Dana Investasi/Ketua BKPM, 1995
* Piagam Penghargaan Upakarti atas pengabdian membina dan mengembangkan industri kecil dan kerajinan, 1996
* Penghargaan Tertinggi Musyawarah Nasional Kadin Indonesia Tahun 1988
* Penghargaan Peniti Emas Peringatan HUT ke-25 Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), 1997
* Anugerah Karya Bhakti Utama Wisata dari Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI), 1997
* Piagam dan Bintang Budaya dari Pusat Lembaga Kebudayaan Jawi Surakarta, 1996
* Piagam Penghargaan dan Mendali Perjuangan Angkatan 45, 1995
* Piagam Penghargaan dan Mendali Kamar Dagang dan Industri Tingkat I Jakarta, 1997
* The Order Of The Rising Sun, Gold and Silver Star dari Pemerintah Jepang, 1993
* People’s Friendship Ambassador (Duta Persahabatan Rakyat) dari The Chinese People’s Association for Friendship with Foregn Contries Republik Rakyat China, 1994
* Syariah Award dari PT Bank Muamalat, Majelis Ulama Indonesia dan Bank Indonesia, 2003.
* Piagam Gelar Kehormatan Pangkat/Sesebutan Kanjeng Raden Haryo (KRH), dari SIJ Mangkunagoro VIII, 1987.
* Piagam Gelar Kehormatan Pangkat/Sesebutan Kanjeng Pangeran (KP), dari SISKS Pakoe Boewono XII, Keraton Surakarta Hadiningrat, 16 September 2001.

Sumber: Sejarah perjalanan hidup meraih prestasi Sukamdani SG: Wujud sebuah bakti (bis)

Oleh : Y Bayu Widagdo, Rahmat Wibisono, Fetty Permatasari

Dari timur ke barat laksana matahari

Sukoharjo dan sekitarnya adalah kampung halaman tak terlupakan bagi Sukamdani Sahid Gitosardjono. Di Kampung Carikan, Desa Jetis, Sukoharjolah dia dilahirkan.
Di Sukoharjo pula cucu Raden Demang Djogokarso ini tumbuh dengan pendidikan formal volkschool (sekolah rakyat) hingga ambachtschool (sekolah teknik tinggi) serta ajaran nonformal orangtua yang tak bosan memberikan nasihat bijaksana.

Kedekatan Sukamdani dengan Soloraya selanjutnya tercermin pada pilihannya atas mesin cetak kala memulai usaha di tahun 1955. Padahal kala itu, mesin sejenis buatan China juga tersedia di pasaran. Nyatanya dia lebih memilih mesin merk Dewako bikinan Pasar Kliwon. “Alasannya, karena saya dari Solo, saya belinya mending di Solo,” tukas Sukamdani yang mengaku mendapatkan potongan harga cukup signifikan karena dia dikenal oleh kalangan pengusaha Solo kala itu.

Bakti Sukamdani bagi kampung halamannya kembali tercurah kala dia memilih Solo sebagai kota pertama lokasi hotel Grup Sahid di tahun 1961. Catatan tak kalah penting terkait bakti Sukamdani bagi daerah asalnya adalah pelaksanaan Bimbingan Massal Swasta (Bimasta) PT Sahid di Sukoharjo pada tahun 1968. Proyek pertanian ini digagas Sukamdani karena menyadari bahwa sebagian wilayah Kabupaten Sukoharjo sejak dulu mengandalkan air hujan untuk mendukung tanam padi.

Demi mendukung peningkatan dinamika ekonomi Soloraya, Sukamdani pada tahun 1971 berhasil menuntaskan pemugaran Pasar Slompretan menjadi Gedung Bursa Tekstil Nasional Pasar Klewer. Berbagai lembaga pendidikan dan media massa juga didirikan Sukamdani di tanah kelahiran.
Sesuai petuah bijak orangtua yang melekat dalam ingatannya, Sukamdani melalui Yayasan Mangadeg Surakarta yang dibentuk bersama Pak Harto, Ibu Tien dan Sri Mangkunegoro VIII, Sukamdani pada tahun 1971 memugar Kompleks Astana Giribangun tempat para leluhurnya dimakamkan. Pada tahun 2001, Sukamdani juga aktif membantu SISKS Pakoe Boewono XII memugar Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Meskipun begitu banyak catatan bakti Sukamdani bagi tanah kelahirannya, dia tegas menolak keberhasilannya hanya untuk Soloraya. Dipaparkannya, jejaring Hotel Sahid berada di berbagai pelosok wilayah Tanah Air, demikian pula unit usaha lainnya. Bahkan belakangan Sukamdani dan keluarga tampak begitu perhatian dengan Divisi Usaha Sejahtera Terpadu Padepokan Sahid Wisata Gunung Menyan di Bogor, Jawa Barat.
Diawali dengan pembukaan Pondok Pesantren Modern Sahid Gunung Menyan pada tahun 2000, kini di kawasan seluas 70 ha itu telah dilengkapi Sekolah Tinggi Agama Islam Terpadu (STAIT) Modern Sahid.
Ditanya mengapa dia tak mendirikan pondok pesantren itu di tanah kelahiran, Sukamdani tegas menyatakan bahwa selama ini dirinya senantiasa mendahulukan Sukoharjo, Soloraya dan Jateng. Namun diingat pula olehnya bahwa Sukamdani adalah warga bangsa Indonesia yang harus pula membangun wilayah lain di Tanah Air.
“Saya senantiasa mempertimbangkan alam. Matahari kan bergerak dari timur ke barat, saya juga demikian. Saya kan dari timur lalu ke barat, makanya saya pilih Gunung Menyan. Selanjutnya Gunung Menyan ini diharapkan menyinari semua wilayah, menjadi inspirasi dorongan nasional,” tutur Sukamdani .

Memulihkan hubungan dagang Indonesia-China
Retaknya hubungan politik Republik Indonesia dan Republik Rakyat China sejak peristiwa 30 September 1965 menjadikan perdagangan di antara kedua negara tak optimal.
Meskipun tak pernah ada hubungan perdagangan resmi di antara kedua negara, pada kenyataannya barang-barang buatan China tetap beredar di Indonesia, demikian pula sebaliknya.
”Jadi hubungan itu sama saja, hanya saja melalui negara ketiga, seperti Singapura, Hong Kong dan Jepang,” jelas Sukamdani Sahid Gitosardjono yang pada tahun 1984 memrakarsai pemulihan hubungan dagang Indonesia-China.
Prakarsa didasari pemikiran hubungan tak langsung antara kedua negara menyebabkan haga barang, pengiriman, pemilihan kapal pengangkut dan syarat-syarat lain ditentukan oleh pihak perantara. Alhasil konsumen di kedua negara tak pernah mendapatkan harga wajar.
Namun di masa Orde Baru, langkah merajut kembali hubungan yang hampir dua dasawarsa retak bukan hal gampang. Risiko terburuk diambil Sukamdani yang pada tahun 1984 tercatat sebagai anggota Dewan Kehormatan Kamar Dagang dan Industri (Kadin). Dia memilih organisasi pengusaha itu sebagai pintu masuk pemulihan hubungan dagang antara kedua negara raksasa ini. ”Saya mengusulkan kepada Pak Harto (Presiden HM Soeharto-red), lalu saya dibilangin sama Pak Harto, ’Ndak gampang lho Pak Kamdani,’ tapi saya jawab, ’Kalau gagal saya yang tanggung, kalau berhasil untuk kepentingan pembangunan’,” kisah Sukamdani.
Nyatanya, upaya Sukamdani bersama Kadin itu membuahkan hasil manis. Pada 5 Juli 1985, Kadin dan China Council for The Promotion of International Trade (CCPIT) dengan persetujuan pemerintah negara masing-masing menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) pembukaan kembali hubungan dagang langsung. Penandatanganan MoU itu dilakukan di Hotel Sangri-La Singapura oleh Sukamdani yang mewakili Kadin dan Rong Fengxiang selaku Kepala Perwakilan Perdagangan China di Singapura.

Pemimpin yang kebapakan
Tiga puluh lima tahun bergabung di Sahid Group bukanlah waktu yang singkat. Tapi Haryono Hadikusumo, 64, merasa masih banyak ilmu yang belum dicecapnya selama 35 tahun berkarya di Grup Sahid, utamanya Ilmu Kepemimpinan Sukamdani Sahid Gitosardjono.
“Karena kepemimpinan beliau bagus sekali. Memimpin dengan sangat kebapakan dan selalu berorientasi pada visi misi,” ujar lelaki yang mengawali karier di Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta 35 tahun lalu sebagai manajer restoran ini.
Karena itulah meskipun telah memasuki masa pensiun, Haryono tetap bersemangat berkiprah di Sahid Group. Ia kini menjadi Ketua Bidang Pendidikan Yayasan Sahid Jaya Cabang Solo.
Saking banyaknya keteladanan yang Sukamdani contohkan, kata Haryono, lantas menginspirasi orang-orang yang berada di Bidang Pendidikan Sahid Group untuk menyusun buku berjudul Wasito Adi yang berisi petuah-petuah Sukamdani. “Saya ikut menyusun. Isinya piwulang, piweling lan piwaler. Merupakan kumpulan nasihat bapak selama ini,” ungkap Haryoto yang saat dihubungi Espos Minggu (13/3), tengah berada di Jakarta

Nguwongke uwong
Sebagai karyawan yang telah bergabung selama 16 tahun di Sahid Group, Joko Sadoso Priyo, 47, amat kagum dengan gaya kepemimpinan Sukamdani yang selalu memberikan ilmu bagi bawahannya dengan memegang teguh prinsip nguwongke uwong.
“Saat memberi pengarahan kepada bawahan, beliau tidak pernah marah. Kalau mengerjakan apapun begitu detail,” ungkap warga Karangasem RT 1/RW IV yang tujuh tahun menjadi ajudan Sukamdani itu ini.
Salah satu contoh ketelitian Sukamdani, kata Joko yang dihubungi Espos, Minggu (13/3), terlihat saat akan mengadakan acara resmi. Sukamdani dengan cermat menunjukkan bagaimana mengatur tempat duduk pejabat yang hadir. Joko ingat, suatu ketika ada acara di Solo yang akan dihadiri gubernur dan Sihunun Pakoe Boewono XII.
“Bapak meminta agar Sinuwun lebih diposisikan istimewa ketimbang gubernur. Karena acara berada di Solo,” ungkap lelaki yang mengawali karier sebagai Duty Manajer di Hotel Sahid Raya Solo pada 1995 ini.
Bagi Joko, di hari ulang tahun Sukamdani ini, ia hanya berharap semoga gurunya itu bisa panjang umur sehingga semakin lebih banyak lagi menularkan ilmu kepada karyawan-karyawannya.