Maaf, Anda mengaktifkan Adblock pada browser anda!
Atau anda tidak mengaktifkan Javascript![ ? ]

Category Archives: Uncategorized

Menengok rumah-rumah terindah di dunia

  • 12 Agustus 2015

Image captionLa Rotonda bangunan yang memadukan seni dan arstiektur serta simbol relijius.

Selama berabad-abad, para seniman dan perancang telah berupaya untuk menciptakan arsitektur yang memuaskan secara estetika. Tetapi apakah sebuah rumah menjadi seni?

Pada tahun 1565, Paolo Almerico, seorang pejabat tinggi pengadilan Vatikan pada masa Paus Pius IV dan V, pensiun dan pindah ke Vicenza, sebuah kota di bagian timur laut Italia.

Dia menunjuk Andrea Palladio, salah satu arsitek terbaik dalam sejarah, untuk merancang sebuah tipe rumah baru. Bangunan yang didirikan di atas bukit dengan pemandangan kota dan wilayah pedesaan di sekitarnya dinamai La Rotonda, sebuah vila yang terkenal dengan pertanian mandiri, agama dan perdagangan. Sebuah tempat untuk belajar, kontemplasi dan cukup menyenangkan. La Rotonda juga merupakan karya seni tanpa cela.

Meski demikian penyokong dana ataupun arsitek tak sempat melihat bangunan La Rotonda selesai dibangun. Sebuah keindahan, keyamanan, simetri, simbol religius – sebuah salib dalam sebuah kotak dalam sebuah lingkaran imajiner – dan dengan serambi dari tiang berbentuk klasik yang berbahan ion yang menghadap empat penjuru kompas, rumah yang indah ini terhubung dengan pemandangan kota menyatukan seni dengan arsitektur. Bangunan ini merupakan sebuah bentuk karya Renaisans ideal yang sempurna.

Sejak saat itu, dan tidak peduli apapun gayanya, bahan baku atau budaya, pasti arsitek dan para patron yang bersemangat ataupun tercerahkan, bertujuan untuk melakukan sesuatu yang kurang lebih sama dengan karya Palladio dan Almerico yang dibuat 450 tahun yang lalu itu.

Sebuah pameran terbaru di Museum Of Modern Art (MoMA) New York, Endless House: Intersections of Art and Architecture, “mempertimbangkan rumah untuk sebuah keluarga dan pola dasar hunian sebagai tema dari upaya kreativitas arsitek dan seniman“.

Melalui gambar-gambar, model, video dan instalasi, pertunjukan ini bertujuan mengamati sebuah rumah sebagai cara untuk mengeksplorasi ide arsitektur yang memiliki kaitan dengan seni.

Itu juga tampak dalam karya para seniman yang telah membuat rumah sebagai fokus kreativitas mereka, dan dengan implikasi menimbulkan pertanyaan yang dengan menganggumkan dijawab oleh Palladio dan Paulo Almerico: apakah sebuah rumah dapat menjadi sebuah pekerjaan seni?

Pertanyaan seringkali diajukan, bahwa masalah perumahan bagi penduduk dunia yang tumbuh cepat telah mendorong meningkatnya permukiman di pinggiran kota seiring dengan menjamurnya rumah-rumah gubuk – belum lagi rumah-rumah yang murah ataupun mahal, yang jauh sekali dari sentuhan seni.

‘Hantu di rumah‘

Dalam pameran yang digelar MoMA menekankan pada perpaduan seni dan arsitektur selama lima puluh tahun, dibandingkan dengan 500 tahun sebelumnya.

Sebab pada tahun ini, merupakan peringatan 50 tahun kematian Frederick Kiesler, seorang seniman dan arsitek blasteran Austria-Amerika, yang bekerja sama dengan museum di akhir 1950an dalam sebuah proyek untuk sebuah rumah seperti La Rotonda yang telah berdiri sejak 1560an. Ini merupakan rumah tanpa batas.

rumah
Image captionFrank Gehry mentraformasikan bangunan gaya kolonial Belanda menjadi rumah keluarga.

Bangunan itu hanya diwujudkan sebagai sebuah model, tetapi apa yang menjadi luar biasa, sesuatu yang eksperimental, rata, berbentuk elips yang menggambarkan apa yang Kiesler sebut sebagai Correalism, sebuah rancangan dengan filosofi memperhatikan bentuk sebuah ruang yang saling berkaitan, manusia, obyek, konsep serta seni.

Jika ini terdengar sangat 60an, memang begitu. Correalism dan rumah tanpa batas mempengaruhi para arsitek seperti Frank Gehry, yang pertama kali menerima penghargaan Frederick Kiesler Prize dalam bidang arsitektur dan seni pada 1998.

Karya Gehry yang terkenal antara lain Museum Guggenheim Bilbao di Spanyol yang dibuka pada 1997 lalu. Dua puluh tahun sebelumnya, Gehry juga membangun rumah bergaya kolonial Belanda tahun1920 di Santa Monica, dengan konsep sebuah rumah keluarga yang ajaib, dengan memadukan konsep material, obyek dan seni.

“Kami diberitahu bahwa ada hantu di rumah,”, Gehry mengatakan kepada Arch Daily. “Saya memasukkan hantu kubisme. Jendela-jendelanya… Saya ingin membuat mereka tampak seperti merangkak keluar dari sana. Pada malam hari, kaca ini memantulkan cahaya…. jadi ketika Anda duduk di meja ini Anda akan melihat mobil-mobil yang melintas, Anda akan melihat bulan di tempat yang berbeda… bulan ada di sana tetapi dipantulkan disini… Dan Anda pikir itu ada di atas sana dan Anda tidak mengetahui di mana Anda.”

Rumah
Image captionSebuah model yang indah rancangan Asymptote Architecture, Wing House.

Frederick Kiesler akan senang mengunjungi Frank Gehry di rumah yang juga juga merupakan sebuah karya seni. Ketika diminta untuk membangun sebuah Rumah Tanpa Batas di halaman MoMa untuk pameran museum tentang Arsitektur Bayangan pada 1960, Kiesler berbicara mengenai lantai batu kerikil, pasir, rumput, papan, air dari anak sungai dan ubin terakota. Tetapi itu tak pernah terwujud.

Juga Wing House oleh Asymptote Architecture, sebuah praktek di New York yang didanai oleh Hani Rashid dan Lise Anne Couture. Ini merupakan salah satu dari desain tiga rumah yang ditampilkan dalam sebuah model pada 2008 di Venice Architecture Biennale.

Habitat alami

Sesungguhnya rancangan mengeksplorasi ide menghubungkan seni dengan sains ke Arsitektur. Pada 2006, Gillian Lambert, seorang mahasiswa arsitektur London, memasukkan unsur cuaca dalam desainnya.

Lambert menampilkan gambar yang indah untuk desain sebuah “rumah studio untuk seorang arsitek yang terobsesi dengan cuaca”, dia mengatakan kepada saya, terinspirasi oleh lukisan karya JMW Turner yang berjudul Snow Storm – Steam-Boat Off a Harbour’s Mouth, tahun 1842.

“Ruang dalam rumah tampak kabur seperti air hujan yang jatuh dari langit-langit; Angin sepoi-sepoi di udara ditapis melalui tembok, melewati cahaya di siang hari dan area yang tersembunyi dalam bayangan gelap. Bagian dalamnya menrefleksikan kondisi alam yang tidak terduga dan dinamis.”

Rumah
Image captionKreasi Gillian Lambert yang terinspirasi dari lukisan karya JMW Turner berjudul Snow Storm – Steam-Boat Off a Harbour’s Mouth.

Jika sangat berbeda dari karya Gehry “Hantu Kubisme”, proyek Lambert menampilkan sebuah kehadiran ‘hantu’ melalui Ghost of Water Row, sebuah rumah yang terbuat dari dengan atap katun putih dan tembok yang kokoh, yang dipamerkan hanya satu malam di pinggiran sungai Clyde di Glasgow pada November 2012.

Karya itu merupakan rancangan Edo Architecture (Andy McAvoy dan Ann Nisbet), itu merupakan kebangkitan dari imajinasi dari deretan rumah penenun yang ada di sini sejak 1790 sampai 1929.

Seniman peraih Turner Prize Rachel Whiteread melakukan sesuatu yang serupa pada 1990an, pertama melalui karya Ghost (1990), sebuah bagian dalam sebuah rumah gaya Victoria dan kemudian dengan House (1993).

Meskipun dimaksudkan untuk sementara waktu, House membuat Whiteread meraih Turner Prize.

Sementara itu para arsitek modern Le Corbusier dan Mies van der Rohe, telah membuat rumah sebagai karya seni pada abad 20 seperti yang dilakukan Palladio and Paolo. Karya Almerico itu apakah eksperimental, konseptual atau secara arsitektur formal dan benar, kunci utama bangunan dan karya seni mencerminkan sifat rumah, yang sangat berbeda dengan bangunan rumah baru tidak memiliki nilai seni.

Dikutip dari: bbc.com

Kisah perusahaan kelompok Honoris -dari Modern Group ke Seven Eleven

Otje Honoris (Ho Tjek / He Chunlin)
lahir 1922 di Singapura

 

Samadikun Hartono (He Xiao Kun / Ho Sioe Koen)
lahir 4 Februari 1948 di Bone

 

 Luntungan Honoris

 

Sungkono Honoris
lahir 1951 di Makassar

 

Siwie Honoris (2 dari kanan)

 

David Honoris (2 dari kiri)

 

Henri Honoris
lahir 27 Mei 1975 di Jakarta

SEJARAH DAN PENCAPAIAN HONORIS INDUSTRY
1982: Pabrik pertama Honoris Industry didirikan di Cakung, Jakarta
1982: Mulai memproduksi kamera
1982: Mendirikan fasilitas Plastic Injection
1990: Mendirikan fasilitas Electronic Chip Mounting
1992: Produksi kamera zoom untuk pertama kalinya
1992: Pabrik kedua didirikan di Ciawi, Bogor
1992: Mendirikan fasilitas Glass Lens
1994: Mulai memproduksi audio mobil merek Pioneer
1995: Mendesain kamera untuk pertama kalinya
1995: Mulai memproduksi piano, organ, keyboard merek Kawai
1995: Mulai memproduksi Covac Casio Wristband
1996: Mendesain Photo Booth untuk pertama kalinya
1998: Mendesain kamera AF pertama: AC-180
2000: Mulai memproduksi Showa Honeycomb Filter
2000: Mulai memproduksi Fuji Zoom Lens
2001: Mulai memproduksi CCD Zoom Lens Assy (Camcorder)
2001: Mendesain kamera digital pertama: MP-35 (VGA)
2002: Mulai memproduksi Yagi Antenna Booster
2004: Mulai memproduksi televisi dan kompor Hitachi
2005: Mendesain kamera 3Mp pertama: MP-3MF
2005: Mulai memproduksi televisi merek Konka
2005: Mendirikan Print Station Design and Production pertama
2006: Mendesain kamera 5Mp pertama: MP-5MF
2006: Mendirikan Photo Printer Design and Production pertama
2006: Mendesain televisi CRT pertama
2006: Mendesain televisi TV pertama

SEJARAH DAN PENCAPAIAN PT MODERN INTERNATIONAL
1971: PT Modern Photo Film didirikan
1988: Fuji Image Plaza didirikan
1991: Penawaran umum perdana (IPO)
1997: Nama perusahaan berubah jadi PT Modern Photo
1997: Ditunjuk sebagai distributor RICOH
2006: Ditunjuk sebagai distributor Shimadzu (alat kesehatan)
2007: Nama perusahaan berubah jadi PT Modern International
2008: Mendapat izin dari 7-Eleven AS untuk jadi pemegang waralaba tunggal
2009: Toko 7-Eleven pertama dibuka di Jl. Bulungan, Jakarta
2010: Toko 7-Eleven ke 21 dibuka di Jl. Radio Dalam, Jakarta
2011: Toko 7-Eleven di Jakarta telah mencapai 57 buah pada akhir tahun 2011
2013: Toko 7-Eleven di Jakarta telah mencapai 136 buah pada akhir tahun 2013

PERJALANAN HONORIS

Otje lahir tahun 1922 di Singapura dan dibawa ke Makassar, Sulawesi Selatan tahun 1923. Ia lalu belajar fotografi dan membuka sebuah studio foto di Makassar. Tahun 1965 Otje pindah ke Jakarta dan membuka sebuah kios kecil di Pasar Baru. Ketika itu kamera masih merupakan barang mewah dan langka. Meski bermodalkan barang titipan, Otje tidak cuma menunggu. Ia mengerahkan anak dan istrinya untuk mencari calon pembeli. Pada saat itu anaknya yang ketiga, Samadikun Hartono baru tamat SMP di Makassar.

The Modern Group didirikan pada tahun 1965 oleh Ho Tjek, lebih dikenal dengan nama Otje Honoris, seorang pengusaha  dari Makassar, Sulawesi Selatan. Ketika pertama kali datang ke Jakarta ia memulai bisnis dalam menjual peralatan fotografi ritel Usahanya berkembang dan diperluas untuk bisnis grosir dan mulai menawarkan layanan untuk mengembangkan foto berwarna.

Pada tahun 1971, Ho Tjek dan putranya mendirikan PT. Modern Photo Film (PT. MPF) dengan dia sebagai pemegang saham 80% dan Samadikun Hartono pemilik 20%. PT. MPF dioperasikan sebagai distributor peralatan fotografi dan diberi nama agen resmi untuk produk dari Fuji Photo Film Co, Jepang dengan merek Fuji di Indonesia mulai tahun 1971. PT. MPF memegang lisensi untuk menjual proses dan mengembangkan film, kamera dan produk fotografi lain dari Fuji.

Setelah kematian Otje Honoris, putra ketiganya Samadikun Hartono mengambil alih sebagai ketua Kelompok modern. Ia dibantu oleh saudara-saudaranya Luntungan Honoris, Sungkono Honoris, dan Siwi Honoris. Keempat bersaudara menjadi pemilik dari PT Inti Putra Modern yang merupakan perusahaan induk Grup Modern. Putra beliau bernama Henri Honoris sebagai penerus dari Otje Honoris lahir di Jakarta, tahun 1975, Henri Honoris adalah generasi ketiga di Grup Modern. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana bidang marketing and finance di Seattle University, Seattle, Amerika Serikat pada November 1997. Ia mengawali karier dengan bekerja di Fuji Photo Film di New York, Amerika Serikat sebagai market research analyst (1998-2000). Kemudian ia melanjutkan karier sebagai assistant manager di PT Modern Indolab (2002-2003). Kariernya makin melejit ketika ia juga merangkap sebagai Presiden Direktur PT Modern Putra Indonesia hingga sekarang. Ia bertanggung jawab mengembangkan bisnis 7-Eleven di Indonesia. Tak pelak, posisi tinggi dan tanggung jawab besar yang dipercayakan kepada Henri seakan menasbihkan bahwa Henri Honoris adalah calon pemimpin baru Grup Modern di masa depan.

Tanggal 12 Mei 1971 Otje mendirikan Modern Group bersama Luntungan Honoris dengan modal dasar Rp. 100 juta dan pembagian saham 80:20. Pada 28 Oktober 1971 modal dasar ditingkatkan menjadi Rp. 200 juta. Mereka lalu berhasil mendapat izin untuk menjadi distributor Fuji Film. Mereka cuma membayar royalti kepada Fuji dan bebas menjual ke seluruh dunia. Pada tahun 1977 kelompok ini juga membuka retail mainan anak (Kid toys store) dengan nama Hoya, singkatan Honoris Jaya dengan maskot Sazan, jin yang gaul. Pembukaan toko mainan ini terinspirasi toko mainan “Bobo” . Hanya dalam beberapa tahun, baik “Toko mainan Bobo dunia anak-anak” maupun “Hoya” harus tutup karena kurang menguntungkan.

Pada 6 September 1980, 40% saham dimiliki Otje Honoris dan 60% sisanya dibagi rata pada Luntungan Honoris, Sungkono Honoris, Siwie Honoris, dan Samadikun Hartono. Pada 7 Mei 1981 Otje menjual sebagian sahamnya sehingga kelima orang itu memiliki saham masing-masing sebesar 20%. Setelah Otje meninggal, pada 17 April 1982 saham Otje sebesar 20% menjadi milik Linda Sihaja.

Pada tahun 1982 PT Honoris Industry didirikan ( lebih dari 50% kamera Fuji di seluruh dunia diproduksi oleh PT Honoris Industry). Kamera pertama yang diproduksi adalah Fujica M1 yang di pasar internasional lebih dikenal sebagai Fujica MA-1. Pada awalnya kamera ini dijual dengan harga Rp. 15.000 dan hanya
diproduksi warna hitam saja. Namun setelah Maya Rumantir menjadi bintang iklan
kamera ini, harganya naik menjadi Rp. 25.000 dan ada warna merah, biru, dan hijau.

 

 

Tahun 1984 ekspor kamera Fuji mencapai 140
ribu unit dimana 58% nya diekspor ke Prancis. Tahun 1985 kamera
Fuji DL-10 diluncurkan.

Tahun 1985 Samadikun menjadi direktur Modern Group dan dibantu oleh
Luntungan Honoris, Sungkono Honoris, Siwie Honoris. Keempat bersaudara
itu lalu mendirikan PT Inti Putra Modern yang membawahi Modern Group. Modern Group lalu dibagi menjadi 3: Modern Photo Film yang bergerak di
bidang foto, Modern Land yang bergerak di bidang properti, dan Modern
Bank yang bergerak di bidang keuangan. PT Modern Photo Film sempat berubah
menjadi PT Modern Photo pada Mei 1997 dan menjadi PT Modern
International sejak Juni 2007.

Tahun 1995 Luntungan Honoris mendirikan Sekolah Harapan Bangsa di Tangerang untuk memfasilitasi perumahan Modern Land.

Tahun 2000 perusahaan mencapai puncak kejayaan dengan pendapatan Rp. 3 trilyun tapi ketika era digital tiba dan menyebabkan orang jarang membeli rol film, anak Sungkono – Henri Honoris – mulai berpikir keras mencari cara untuk menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan. Mulailah Henri melirik bisnis lain, antaranya adalah bisnis waralaba alias franchise.  Tahun 2006 Henri Honoris mencari informasi untuk mendapatkan license waralaba 7-Eleven agar dapat membuka gerai di Indonesia.

Meski tidak ada jawaban selama 2 tahun, ia tetap mengirim email. Ia akhirnya diundang untuk interview. Ia ditanya mengapa 7-Eleven harus ada di Indonesia dan ia menjawab bahwa ia memiliki dasar ritel. Setelah lama menunggu, PT Modern Putra Indonesia terpilih menjadi pemegang waralaba tunggal 7-Eleven di Indonesia ( ketika menemani untuk survei pasar, pihak 7-Eleven terkesan dengan Henri yang mendatangi sendiri dibanding 2 pesaingnya yang hanya mengirimkan direktur).

Pada 7 November 2009 gerai pertama dibuka di Bulungan, Jakarta dengan konsep nongkrong.  konsep nongkrong yang hanya ditemukan di 7-Eleven Indonesia ini menjadi fenomena dunia dan bahkan dibahas di New York Times. Tak hanya itu, 7-Eleven juga satu-satunya tempat nongkrong murah dimana kaum muda bisa menikmati bir, suatu hal yang selama ini sulit didapatkan di toko biasa dan hanya tersedia di tempat nongkrong yang lebih mahal.

Tahun 2010 7-Eleven telah mencapai 21 gerai dan menghasilkan omzet Rp. 72 milyar. Tahun 2011 7-Eleven telah mencapai 57 gerai dan menghasilkan omzet Rp. 319 milyar. GOSIPNYA tahun 2011 laba yang didapat mencapai Rp. 57 milyar.

 7-Eleven di Jepang

 

7-Eleven di Jakarta
 Dikutip dari berbagai sumber

Kenangan acara televisi di era tahun 1970-an

 


ketika melewati beberapa penjual barang bekas di Manggarai, melihat sebuah lemari dan televisi tabung zaman doeloe, tiba-tiba terkenanglah si author tentang masa lalu.


ERA 70-an

Televisi
Saat itu di negri ini hanya ada satu saluran teve, Televisi Republik Indonesia atau TVRI. Itu pun pada awalnya (1969-1970) sebagian besar teve hanya hitam-putih. Itu pun (sekali lagi pakai itupun) kebanyakan berukuran layar 14 inch.Itu pun (cape deh) jam siarannya belum 24 jam .
Acara Dalam Negeri

Serial yang paling digandrungi saat itu:
Acara sandiwara “Keluarga Marlia Hardy”, saban sabtu sore, kami selalu menyenggangkan waktu untuk nonton acara ini. Keluarga Bu Mar (panggilan akrab bu Marlia Hardy sekaligus perannya dalam sandiwara ini). Bersama Awaludin yang berperan sebagai suami dan ayah dari tiga bersaudara: Didu (diperankan Musa Sanjaya), Kiki dan Rury.Marlia Hardi (lahir di Magelang, Jawa Tengah, 10 Maret 1927; wafat: Juni 1984) adalah seorang pemeran Indonesia. Namanya sangat populer di tahun 1970-an, maklum karena dengan hanya satu saluran teve, tanpa alternatif maka hanya keluarga ini saja yang terkenal. Alternatif sandiwara adalah kelompok “Keluarga Ratu Asia” yang juga bagus, namun jarang mendapat kesempatan tayang.Kak Pipit Sandra adalah primadona dari kelompok sandiwara yang lain ini.
Kris Biantoro
Beliaulah pelopor MC Kuis-kuisan di Indonesia, dengan ibu Ani Sumadi sebagai pelopor Quis Master di Indonesia. Kris ini bintang segala genre. Ia bisa bernyanyi dengan memukau, melawak dengan lucu, menyajikan kuis dengan memikat, mengiklankan produk.Acara kuis yang paling disukai saat itu adalah “Aneka Quis” yang dikomandani oleh ibu Ani Sumadi.Mistery Quest adalah salah satu session paling menarik
Kris Biantoro saat itu sangat laris menjadi model iklan teve, mulai dari iklan sabun deterjen Rinso, sampai mobil niaga.Beliau juga ikut mengangkat pesan sosial. Pernah pula ikut membintangi film tentang kisah nyata seorang transsexual Indonesia pertama pada sekitar tahun 1975-an. Kisah seorang remaja pria bernama Iwan Rubiyanto dari keluarga Bapak Iskandar yang melakukan operasi ganti kelamin di Kandang Kebo Hospital, Singapore setelah melalui proses yang melelahkan dan memicu berbagai polemik pro dan kontra. Iwan yang berganti nama menjadi Vivian Rubiyanti dan menikah dengan seorang pengusaha asal Kalimantan ini kemudian diangkat kisahnya menjadi film layar perak berjudul “Akulah Vivian”
Sebagai bintang iklan, Kris membintangi produk-produk terkemuka, seperti sabun detergen yang sampai saat ini masih menjadi market leader di Indonesia.Beliau juga yang mempelopori trend iklan sabun cuci dengan “Uji kemampuan”, yaitu adegan menguji dua jenis sabun cuci kemudian di shoot close up kedua larutan hasil cucian tersebut.

Sambas Mangundikarta
Penyiar, reporter acara olahraga di televisi yang paling suaabbarr, renyah dan empuk suaranya (tapi bukan snack) dan sangat enak ulasannya.
Bagyo dkk
Kelompok ini terdiri dari S.Bagyo, Sol Soleh (satu-satunya anggota yang berdarah Sunda), Darto Helm dan Diran.
Lawakan mereka sederhana namun mampu mengocok perut para pemirsa.
S.Bagyo pernah juga bermain dalam film serius berjudul “Topaz Sang Guru” bersama Rahayu Effendy dan Maruli Sitompul. Dalam film ini S.Bagyo berperan sebagai seorang guru bernama Topas yang kemudian menjadi “Direktur Boneka” suatu kartel bisnis gelap. Oleh dorongan hati nurani, Topas Sang Guru ini melepaskan semua fasilitas yang diperolehnya, dengan segala konsekwensinya.

Apresiasi Film Indonesia.
Di era tahun 1980-an, muncul acara di TVRI yang digelar saban hari Sabtu malam (kalau tak salah jam 21.30 an, sesudah Dunia Dalam Berita). Diantara beberapa penyiar yang membawakan, saya ingat Sandy Tyas yang paling berhasil dan mendapat pujian.
Pernah dalam satu episode, beliau (Sandi Tyas, mewawancarai pionir pendiri studio film pertama Indonesia, yaitu almarhum Nyoo Han Siang. Saat itu pak Nyoo masih keadaan sakit, dan dibantu bicara oleh bapak Rudy, kemenakannya. Dengan kesulitan bicara, bapak Nyoo menjawab pertanyaan tentang Studio Film (Inter Pratama Studio) yang didirikannya itu.

Film dan Film Seri
Hampir semua film televisi yang ditayangkan TVRI era 70-80 an umumnya film barat. Hanya satu film Jepang penulis lupa judulnya, hanya ingat nama tokohnya “Mido” merupakan film aksi petualangan/pertempuran yang kini diwakili oleh Gaban, Voltus, Power Ranger dll
Film Koboi
Film koboi cukup banyak, antara lain : BOnanza, kisah koboi tua dengan tiga anak-anak lakinya yang gagah (anak bungsunya diperankan Michael Landon, yang juga membintangi seri Highway To Heaven dan Little House on the Praireie).Keluarga koboi ini jago menembak dan ahli melempar tali lasso
Film lain ,Rin Tin-tin (nama Rin Tin Tin adalah nama seekor anjing gembala yanbg cerdas).
FILM SERIAL
Film Mannix, Hawaii Five-O, I Dream of Jeanny, The Avenger, The Saint adalah film-film seri yang digemari saat itu.
Hawaii Five-O, sampai saat ini masih dikenang orang. Lagu Instrumentalia (jingle )pembuka masih kerap terdengar. Bintang antara lain Jack Lord. Film Kojak, dibintangi Telly Savalas adalah film detektif dengan tokoh pria botak bernama Kojak yang diperankan oleh Telly Savalas. Saat itu, selain Telly Savalas, bintang gundul lain adalah Yul Bryner.
“I dream of Jeannie” adalah film seri yang diputar pada hari Sabtu jam 21.00. Penulis bisa ingat jam tayang karena penulis termasuk penggemar film yang dibintangi Barbara Eden ini. Tak pelak ,banyak orang menduga, bahwa film inilah yang menginspirasi lahirnya film “Jinni lagi Jinni lagi” atau “Semua Karena Jinni” yang melejitkan nama Diana Pungky, tigapuluh tahun lebih sesudah film “I dream of Jeanny”.

Barbara Eden, lakon Jeanny dalam “I Dream of Jeanny”

Film Avenger (1971) diperbarui dengan film “New Avenger” (diputar 1981) tentang seorang pria detektif yang selalu membawa payung, yang kadang payung itu sebagi senjata juga.

Film “The Saint”, tadinya diperani Roger Moore sebagai Simon Templar, pada remark,(Return of The Saint) Simon Templar dibintangi bintang Inggris Ian Ogilvy.

Hawaii Five O (tentang 5 orang penegak hukum di Hawai, yang namanya semua pakai uruf 0). Peran utama Jack Lord (Mirip Alain Delon)

.Biasanya diputar hari Minggu malam jam 21.00 (waktu itu belum ada Dunia Dalam Berita yang jam 21.00).Lagu pembukaa (jinggle) paling disukai saat itu,dengan sorotan ke gelombang lautan Hawai yang sangat tinggi dan kecang (sampai sekarangpun masih membekas dalam ingatan, dan lagu jingle ini masih kerap diputar dalam berbagai acara)

Film seri CHIPS (California Highway Patrol),diperani oleh Erick Estrada

“Irama Lautan Teduh” dikomandani Hoegeng yang menjabat Kapolri
Irama Latin Spanyol oleh Los Morenos, lagu yang beken : Mucho Amigos
Grup pop musik beken jaman
Kembar Group, dua kakak-beradik Aleks dan Yakob (dari Manado)

<!–g

Legenda Dewi Luna

Legenda Dewi Luna, dewi bulan Romawi  kuno

Abraham Lincoln Silhouette

legends surrounding Luna, the Roman goddess of the moon

Luna
Discover the legends and myths and religious beliefs surrounding Luna, dewa-dewi Romawi, dewi Bulan. She was a minor Roman goddess who was recognized in three aspects as partbagian dari tiga serangkai dewis consisting of Luna, Hekate, the underworld goddess of magic and witchcraft and as Diana the goddess of the hunt. Her name is derived from the Latin word ‘lucere’ meaning to shine. Her temple in Rome was situated on the Aventine Hill and was erected in the 6th century BC but was destroyed by the great fire during the reign of the Emperor Nero. Pasangan Gerika the ancient Roman goddess Luna was Selene. Additional, intriguing information about ancient gods and goddesses is also available via:

Gods and Deities

Roman Gods and Goddesses

Roman Goddesses

Ancient Greek Gods and Goddesses

Luna, the Roman goddess of the moon

Dewi Luna

Facts about Luna
Luna features in the Creation myth of the ancients. Just as Helios personified the sun, so his sister Selene represented the moon, and was supposed to drive her chariot across the sky whilst her brother was resting after the toils of the day.The following information, facts and profile provides a fast overview of Luna:

Luna Profile & Fact File
Name: Luna
Alternate Names: Roman counterpart Selene
Role & Function: Luna is described as being the goddess of the moon
Symbols: The crescent moon and the two-yoke chariot (biga). She was often depicted with the crescent of the moon above her forehead
Patron: She is often depicted as a pale woman riding in a silver chariot, and was a patroness of charioteers
Status: A goddess in the second dynasty of Titans
Gender: Female
Name of Consorts: Endymion and Jupiter
Name of Father: Hyperion
Name of Mother: Theia
Names of Brothers: Sol
Names of Sisters: Aurora
Names of Children: Pandeia, Herse, and Nemeia by Jupiter. The Menae by Endymion (50 goddesses of the lunar months and the phases of the moon

Luna and Endymion
Luna greatly admired a beautiful young shepherd named Endymion, to whom Jupiter had accorded the privilege of eternal youth, combined with the faculty of sleeping whenever he desired, and as long as he wished. Seeing this lovely youth fast asleep on Mount Latmus, Luna was so struck with his beauty, that she came down every night from heaven to watch over and protect him.

Luna the Roman Moon Goddess

Luna, moon goddess

The Worship of Luna, the Roman goddess of the moon
The Romans were highly practical and believed that their gods and goddesses controlled everything in their lives and therefore every occupation and task had its presiding Roman goddess or god. Luna the Roman goddess of the moon was worshipped in the same way as any other Roman divinity with prayers and making vows, dedicating altars, sacrificing animals, birds and offerings of milk, honey, grain, fruit, cakes, flowers, perfumes and wine. White animals were sacrificed to the goddesses of the upper world whereas black victims to the deities of the Underworld.

Animal Sacrifice

Animal Sacrifice
The sex of a sacrificial animal had to correspond to the sex of the goddess to whom it was offered. The blood sacrifices made to Luna, the goddess of the moon, would therefore have been a white ewe, cow or heifer, sow, hen or other female birds and conducted outside her temple on the Aventine Hill in Rome.

Roman Gods Family Tree & Genealogy

Luna and the Roman Gods Family Tree and Genealogy
Luna the goddess of the moon was considered a minor, or lesser, goddess. The Roman gods family tree provides an instant overview of the genealogy and the family connections and relationships between the principle or major gods of the Romans who were worshipped at the height of the Empire of Rome.

Luna

  • Interesting information and Facts about the Roman goddess Luna
  • Luna, the Roman goddess of the moon
  • Stories and Legends in Roman Mythology and history
  • Facts and information about the Gods and Deities of the Ancient World for schools and kids
  • Luna, the Roman goddess of the moon
© 2015 Siteseen Ltd. Cookies Policy
AdChoices
By Linda Alchin Privacy Statement
Luna – Roman Goddess of the moon – Deity – Godess – Goddess – Worship – Sacrifice – Ancient – Rome – Romans – Kids – Children – Deity – Goddess of the moon – Religion – History – Mythology – Myths – Legends – Ancient – Pictures – Images – Mythical – Kids – Children – Facts – Interesting – Information – Info – Definition – Kids – Children – Meaning – Pagan – Female – Deity – Luna, Roman Goddess of the moon – Luna

Read More

Chinese Tea ceremony


CHINA TEA CULTURE

Chinese tea culture refers to the methods of preparation of tea, the equipment used to make tea and the occasions in which tea is consumed in China. The terms chayi “Art of Tea 茶藝” and “Tea Ceremony” have been used, but the term “Tea Culture茶文化” includes more than just the ceremony. Also “culture” is easier to translate into English from the Chinese term “art 藝”.

Tea culture in China differs from that of Europe, Britain or Japan in such things as preparation methods, tasting methods and the occasions for which it is consumed. Even now, in both casual and formal Chinese occasions, tea is consumed regularly. In addition to being a drink, Chinese tea is used in traditional Chinese medicine and in Chinese cuisine.

 

 

logo

Guangbing
Guangbing(光饼): Guangbing is a bread product that is baked and shaped like a sesame-seeded burger bun top. In the year of 1562, the Japanese invaded Fujian province. General Jiguang Qi was charged to drive the invaders out of Fujian. In order not to let the meal time slow down their marching speed, General Qi invented a kind of bread which was shaped into a ring at that time, so his soldiers could wear a string of those breads around their neck. After the victory, the recipe of this bread product was spread among the province and named Guangbing after General Qi. Nowadays, there is no longer a hole in the center of a Guangbing.

Crab
There are many kinds of crabs, among which the freshwater lakes boast more than 20, which in turn are highlighted by the golden-claw crabs in Yang-cheng Lake . After the Mid-autumn, fresh plump Yang-cheng crabs appear on the markets in large quantities, adding to the dining-boards another delicious throughout china.

Yangcheng Lake lies in the northeast of suzhou , traversing the cities of Wu Xian, Changshu and Kunshan. It has an area of some 80 square li. The clear water and abundant insects and grasses provide an excellent environment for the crabs. Crab is a kind of migration fish. It stays in freshwater lakes before September. About a fortnight after the crabs cast their shells in September comes the mating and spawning season. At this time they would crawl eastward to the juncture of the Yangtze River and the sea, thus making an annual crabbing season. The waterways in Kunshan city east to Yangcheng Lake are the only way of these migration crabs, so the place there becomes the main crabbing area. Each year during the period of September and October, the fishermen go there crabbing with nets, fishing grates, baskets, and even bamboo poles, ,making a scenery bustling with excitement.

After shelling appears the white jade of grease and the snow-white flesh. Going with wine or ford, the crab tastes delicious and is nutritious enough. Dishes made with crabs not only stay at the top of the menus in domestic hotels and restaurants but enjoy great popularity in Hongkong , Macao and overseas markets.

Source: suzhou.gov.cn

Editor: Feng Hui

 

 

Ming Dynasty

China during the Ming Dynasty (1368–1644) became involved in a new global trade of goods, plants, animals, and food crops known as the Columbian Exchange. Although the bulk of imports to China were silver, the Chinese also purchased New World crops from the Spanish Empire. This included sweet potatoes, maize, and peanuts, foods that could be cultivated in lands where traditional Chinese staple crops—wheat, millet, and rice—couldn’t grow, hence facilitating a rise in the population of China.[66][67] In the Song Dynasty (960–1279), rice had become the major staple crop of the poor;[68] after sweet potatoes were introduced to China around 1560, it gradually became the traditional food of the lower classes.

LINK:
>www.chinaculture.org

 

 

Kisah Laksamana Zhenghe (Cheng Ho)

Armada kapal raksasa Tiongkokpada tahun 1421 telah memulai penjelajahan menjangkau ujung-ujung bumi yang lain, jauh sebelum penemu benua dari bangsa Eropa dan bangsa-bangsa lain memulainya. Dengan membawa misi damai, mereka berangkat ke seluruh dunia, berpuluh-puluh tahun sebelum hal itu terpikirkan oleh para penemu benua dari Eropa. Bahkan satu abad sebelum Colombus mengelilingi dunia, orang Tiongkok sudah lama melakukannya.

Siapa yang memimpin Armada besar Cina menjelajahi dunia pada masa itu? Dialah Cheng Ho, seorang nahkoda muslim yang membawa pesan perdamaian dan toleransi dalam setiap pelayarannya ke berbagai tempat di dunia. Kali ini, saya ingin menulis kisah Cheng Ho ini dengan sudut pandang sedikit berbeda dari kisah-kisah mengenai Cheng Ho yang dapat kita baca dari berbagai ragam buku sejarah. Saya berkeinginan menulis kembali tentang si Cheng Ho ini, sebetulnya adalah karena untuk kesekian kalinya saya menyempatkan diri berkunjung ke Semarang, dan lagi-lagi Kelenteng peninggalan Cheng Ho mesti saya kunjungi, namanya Sam Poo Kong. Maka terbesitlah keinginan untuk kembali menuangkan kisah Cheng Ho ini lewat tulisan. Kalau tulisan ini lumayan panjang, karena memang butuh kedalaman untuk dapat meresapi kisah Cheng Ho ini. Menurut catatan sejarah, Cheng Ho lahir tahun 1371 di desa He Dai di provinsi Yunnan. Nama yang pertama kali diberikan orang tuanya pada saat lahir adalah Ma He. Ayahnya adalah seorang petugas desa, dan keturunan mereka berasal dari suku Hui yang dikenal kebanyakan adalah beragama Islam. Sewaktu muda, ayahnya si Cheng Ho (Ma He) itu sudah pernah naik haji, dan sejak kecil pun Cheng Ho sudah diajari bahasa Arab sampai mahir. Mereka adalah muslim yang taat dan berjiwa besar. Semasa Cheng Ho kecil, pemerintahan Cina dikuasai oleh bangsa Mongol. Namun pada masa itu rupa-rupanya telah terjadi banyak pemberontakan terhadap suku Mongol, dan salah satu yang terhebat adalah pemebrontakan Zhu Yuanzhang di sekitar tahun 1352. Akhirnya, pemberontakan tersebut membuahkan hasil juga, alhasil pada tahun 1368 Zhu Yuanzhang berhasil menguasai Ta-Tu, ibukota Mongol. Setelah berhasil mengusir penguasa Mongol, maka dengan segera Zhu Yuanzhang mengangkat dirinya menjadi kaisar baru, dan tentu saja ia juga mendirikan dinasti baru, yang kemudian diberi nama Dinasti Ming. Pada saat menjadi kaisar, Zhu Yuanzhang memiliki seorang anak bernama Zhu Di. Anak inilah yang kelak akan membuat banyak perubahan besar di Cina, bersama-sama dengan Ma He alias Cheng Ho. Bertahun-tahun kemudian, di usia yang masih sangat muda yaitu 21 tahun, Zhu Di sudah memimpin pasukannya untuk menyerang pusat kekuatan Mongol yang masih cukup kuat di Yunnan saat itu. Ia ditugasi ayahnya untuk maju pada setiap pertempuran hebat. Yunnan sendiri adalah tempat dimana Cheng Ho dan seluruh keluarganya tinggal. Pada penyerangan tersebut semua tentara dewasa Mongol dibunuh, lalu kemudian para tawanan anak-anak sebagian besar dikebiri dan diharuskan untuk ikut ‘wajib militer’ pada saat itu. Entah sebagai tentara Cina, ataupun harus menjadi pelayan di kekaisaran dan di istana. Salah seorang anak yang ditawan dan dilatih adalah si Cheng Ho ini. Kelak anak ini juga akan menjadi orang terlatih dan kepercayaannya Zhu Di, bersama-sama mengubah Cina dan meninggalkan nama besar untuk dikenang dunia. Cheng Ho dibawa ke rumah Zhu Di ketika ia baru berusia 12 tahun. Di rumah itu ia lantas dijadikan pelayan. Saat itu Zhu Di sudah berusia 23 tahun dan telah diangkat menjadi Pangeran Yen, lalu dialah yang memerintah di Provinsi Utara Cina di ibu kota Mongol terdahulu yaitu Ta-Tu, dan kemudian dalam perjalannnya ia mengganti nama kota tersebut menjadi Beijing. Kemanapun Zhu Di pergi, Cheng Ho selalu diajaknya. Cheng Ho bertumbuh semakin besar dan menjadi kepercayaannya Zhu Di. Ia ikut dalam banyak pertempuran dan belajar tentang banyak hal. Ia tumbuh menjadi pemuda tampan dan gagah perkasa. Seiring berjalannya waktu, banyak masalah mulai muncul dalam kehidupan Zhu Di. Masalah terberat adalah ketika pihak kekaisaran yang tidak lagi menyukai Zhu Di sangat ingin menangkapnya hidup-hidup. Hal ini terjadi ketika ayahnya yang mantan kaisar itu sudah meninggal dunia, dan yang menjadi kaisar setelahnya adalah saudara tirinya sendiri. Pada saat itu ia memang sudah mendapat informasi bahwa pihak istana mengincar untuk segera menangkap dirinya. Atas nasehat orang-orang kepercayaannya akhirnya ia menyamar sebagai pengemis dan gelandang untuk supaya dapat terhindar dari kejaran pasukan kekaisaran. Hal ini tidak bisa diterima akal sehatnya, dan tentu saja kejadian tersebut membuat amarah meluap dalam diri Zhu Di. Bayangkan saja ayahnya adalah mantan seorang kaisar, namun setelah ayahnya meninggal ia lalu diperlakukan seperti itu. Sikap hatinya tidak menerima diperlakukan seperti itu, ia pun berpikir untuk melakukan sesuatu. Singkat cerita ia pun mempersiapkan pasukannya secara diam-diam untuk menyerang kekaisaran. Cheng Ho sendiri, sebagai orang kepercayaan Zhu Di saat itu sudah mempersiapkan sekitar 800 laki-laki yang diperlengkapi dengan senjata dan baju besi. Mereka siap menyerang istana kapan saja diperintahkan. Namun rupa-rupanya persiapan mereka sudah tercium oleh Sang Kaisar baru, Zhu Yunwen. Kaisar baru itu pun tentu saja tidak tinggal diam, ia memerintahkan dan mengirim sekitar 500.000 pasukan untuk menumpas Zhu Di, saudara tirinya itu. Dalam perjalanan mereka menuju Beijing, cuaca dingin menjadi penghambat utama, dan oleh karena kurang persiapan maka ada banyak pasukan Zhu Yunwen yang mati kedinginan. Sesampainya mereka di Beijing, kedatangan mereka langsung saja disambut pasukan Zhu Diyang sudah siap sedia. Pasukan Zhu Di memenangkan pertempuran itu dengan mudah. Lima tahun kemudian Zhu Di menyerang ke Nanjing, dan dengan segala kekuatan yang pasukannya miliki ia kemudian berhasil merampas istana. Setelah perampasan itu ia lalu mengangkat dirinya menjadi kaisar dengan gelar Yong Le. Belum berapa lama menjadi kaisar ia langsung mengangkat orang-orang terdekatnya untuk menjadi abdi-abdi kepercayaan di istananya, termasuk Cheng Ho tentunya. Cheng Ho bahkan diangkat menjadi kepala rumah tangga istana. Sebetulnya nama Cheng Ho berawal dari pemberian nama oleh Zhu Di setelah dia menjabat kaisar. Sebelumnya nama yang dipakai tetaplah Ma He sampai suatu ketika nama Cheng Ho itu diberikan, tatkala Zhu Di sudah resmi menjadi kaisar. Kita semua mungkin hanya mengenalnya sebagai Cheng Ho saja. Cheng Ho dan Pelayarannya Dalam menjalankan pemerintahannya, maka Kaisar Zhu Di sangatlah menekankan prinsip persahabatan dengan bangsa-bangsa lain. Tetapi ia juga punya mimpi besar untuk dapat memperkenalkan Cina sampai ke ujung bumi. Salah satu ambisi besarnya adalah untuk memiliki armada laut yang besar serta kuat, dan armada tersebut kelak akan dikirim sampai ke ujung bumi, untuk menemukan benua-benua lain. Cheng Ho diangkat menjadi kepala komandan salah satu armada perangnya. Misi besar tersebut harus terlaksana. Cheng Ho juga dipilih untuk menuntaskan misi besar itu. Persiapan besar pun segera dilakukan. Atas komando dan pimpinan Cheng Ho maka pasukan Zhu Di dapat membuat sekitar 250 kapal harta, 1350 kapal prajurit, 1350 kapal tempur, 400 kapal barang, dan ratusan kapal kecil dan besar lainnya. Ini semua akan dipakai untuk mewujudkan mimpi besar Kaisar Zhu Di atau Yong Le tersebut. Setelah siap, dimulailah pelayaran pertama armada besar Cina itu. Dan tentu yang memimpin pelayaran itu adalah Laksamana Cheng Ho. Ia tak lupa juga mengikutsertakan para penulis, termasuk penulis hebat kenalannya. Penulis yang kelak akan mengabadikan apapun yang terjadi dalam perjalanan tersebut lewat tulisan-tulisannya. Penulis kenalan yang dipakai Cheng Ho menemani dirinya bernama Ma Huan. Nah, sebelum melakukan perjalanan panjang dan penuh resiko itu, Cheng Ho menyempatkan diri untuk kembali ke Yunnan demi menyambangi makam ayahnya di sana. Cheng Ho memang sangat mengagumi sosok ayahnya itu. Di atas nisan pada makam ayahnya, Cheng Ho pun menulis demikian, “…Ayah Ma tidak tertarik pada kekuasaan ataupun kedudukan. Ia puas hidup seperti orang kebanyakan. Juga berani dan tegas dalam kehidupan sehari-hari. Ketika ia menemukan mereka yang tidak beruntung, ia secara rutin menawarkan mereka perlindungan dan bantuan…” Setelah itu, ia langsung kembali untuk segera menyiapkan perjalanan panjang mengarungi samudera. Apa tujuan lain ekspedisi Cheng Ho ini sebetulnya? Banyak. Ada ambisi niaga, ekspansi diplomasi politik dan kebanggaan teknologi Tiongkok di bidang maritim, kedokteran, farmasi, pangan, tekstil dan keramik. Tetapi sebenarnya tujuan paling utama dan dhasyat dari Cheng Ho sendiri adalah “Bangsa-bangsa lain kami temui” seperti yang tertulis di atas prasastinya. Juga tentunya, “Budaya-budaya bangsa lain kami pelajari”. Akhirnya perjalanan pun dimulai. Kapal besar yang dinahkodai Cheng Ho itu memiliki panjang mencapai tak kurang dari 146 meter dan lebarnya sekitar 50 meter. Ukuran kapal tersebut hampir 7 kali lipat lebih besar dari kapal yang dipakai Vasco Da Gama, yaitu dengan panjang hanya sekitar 23 meter dan lebar tak lebih dari 5 meter. Di kapalnya Cheng Ho, telah disediakan juga 60 kamar khusus untuk para pengiring yang ikut, seperti orang-orang penting kerajaan termasuk juga buat para pejabat dan ‘duta besar’ bangsa lain yang ikut serta dalam pelayaran itu. Dalam alur perjalanannya, Cheng Ho ini telah menempuh tujuh ekspedisi maritim untuk menemukan benua-benua. Kebanyakan buku sejarah hanya mencatat nama penjelajah lain semisal Christopher Colombus dan Vasco da Gama. Padahal Cheng Ho juga sudah ada satu abad lebih dulu dari Colombus. Kapal Cheng Ho sepuluh kali lebih panjang dari kapal Colombus. Armada Cheng Ho seratus kali lebih besar dari armada Colombus. Dampak yang ditimbulkan juga berbeda. Ekspedisi Cheng Ho berbuah persahabatan dan pertukaran ilmu pengetahuan, sedangkan ekspedisi Colombus menularkan penyakit dan menimbulkan penjajahan. (Baca juga tulisan sejenis di sini:Potensi Budaya Dapat kita telusuri bahwa sejumlah kapal yang dibawa Cheng Ho turut bersamanya memang sangat besar dan sudah sangat siap. Ada kapal harta yang diperuntukkan bagi pejabat kerajaan, diperkirakan dapat menampung muatan seberat 7000 ton. Ada Kapal Kuda, kapal ini dipakai untuk mengangkut kuda bagi para pasukan berkuda, selain itu juga kapal ini membawa banyak barang-barang keperluan lainnya dalam perjalanan, termasuk upeti-upeti. Kapal Perbekalan juga turut dibawa. Ribuan ton makanan, daging, sayuran dan berbagai bahan makanan dibawa di kapal ini. Ada juga kapal prajurit yang tentu saja berisi prajurit tempur. Selain itu ada juga Kapal Tempur yang ikut serta, kapal ini berfungi menjaga semua armada bawaan Cheng Ho dari segala macam gangguan yang sekiranya muncul atau menghadang. Kapal Pengangkut Air membawa persediaan air bersih dan air minum untuk persediaan seluruh armada selama dalam perjalanan masuk dalam rombongan besar ini. Ada juga beberapa kapal dayung kecil yang turut ikut serta, berfungis sebagai kapal penarik bila nanti dibutuhkan. Untuk ikut bersamanya selama dalam perjalanan panjang itu, Cheng Ho juga tak lupa mempersiapkan bgeitu banyak orang. Ada sekitar 30.000 pelaut, ratusan pejabat Ming, 180 tabib, ahli feng shui, pembuat layar, pandai besi, tukang kayu, penjahit, navigator, pembuat peta, ahli perbintangan, koki, ahli tanaman, serta juga para penerjemah dengan berbagai latar belakang dan beragam agama. Lalu, berangkatlah mereka semua mengarungi samudera luas, siang dan malam berada di lautan lepas. Pelayaran yang dilakukan Cheng Ho ternyata tidak memakan waktu 1 bulan saja, bahkan setelah berbulan-bulan berlayar barulah mereka menemukan daratan pertama. Mereka mendarat pertama kali di Kerajaan Campa di Vietnam. Ini adalah diplomasi dan perdagangan pertama oleh armada Cheng Ho di belahan dunia selain Cina.Terjadilah perdagangan dan tukar menukar cindera mata. Hubungan diplomatik pun mulai terbangun. Mereka disambut hangat di sana. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan menuju dan sampai ke beberapa kerajaan lain, seperti di Kerajaan Siam, kemudian mereka juga singgah di Kelantan dan Pahang di Kerajaan Malaka. Setelah mengetahui bahwa wilayah di sekitar kerajaan Malaka banyak juga dihuni oleh orang Islam, Cheng Ho pun membantu mereka mendirikan beberapa Mesjid di sana. Bahkan ada beberapa awak kapal Cheng Ho yang kemudian tinggal menetap di Malaka oleh karena menikah dengan warga setempat, tentu ini semua atas seijin Cheng Ho. Dari Kerajaan Malaka, kini armada yang dipimpin Cheng Ho menuju Pulau Jawa di bagian Timur. Namun di Pulau Jawa ini, armada dan pasukan Cheng Ho mendapat sambutan tidak bersahabat. Ketika mereka merapat di bibir pantai, tanpa diduga mereka langsung diserang pasukan setempat. Usut punya usut ternyata saat itu sementara terjadi pertikaian hebat di wilayah yang mereka darati tersebut. Ada sekitar 170 orang awak kapal Cheng Ho yang mati terbunuh. Pada saat itu ada pertikaian antara pasukan Raja Wirabumi dan pasukan Raja Wikramawardhana. Karena kesalahpamahan tersebut Raja Wikramawardhana akhirnya meminta maaf kepada Cheng Ho, pada saat itu pasukannya mengira awak kapal Cheng Ho adalah pasukannya Raja Wirabumi. Setelah kapal Cheng Ho mendarat, ia dan awak kapalnya kembali melakukan perdagangan dan diplomasi. Cheng Ho menyebarkan agama Islam kepada rakyat setempat. Selanjutnya Cheng Ho meneruskan perjalanannya sampai mencapai kawasan Palembang. Di sana ia kemudian bertemu dengan keturunan Cina lainnya yang sudah terlebih dahulu menetap di sana selama beberapa generasi. Dari sana, Cheng Ho meneruskan perjalanan sampai ke Kerajaan Samudera Pasai di Aceh. Di Aceh ia bertemu orang-orang Islam yang sudah ada di sana sejak lama. Habis dari Aceh, Cheng Ho mengarungi lautan berbulan-bulan lamanya, sampai akhirnya tibalah dia di Kerajaan Ceylon (Srilanka). Ia mendirikan tugu di sana dengan tiga bahasa yaitu Cina, Tamil, dan Persia. Ini adalah simbol toleransi dan perdamaian. Setelah hampir setahun berlayar, Cheng Ho mencapai Calicut di India. Dari India Cheng Ho dan pasukannya bersiap-siap untuk kembali ke Cina melaporkan semua hasil perjalanan mereka kepada Kaizar Zhu Di. Setelah pelayaran pertama itu menuai sukses, Kaisar Zhu Di memerintahkan mereka untuk memulai pelayaran yang ke dua. Nah, pelayaran yang kedua ini dilakukan mereka dengan tetap menempuh jalur yang sama dengan pelayaran pertama. Pada tahun 1409 Cheng Ho dan pasukannya menyelesaikan pelayaran ke dua mereka. Di tahun yang sama tersebut mereka juga masih terus melanjutkan dengan pelayaran ke tiga, namun dengan rute yang tetap sama. Cheng Ho terus membina hubungan baik dan bersahabat dengan raja-raja di setiap kawasan yang ia kunjungi. Pada tahun 1411, ketika pelayaran ketiganya akan berakhir, ia menyempatkan diri menyerahkan patung Budha ke sejumlah tempat ibadah kerajaan-kerajaan Budha yang sempat ia singgahi. Ini tentu saja menunjukkan sikap Cheng Ho yang penuh toleransi dan penghargaan tinggi pada agama-agama lain, kendatipun ia sendiri adalah seorang muslim. Pulang ke Cina tahun 1411 tersebut, Cheng Ho dan orang-orangnya menulis lalu membukukan semua hasil perjalanan mereka. Catatan mengenai sejarah, geografi, adat istiadat, dan juga kebudayaan-kebudayaan bangsa lain dibukukan. Ada juga ratusan novel sudah dihasilkan di ibukota Beijing, padahal bangsa Eropa baru memulainya 30 tahun kemudian. Budaya berkembang pesat dalam pemerintahan kekuasaan Zhu Di. Cina semakin terbuka dan berkembang pesat. Zhu Di memang brilian. Ia juga yang memerintahkan pembangunan Kota Terlarang untuk menjadi area khusus kekaisaran, yang tetap bertahan sampai saat ini. Kaisar yang berpikiran maju ini juga memerintahkan untuk membangun kembali tembok Cina yang sudah sempat rusak karena serangan rakyat Mongol bertahun-tahun yang lalu sebelum mereka menguasai Cina. Ditengah-tengah usahanya Kaisar Zhu Di menyatukan wilayah-wilayah Cina, maka Cheng Ho dan pasukannya kembali melanjutkan ekspedisi ke empat mengarungi samudera raya pada tahun 1413. Pada pelayaran kali ini, Cheng Ho dan pasukannya berhasil mencapai kawasan baru yang berbeda dari perjalanan mereka sebelumnya, yaitu melintasi Laut Arab dan singgah di kota Hormuz di Iran. Setelah ekspedisi ke empat ini usai, Cheng Ho masih melanjutakannya dengan pelayaran yang ke lima. Pada pelayaran ini, ia dan pasukannya berhasil mencapai Pantai Swahili di Afrika. Setelah ekspedisi ke lima selesai, mereka semua kembali ke Beijing pada tahun 1419 dan menetap cukup lama tanpa ada pelayaran apapun. Setelah vakum cukup lama, Kaisar Zhu Di kemudian menugaskan Cheng Ho untuk melakukan ekspedisi paling besar dalam sejarahnya. Ia menghendaki Cheng Ho dan pasukannya mengelilingi seluruh dunia, tidak hanya pada rute-rute tertentu saja, seperti sebelum-sebelumnya. Cheng Ho menyanggupinya. Maka dengan sigap Cheng Ho mengumpulkan laksamana-laksamana handal dan utama di bawahnya, dan lalu ia membagi tugas buat mereka semua. Kali ini mereka akan berlayar secara berpencar untuk mencapai belahan dunia yang berbeda-beda. Ada 4 laksamana handal dan paling hebat yang dipilih Cheng Ho. Ada yang ditugasi berlayar ke Barat Laut, kemudian yang lain ditugaskan mengambil jalur Khatulistiwa Barat Daya, sementara laksamana yang lainnya lagi ditugaskan untuk pergi ke Samudera Hindia sampai ke Utara Afrika. Komando Utama tetap ada di tangan Laksamana Agung Cheng Ho. Setelah waktu yang sudah ditentukan tiba, Cheng Ho dan armadanya kembali melalui jalur pelayaran mereka yang biasa, sampai mencapai Mogadishu di Afrika.Setelah mencapai Samudera Hindia, Cheng Ho dan ketiga armada bawahannya berpisah jalan untuk menempuh jalur yang sudah ditentukan sejak awal. Dalam perjalanan kali ini banyak sekali hal baru yang mereka jumpai. Umpamanya, dalam perjalanan tersebut mereka menemukan penunjuk Bintang Selatan, yaitu Bintang Canopus dan lalu menemukan juga Bintang Crucis Alpha yang menjadi penunjuk Garis Bujur. Para kartografer dan ahli-ahli yang ikut dalam pelayaran itu juga mencatat serta melukiskan hewan-hewan khas yang mereka jumpai tatkala mendarat di Australia, hewan khas itu adalah Kanguru. Banyak hal-hal baru juga yang mereka catat dan dokumentasikan. Setelah ekspedisi ke enam usai mereka pun kembali ke Cina. Cheng Ho semakin bertambah tua usianya. Namun semangatnya tak pernah patah. Sepulangnya ke Cina, ternyata di Cina telah terjadi pergantian kaisar, dan Zhu Di tidak lagi menjabat. Kaisar yang baru tidak menghendaki adanya ekspedisi laut apapun. Padahal dalam hati Cheng Ho masih menyisahkan satu impian lagi, ia masih mau melakukan satu ekspedisi lagi sebagai ekpedisi ke tujuh dan yang terakhirnya. Lama ia harus menunggu sampai waktunya tiba. Pada tahun 1431, ketika usianya sudah semakin menua dan sudah lanjut usia, kesempatan itupun akhirnya dating juga. Ia dapat melakukan ekspedisi terakhirnya. Dalam ekspedisi terakhirnya ini Cheng Ho mengatakan kepada Ma Huan, penulis yang senantiasa menemani dirinya itu satu keinginan hati. Katanya kepada Ma Huan, “Dalam perjalanan terakhir ini, ada satu hal yang sangat ingin aku penuhi. Aku ingin melihat ka’bah untuk yang pertama dan terakhir kalinya….Aku ingin kita berlayar sampai ke negeri itu.” Tetapi ia lalu mengatakan kepada Ma Huan bahwa sebagai pemimpin yang bertanggungjawab ia tidak dapat meninggalkan kapal yang ia pimpin barang sedetik saja. Jadi ia tidak dapat meninggalkan kapal untuk turun pergi melihat ka’bah meskipun hatinya sangat ingin melakukan itu. Makanya ia membawa Ma Huan kali ini dengan tugas khusus untuknya. Cheng Ho mengatakan bahwa pada saat kapalnya mencapai Afrika dan akan kembali pulang ke Cina, ia bermaksud berlayar melewati Tanah Arab sekali lagi. Pada saat mencapai Arab ia menyuruh Ma Huan untuk pergi ke Mekkah dan melukiskan ka’bah bagi dirinya. Setelah berbulan-bulan berlayar Cheng Ho mencapai Swahili di Afrika. Dalam perjalanan pulang itulah dia kemudian menugaskan Ma Huan untuk pergi ke Mekkah dan melukiskan Ka’bah untuk dirinya. Di Mekkah, Ma Huan menulis dan menggambarkan kondisi kota tersebut, ia juga pergi ke Masjidil Haram dan menggambarkan ka’bah yang akan dipersembahkan kepada Laksamana Agung Cheng Ho ketika pulang nanti. Pada usia 62 tahun Cheng Ho meninggal dunia dalam perjalanan pulangnya dari ekspedisi terakhirnya. Ia dimakamkan di laut sebagaimana layaknya seorang pelaut besar dimakamkan. Sisa armada yang dipimpinnya kembali pulang ke Cina dengan hati bersedih karena baru saja kehilangan seorang pemimpin besar. Seorang laksamana agung. Setelah Cheng Ho meninggal, Cina dan kekaisaran Ming semakin menutup diri dari dunia luar. Catatan pelayaran dan banyak catatan penting peninggalan Kaisar Zhu Di dimusnahkan dan dibakar. Ini tentu menyebabkan dunia tak banyak mengetahui jasa besar Cheng Ho dan semua armada kapal yang dipimpinnya itu. Cheng Ho meninggalkan sejumlah peninggalan penting, baik bagi rakyat Cina maupun bagi seluruh dunia. Ia meninggalkan sebuah sistem navigasi, arah pelayaran, dan juga berbagai penemuan penting lainnya. Ia mewariskan sikap toleransi dan persahabatan antar bangsa. Peninggalan Cheng Ho di berbagai kawasan yang pernah disinggahi dan tinggali juga masih terus ada sampai sekarang. Mesjid-mesjid, Kelenteng, Kuil, prasasti-prasasti yang dibangunnya beberapa diantaranya bahkan masih ada sampai sekarang. Kebaikan hatinya, pengabdiannya yang luar biasa, ketulusan hatinya akan tetap tinggal di hati setiap mereka yang pernah mengetahui kisah hidupnya, perjalanannya dan semua ekspedisi hebatnya. Tujuh kali Cheng Ho berlayar bolak-balik dalam kurun waktu 1405-1432. Di tiap negeri ia mempelajari seluk-beluk budaya setempat. Menurut catatan hariannya, di Semarang ia terpesona menonton wayang kulit namun terkejut melihat keris di pinggang para pria. Di Surabaya ia terheran-heran melihat burung yang berbicara seperti manusia. Di Palembang dan Banda Aceh ia juga mendapatkan pengalaman budaya yang unik bagi dirinya. Ia juga mengamati kehidupan agama-agama. Ia memperkenalkan agama Islam, namun penuh toleran terhadap agama lain. Di berbagai tempat ia membangun rumah ibadah untuk agama-agama lain. Di Sri Lanka terdapat prasasti doa Cheng Ho yang lintas agama. Data Ekspedisi Cheng Ho antara lain dapat dibaca lengkap di buku setebal lima ratus halaman berjudul 1421—The Year China Discovered the World tulisan Gavin Menzies, seorang kapten kapal Inggris. Salah satu prasasti Di Liu – Chia – Chang tertulis demikian, “…Kami telah melintasi lautan luas dari 10.000 Li dan telah menyaksikan gelombang tinggi seperti gunung di lautan yang menjulang tinggi ke langit. Kami telah mengamati wilayah barbar yang jauh, tersembunyi dalam transparansi cahaya asap biru, sementara layar kapal kami, dengan angkuh membentang bagai awan. Siang dan malam melanjutkan perjalanan, cepat bagaikan bintang, melintasi ombak yang ganas itu…” —Michael Sendow— — (Dari berbagai sumber data)

Kutipan bijak

Seseorang yang tidak pernah bertanya adalah orang yang mengetahui banyak hal atau tidak tahu tentang apapun. ( Malcolm Forbes Sr.)

Yang tidak bisa dilakukan oleh nasihat, terkadang bisa dilakukan oleh teladan.. ( Anton L)

Banyak orang menjadi kaya dengan memperhatikan hal-hal sepele yang diabaikan orang lain. ( Henry Ford )

Membeli kekayaan tidak dengan menjual kebajikan, juga membeli kekuasaan tidak dengan menjual kebebasan. ( Benjamin Franklin)

Jangan berjalan di belakang saya, karena saya bukan pemimpin Anda. Janganlah juga berjalan di depan saya, karena saya belum tentu pengikut Anda. Tetapi berjalanlah di sisi saya dan jadilah sahabat saya.. ( Albelt Camus, 1896-1924)

Tujuan hidup adalah untuk menguji kematangan. ( Dick Werthimer )

Orang berjiwa kerdil tidak sudi mengampuni. Pengampunan adalah lambang kebesaran dan kejayaan seseorang. ( Mahatma Gandhi )

Optimis adalah sikap yang paling erat dengan kesuksesan dan kebahagiaan. ( Brian Tracy )

Ketika muda, saya mendapati bahwa 9 dari 10 hal yang saya lakukan gagal, oleh karena itu saya selalu mengerjakan 10 kali lebih banyak. ( Bernard Shaw )

Seseorang yang ingin melakukan segalanya sendirian, atau memonopoli pengakuan, takkan pernah menjadi pemimpin yang besar. ( Andrew Carnegie )

Kebanyakan dari kita tidak mensyukuri apa yang sudah kita capai atau miliki, tetapi kita selalu menyesali apa yang belum kita capai. ( Schopenhauer )

Kisah campur-campur

Bagian 1

Ronald dan Sherly sedang berjalan-jalan di Puri Indah. Tangan Sherly memegang tas tangan, Ronald melirik tas Sherly, katanya “Eh,Sher, siausin (1)“. “Ah,gapapa, daerah sini aman kok Ron, mei kuansi (2). Lantas keduanya melihat ada delman di dekat CNI. Ronald mengajak Sherly naik delman, Sherly ogah “Wo pu yau (3)” elaknya.

 

Bagian 2

Maya bingung dengan sms yang baru dia terima Sms itu mengatakan bahwa adiknya baru saja menabrak orang dan butuh uang untuk biaya operasi,kalau tidak disediakan uang sejumlah itu, adiknya akan dipenjarakan. Untung saat itu ada Budi yang mampir ke apartemenya.”Napa May, muka lo pucat banget?” tanya Budi. “Ini Bud, adik gua nabrak orang ,lalu perlu uang….” belum selesai omongan Maya,Budi sudah merebut Samsung dari tangan Maya lalu membaca sms yang dimaksud. “oooh..” kata Budi.

 

 

1.Siausin= hati-hati

2.Mei kuansi = tak apa-apa.

3.Wo pu yau = saya tidak mau

Persembahan kertas emas bagi leluhur Tionghoa


Source:
Warta Kota/
Seri Sejarahtaken from: many sources

 


Kertas Emas Bagi Leluhur

Jumat, 22 Juli 2011 WALAUPUN kematian merupakan hal alami dalam daur hidup setiap orang, sering kali ada anggapan bahwa kematian bukanlah hal yang menjadi bagian dari dunia anak-anak.

“Memang demikianlah halnya. Hidup mereka masih terbentang luas dengan segala pengalaman yang masih harus dialami dan dinikmati. Jarang sekali ada yang mencoba memahami atau menceritakan bagaimana seorang anak melihat dan mengalami peristiwa kematian,”- Gerda C Van der Horst van Doorn dalam bukunya Wim Terhorst en zijn vriend Sarip (Amsterdam: JJ Kuurstra. 1946), yang bercerita tentang seorang anak Belanda di Batavia yang menyaksikan upacara penguburan seorang China kaya. Cerita itu menarik karena sangat deskriptif. Marilah kita nikmati bersama.

… Lihatlah, di sana ada orang China yang akan dikubur. Musik duka yang aneh di telinga Wim lamat-lamat mulai terdengar. Di jalan, sanak-keluarga dan handai-taulan yang bermuka sedih berjalan perlahan dalam pawai duka yang sepintas lalu tampak meriah.

Di belakang orang-orang itu, empat orang mengusung breng-breng (semacam alat musik perkusi seperti gong). Dua orang lelaki berjalan di depan dengan breng-breng yang kecil diiringi oleh dua lelaki lagi dengan breng-breng yang lebih besar. Keempat lelaki itu berpakaian khas China yang disebut toa pao.

Rupanya orang kaya yang akan dikubur. Setelah pembawa breng-breng berlalu, tampak di belakang mereka dua orang yang membawa telong, lampion-lampion besar yang dibuat dari kain katun atau kertas.

Pastilah dalam hidupnya, orang yang meninggal itu aktif berorganisasi karena banyak sekali panji-panji perkumpulan yang berkibar dibawa orang dalam pawai itu. Suasana meriah bertambah lagi oleh kibaran bendera-bendera pemberian teman-teman akrab orang yang meninggal. Nama orang yang meninggal, pekerjaan, dan segala amal baik yang pernah dilakukannya tertera di setiap bendera.

Tidak ketinggalan tentunya ucapan belasungkawa dan nama orang yang memberi bendera itu, serta doa agar yang meninggal dapat beristirahat dengan tenang di alam baka.

Di kiri-kanan orang-orang yang mengusung breng-breng, telong, dan bendera-bendera duka itu, berjalan pelayat-pelayat yang menyebarkan carik-carik kertas berwarna keemasan. Hal ini dilakukan untuk menyenangkan arwah nenek moyang yang kadang-kadang masih berniat mengganggu perjalanan terakhir orang yang meninggal itu.

Orang Tionghoa Surabaya masa lalu


Source:
hurek.blogspot.com/
Seri Multi Kulturtaken from: www.hurek.blogspot.com

 


TIONGHOA SURABAYA MASA LALU

Serpenggal catatan Prof Han Hwie Siong
17 July 2011
Prof Dr Han Hwie-song belum lama ini menerbitkan memoar tentang masa kecilnya di kawasan pecinan Surabaya hingga sukses menjadi dokter dan menerima bintang Ridder in de Orde van Oranje Nassau dari pemerintah Kerajaan Belanda. Banyak hal menarik tentang pecinan Surabaya era 1950-an yang dituturkan Prof Han. Berikut petikannya:

Ketika saya masih menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universiteit van Indonesia di Surabaya (belakangan oleh Presiden Sukarno diubah namanya menjadi Universitas Airlangga), 1951, seingat saya jumlah penduduk Surabaya hanya sekitar 300 ribu jiwa saja. Padahal, saat ini, tahun 2011, penduduk Surabaya sudah berjumlah jutaan jiwa (sekitar empat juta jiwa).

Yang menarik, daerah pecinan masih tetap tidak berubah dan masih favorit bagi etnis Tionghoa untuk tinggal dan berdagang. Ini terbukti dari banyaknya toko-toko dan perusahaan-perusahaan dagang baik besar maupun kecil di daerah pecinan yang pada umumnya milik etnis Tionghoa.

Di pecinan Surabaya, ada dua pasar utama, yaitu Pasar Pabean dan Pasar Kapasan. Pasar Kapasan, walaupun lebih kecil daripada Pabean, merupakan pusat perdagangan emas dan perhiasan di Jawa Timur. Sebaliknya, Pasar Pabean merupakan pasar yang menjual barang-barang keperluan sehari-hari. Di dalam pasar ini terdapat banyak toko yang menjual barang pecah-belah, alat-alat rumah tangga, sembako, atau makanan-makanan Tionghoa seperti haisom atau teripang, jamur kering, ikan asin.

Saya tidak pernah mengunjungi pasar basahnya yang menjual ikan, daging, dan sebagainya. Tetapi pembantu rumah selalu pergi belanja ke Pasar Pabean karena lebih lengkap. Ada ikan bandeng, gurami, udang, kepiting, rajungan, ayam, daging sapi, babi, dan sebagainya.

Di Pasar Pabean juga ada tiga restoran yang sering saya kunjungi bersama teman-teman kuliah saya, Bhe Kian Ho dan Sie Hong Ik, yang masing-masing membawa teman perempuannya. Pasar Pabean juga merupakan pusat perdagangan palawija Jatim. Komoditas ini oleh perusahaan-perusahaan Belanda diekspor ke berbagai negara. Ada beberapa teman saya yang orangtuanya berdagang palawija di sekitar Pasar Pabean.

Pasar Bong dan Pasar Kapasan dahulu menjadi pusat penjualan tekstil. Sehingga, tidak salah kalau orang mengatakan bahwa pecinan dahulu adalah pusat perdagangan Surabaya.

Kantor Kamar Dagang Tionghoa, yang pengaruhnya besar di Surabaya dengan akronim P3-CH, terletak di Jalan Kembang Jepun. Kantor-kantor koran Tionghoa baik yang peranakan (Pewarta) maupun yang totok (Ta Kung Siang Pao dan Yu Yi Pao) berada di daerah pecinan. Sedangkan koran Belanda yang pertama, Soerabajasc Handelsblad, berdomisili di Pasar Besar atau Aloon-Aloon Straat.

Setelah jam 18.00 dan kantor-kantor sudah tutup, di muka kantor P3-CH beroperasi berbagai warung makan Tionghoa. Setiap warung makan memiliki kekhasan masing-masing. Mulai dari mi pangsit, kwetiao, masakan ikan, babi, dan sebagainya. Berbagai merek mobil diparkir di depan warung-warung tersebut. Sebab, walaupun cuma warung makan, kelezatan masakannya tidak kalah dengan restoran, saya bersama saudara-saudara dan teman-teman sering makan di sana.

Toko-toko buku yang besar juga berada di Kembang Jepun, antara lain Toko Buku Ta Chen Soe Tji yang menjual buku-buku cerita dan pelajaran bahasa Tionghoa. Saya masih ingat bersama kakak atau teman perempuan saya sering membeli buku Mandarin antara lain karangan Ba Jin, Bing Xin, Lu Xin, dan Kojen (komik strip terbitan Hongkong yang saat itu sangat digemari) dan buku-buku pelajaran untuk adik-adik saya.

Pemilik toko buku ini orang Shanghai. Di Surabaya, yang saya ketahui, ada tiga toko buku Tionghoa. Berbeda dengan di Eropa, di Asia Tenggara pada umumnya orang-orang totok menggunakan bahasa Tjengim, Kuoyu atau Mandarin, sedangkan di Eropa dan Amerika Utara yang biasa digunakan adalah berbagai dialek, terutama Kanton (Guangdong).

Buku-buku Barat haya dapat diperoleh di tokot-oko buku Barat seperti Van Dorp dan Kolff di Tunjungan. Saya suka membaca dan mengoleksi buku-buku Barat antara lain tentang Perang Dunia II, cerita klasik Barat, cerita klasik Tiongkok, dan filsafat. Juga buku-buku tulisan Bung Karno, Mao Zedong, dan buku-buku politik lainnya.

Li Lihua
Li Lihua, artis Mandarin terkenal yang digandrungi warga pecinan Surabaya tempo dulu.Sumbwer: www.hurek.blogspot.com

Ketika terjadi peristiwa Gerakan 30 September 1965, buku-buku tersebut dibakar istri saya. Sementara buku-buku lain disimpan dalam dua peti kayu jati besar dan disimpan di rumah mertua saya. Di pecinan Surabaya terdapat dua bioskop Tionghoa, Shin Hua di Bongkaran dan Nan King Theatre di dekat Pabean. Bioskop-bioskop ini biasa memutar film-film dari Shanghai, kemudian film-film Hongkong. Ini disebabkan setelah berdirinya Republik Rakyat Tiongkok, banyak produser, pekerja film, dan artis terkenal yang melarikan diri ke Hongkong. Dulu kami mengenal artis-artis Hongkong terkenal seperti Li Li-hua, Wang Tanfeng, Chou Sian, Li Sianglan, Auwyang Shi Fei.

Setiap bulan sekali atau dua kali saya bersama calon istri pasti nonton di Shinhua Theatre. Menurut saya, masa pacaran yang paling menyenangkan adalah menonton bioskop, makan di restoran. Dan, yang terutama, ngobrol dengan tenang tanpa gangguan, sehingga kita dapat lebih bebas mengutarakan kasih sayang kita. Dengan demikian, kita dapat lebih mengenal sifat masing-masing yang menurut saya sangat penting dalam membangun dan membina keluarga kelak.

Sekolah-sekolah Tionghoa baik sekolah dasar maupun sekolah menengah bertebaran di Surabaya. Sekolah yang terkenal pada masa itu ialah Sin Hwa High School yang terletak di Jl Ngaglik, Chung Hua Chung Shueh di Jl Baliwerti, Khai-Ming Chung Hsueh di Jl Kalianyar, Chiao Chung di Jl Pengampon, dan Chiao Lian Chung Hsueh di Jl Undaan.

Kebanyakan sekolah-sekolah Tionghoa ini pro-RRT. Hanya Chiao Lian yang berhaluan kanan dan pro-Taiwan. Walaupun demikian, banyak murid-muridnya ketika lulus meneruskan studinya di RRT, sehingga orientasi politiknya tidak mutlak pro-Taiwan.

Setiap tahun pada hari nasional RRT, tanggal 1 Oktober, diselenggarakan pertandingan atletik antarsekolah Tionghoa se-Kota Surabaya. Pertandingan tersebut biasanya diadakan di lapangan sepak bola Tambaksari dan berlangsung selama beberapa hari. Suasananya meriah dan ramai. Sekolah menengah Chiao Lian tidak ikut dalam pertandingan atletik ini karena orientasi politik pimpinan sekolah dan guru-gurunya berkiblat ke Taiwan.

Di pecinan Surabaya juga terdapat berbagai toko yang menjual kelontong, P&D, sampai toko obat Tionghoa dan apotek. Juga terdapat hotel-hotel khusus untuk orang-orang Tionghoa. Di Jl Bakmi saja ada tiga hotel, yaitu Grand Hotel yang terbesar, Hotel Nan Zhou untuk orang-orang Hokkian, dan Hotel Hai Yong Zhou yang kebanyakan tamunya orang-orang Hakka.

Di Jl Kapasan ada dua hotel, yaitu Hotel Ganefo dan Hotel Hollywood, serta beberapa losmen. Hotel Hai Yong Zhou lokasinya di sebelah sekolah Chiao Nan. Hotel ini didirikan orang-orang Hakka. Mungkin dulu di sekitar Jl Bakmi penghuninya banyak orang Hakka atau berasal dari Provinsi Guangdong.

Hotel-hotel ini setiap hari ramai dikunjungi para pedagang Tionghoa dan tamu-tamu dengan keperluan lainnya. Banyaknya hotel di daerah tersebut membuktikan ramainya perdagangan di pecinan Surabaya pada era 1950-an.

Restoran-restoran terkenal di pecinan Surabaya yang saya ingat dalah Kiet Wan Kie, Tai Sie Hie, Nan Yuan dan beberapa lagi di dalam Pasar Pabean. Di samping itu, banyak terdapat warung-warung yang menjual bakmi pangsit, bakwan, hiwan, dan sebagainya.

Di luar pecinan juga terdapat banyak restoran besar dan menengah. Restoran peranakan yang terkenal adalah Hoenkwee Huis dan Helendoorn yang keduanya berlokasi di Tunjungan. Restoran-restoran Tionghoa biasanya milik orang-orang Guangzhou (Kanton). Kelezatan masakan orang-orang Kongfu memang sangat terkenal di dunia. Di samping itu, ada juga restoran gagrak Shanghai yang bernama 369 atau San Lo Jiu. Saya tidak pernah mendengar adanya restoran Sechuan di Surabaya.

Biasanya, setiap hari Minggu ada pesta perkawinan anak-anak orang kaya di restoran-restoran besar yang sangat ramai. Hiburannya musik Mandarin yang hingar-bingar dari Hongkong dan Shanghai. Jarang sekali diputar lagu-lagu Barat atau musik live seperti sekarang.

Teman saya, Chai Su-rung, adalah putra pemilik Restoran Tai Sie Hie yang terkenal di Surabaya. Sebelum saya meninggalkan Indonesia untuk huiguo, saya dan istri sempat makan di restoran ini. Saya memesan roti goreng ham yang merupakan favorit saya.

Daerah pertokoan bovenstad yang elit dan menjadi tempat belanja favorit orang-orang kaya Surabaya tempo doeloe terletak di Tunjungan, Simpang, Palmenlaan (Panglima Sudirman, Red), dan Tegalsari. Kawasan ini bisa langsung terhubung ke Jl Raya Darmo, yang merupakan tempat tinggal orang-orang Belanda pegawai tinggi pemerintah atau pegawai tinggi perusahaan besar Belanda.

Daerah pertokoan yang paling ramai adalah Tunjungan. Di sini adaToko Aurora dan Tjijoda. Yang terakhir kepunyaan orang Jepang. Konon kabarnya, Toko Tjijoda adalah sarang mata-mata Jepang. Banyak dari mereka turut memimpin tentara Jepang ketika Jepang menyerbu Hindia Belanda. Kedua toko ini adalah mal zaman dulu.

Setelah Perang Dunia II, di Tunjungan ada dua toko Tionghoa yang terkenal, yaitu Toko Piet dan Toko Nam, yang bisa menyaingi kedua toko kepunyaan Belanda dan Jepang tadi. Orang Tionghoa yang tinggal di pecinan jarang belanja di Tunjungan karena bisa membeli barang-barang di Kapasan dan Kembang Jepun. Kualitas barang-barangnya sama, tapi harganya lebih murah.

Kalau kita ingin menonton film-film Barat, kita harus keluar dari pecinan. Metropole Theatre berada di Pasar Besar, Luxor di seberangnya, Bioskop Rex di Tegalsari, Maxim di Palmenlaan, dan Capitol Theatre di Kranggan.

Tempat-tempat hiburan malam, yang umumnya untuk orang-orang kulit putih, berada di Tunjungan, Simpang, Palmenlaan, dan Tegalsari. Yang masih saya ingat Simpang Club, tempat fine dining, berdansa, dan menonton konser musik Barat. Bangunan klub ini dengan arsitektur kolonial masih berdiri sampai sekarang.

Pada masa itu tidak setiap orang diperkenankan masuk ke dalam klub tersebut. Hanya pegawai-pegawai Belanda yang diperkenankan masuk. Tapi, setelah Indonesia merdeka, Simpang Club dapat dikunjungi masyarakat umum, asalkan punya uang untuk membayar. Menonton pertunjukan di sini kita harus berpakaian rapi. Beda dengan menonton pertunjukan kesenian di pecinan.